RADAR BANYUWANGI – Sebanyak 1.015 anak di Banyuwangi tercatat pernah terdampak kasus keracunan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Angka tersebut merupakan akumulasi tiga kejadian yang berlangsung sejak program nasional itu mulai berjalan di Bumi Blambangan. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi memastikan beberapa bulan terakhir hingga saat ini tidak ada laporan kasus keracunan baru terkait MBG.
Data tersebut terungkap dalam rapat koordinasi Pemkab Banyuwangi bersama sejumlah satuan terkait yang digelar di Hotel Aston Banyuwangi, Rabu (16/9).
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat menyebut, ribuan anak yang tercatat terdampak bukan merupakan kasus baru. Data tersebut merupakan catatan kejadian yang telah berlangsung sebelumnya.
Sebaran kasusnya terjadi di tiga lokasi. Sebanyak 472 siswa MAN 1 Banyuwangi tercatat terdampak. Kemudian 410 anak di Kecamatan Licin, serta 133 anak di Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro.
“Ini merupakan data akumulasi dari awal program MBG berjalan. Ada tiga kali kejadian keracunan di Banyuwangi yang sudah lewat. Kondisi beberapa bulan terakhir sampai hari ini aman,” ujar Amir.
Bukan Sekadar SOP di Atas Kertas
Meski situasi terkini relatif kondusif, Dinkes Banyuwangi meminta seluruh pengelola dapur MBG tidak lengah. Standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan harus dijalankan secara konsisten pada setiap tahapan pengelolaan makanan.
Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat harus dilakukan dengan memperhatikan standar kebersihan dan keamanan pangan.
Menurut Amir, SOP tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif yang hanya dipenuhi untuk memenuhi persyaratan. Pengelola dapur harus memastikan prosedur tersebut benar-benar diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Langkah evaluasi dan pembekalan regulasi juga telah dilakukan. Dinkes Banyuwangi memberikan pelatihan khusus bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman pengelola dapur mengenai keamanan pangan.
Penguatan tersebut menjadi penting karena makanan dalam program MBG dikonsumsi dalam jumlah besar oleh anak-anak. Setiap celah dalam proses pengolahan maupun distribusi perlu diantisipasi sedini mungkin.
Kolaborasi Jadi Kunci
Ketua Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD Gemas) Banyuwangi Sugiarto mengatakan, pencegahan kejadian serupa membutuhkan pengawasan yang dilakukan secara bersama-sama.
Menurut dia, persoalan keamanan pangan tidak bisa ditangani secara parsial oleh satu pihak. Pengelola dapur perlu membangun kolaborasi sekaligus memperkuat mitigasi terhadap berbagai potensi masalah sejak berada di dapur pengolahan.
“Untuk menghindari kasus serupa, kuncinya ada pada kolaborasi dan mitigasi persoalan di dapur. Antarpengelola harus saling mengontrol secara ketat agar setiap potensi masalah terdeteksi lebih awal dan tidak terlambat diantisipasi,” tandas Sugiarto.
Catatan 1.015 anak terdampak menjadi bagian dari evaluasi perjalanan pelaksanaan MBG di Banyuwangi. Di sisi lain, tidak adanya laporan keracunan baru dalam beberapa bulan terakhir menjadi perkembangan kondisi terkini yang disampaikan Dinkes.
Ke depan, konsistensi penerapan keamanan pangan menjadi perhatian utama. Bukan hanya memastikan makanan bergizi tersedia bagi anak-anak, tetapi juga memastikan makanan tersebut aman dikonsumsi sejak bahan baku dipilih hingga tiba di tangan penerima manfaat. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin