Gol pembuka City lahir dari kesalahan fatal penjaga gawang Arsenal, Kepa Arrizabalaga. Ia gagal mengantisipasi umpan silang Rayan Cherki tepat di menit ke-60, yang kemudian dimanfaatkan O’Reilly dengan sundulan jarak dekat.
Momentum sepenuhnya berpihak kepada City. Hanya berselang empat menit, O’Reilly kembali mencatatkan namanya di papan skor setelah menyambut umpan matang dari Matheus Nunes. Gol kedua tersebut memicu selebrasi penuh emosi dari pelatih Pep Guardiola di tepi lapangan.
Arsenal sebenarnya berusaha bangkit. Riccardo Calafiori sempat mengenai tiang gawang, sementara Gabriel Jesus juga nyaris mencetak gol lewat tembakan yang membentur mistar. Namun, ketangguhan lini belakang City memastikan keunggulan tetap terjaga hingga peluit akhir.
Kemenangan ini menjadi trofi ke-19 bagi Guardiola selama satu dekade masa kepelatihannya di Manchester City, sebuah pencapaian luar biasa yang semakin mengukuhkan dominasinya di sepak bola Inggris.
Sebaliknya, hasil ini menjadi pukulan telak bagi pelatih Mikel Arteta dan skuad Arsenal. Mereka datang ke final dengan ambisi besar mengakhiri puasa gelar enam tahun sekaligus memburu quadruple bersejarah.
Namun, kekalahan di Wembley justru memperpanjang label “nyaris juara” yang melekat pada Arsenal, sekaligus memunculkan tanda tanya besar terkait konsistensi mereka hingga akhir musim.
Di kompetisi Liga Inggris, Manchester City saat ini masih tertinggal sembilan poin dari Arsenal. Meski demikian, pasukan Guardiola memiliki satu pertandingan lebih banyak untuk dimainkan, serta akan menjamu Arsenal di Etihad Stadium bulan depan, laga yang berpotensi menjadi penentu arah perburuan gelar. (*)
Editor : Niklaas Andries