Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenaikan BI-Rate dan Kelangsungan UMKM

T
Oleh: Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi Ekonomi FISIP Universitas Airlangga
Oleh: Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi Ekonomi FISIP Universitas Airlangga

Advertisement

RADARBANYUWANGI.ID - Imbas kenaikan suku bunga BI-Rate tentu telah berupaya diredam pemerintah. Tetapi, sejauhmana upaya yang dikembangkan pemerintah berjalan efektif, tentu masih harus dikaji secara mendalam. Pasca Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen pada Juni 2026, bisa diprediksi dampaknya akan banyak menekan perkembangan sektor riil, terutama Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Kenaikan suku bunga BI-Rate yang ketiga kalinya dilakukan Bank Indonesia dalam kurun waktu sebulan, dengan total kenaikannya mencapai 100 bps, terpaksa dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar di tengah tetap tingginya ketidakpastian global. Meski dalam kenyataan, kebijakan Bank Indonesia terbukti mampu meredam laju pelemahan nilai tukar rupiah. Tetapi, bagi pelaku UMKM kenaikan suku bunga BI-Rate menimbulkan tekanan yang berlapis. Selain menghambat perkembangan UMKM, imbas kenaikan suku bunga acuan BI berpotensi mempersempit margin keuntungan, menekan penyerapan tenaga kerja, hingga meningkatkan risiko kredit bermasalah di sektor UMKM.

Beban Pasca Kenaikan

Advertisement

Di tengah kondisi penurunan daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi nasional yang sdang tidak baik-baik saja, para pelaku UMKM umumnya menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tidak sekali-dua kali pelaku UMKM yang kolaps gara-gara kehilangan pembeli. Kini, setelah Bank Indonesia menaikan suku bunga acuan, bagi pelaku UMKM ibaratnya adalah sudah jatuh ketimpa tangga.

Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate ini secara otomatis akan berdampak langsung pada penyesuaian suku bunga dasar kredit di perbankan, termasuk Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang dikenal sebagai urat nadi pembiayaan segmen akar rumput. Berbeda dengan korporasi besar, di mana kenaikan biaya modal mungkin masih bisa diakomodasi efeknya melalui penyesuaian strategi bisnis secara makro. Namun, bagi para pelaku UMKM dampaknya berbeda. Kenaikan suku bunga bank, baik kredit komersial maupun suku bunga Kredit Usaha Rakyat/KUR seringkali berisiko meningkatkan beban cicilan bulanan yang harus disisihkan dari omzet harian.

Pertama, biaya operasional sehari-hari bisa dipastikan akan membengkak. Pelaku usaha yang mengandalkan Kredit Modal Kerja (KMK) harus merelakan sebagian besar laba kotor untuk menutupi biaya bunga. Para pelaku UMKM tidak lagi leluasa untuk mengaur pemasukan usahanya, karena sebagian besar akan dialokasi untuk membayar cicilan utang yang naik.

Advertisement

Kedua, ekspansi UMKM yang ingin mengembangkan pangsa pasar bisa dipastikan akan tertunda. Rencana UMKM untuk menambah jumlah gerai baru, membeli mesin produksi tambahan, atau menambah variasi produk mau tidak mau harus dibatalkan atau ditunda karena bank menjadi lebih selektif dan mematok biaya modal yang tinggi. Alih-alih membangun gerai baru, bukan tidak mungkin terjadi pelaku UMKM justru kolaks karena tidak sanggup menghadapi kenaikan cicilan yang mereka tanggung.

Ketiga, penurunan daya beli masyarakat. Berbagai produk UMKM yang ditawarkan di pasar, akibat kenaikan suku bunga niscaya akan menekan daya beli masyarakat luas. Ketika konsumen mengerem pengeluaran sehari-hari akibat daya beli turun, maka otomatis omzet UMKM pun seketika akan berkurang. Akibat inflasi, masyarakat tentu akan berpikir sekian kali dulu sebelum mengeluarkan uangnya yang makin tipis. Para pelaku UMKM besar kemungkinan akan mengalami dilema. Jika mereka membebankan seluruh kenaikan biaya produksi ke harga jual, maka pelaku UMKM akan berisiko kehilangan pelanggan. Sebaliknya, jika harga jual produk tetap, margin keuntungan pelaku UMKM niscaya akan habis tergerus biaya bunga cicilan utang yang harus mereka bayar di bank.

Jalan Keluar

Dalam kondisi ekonomi yang serba tidak pasti, harus diakui tidak banyak pilihan yang dapat diambil pelaku UMKM. Membantu memberdayakan UMKM harus diakui membutuhkan dukungan pemerintah. Pemerintah harus hadir melalui penyalurkan berbagai subsidi bantuan sosial untuk membantu memperpanjang daya tahan masyarakat. Bagi pelaku UMKM yang banyak bergerak di tingkat akar rumput, mereka membutuhkan dukungan yang benar-beanr tepat sasaran, seperti subsidi bunga lanjutan pada program KUR. Percepatan realisasi anggaran belanja pemerintah juga sangat penting untuk memompa kembali perputaran uang di sektor riil agar daya beli masyarakat kembali bergairah.

Advertisement
Editor : Ali Sodiqin
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tampo Fair 2026 Jadi Panggung UMKM dan Kreativitas Warga Banyuwangi

Tampo Fair 2026 Jadi Panggung UMKM dan Kreativitas Warga Banyuwangi

Tampo Fair 2026 di Desa Tampo Cluring hadirkan 68 stand UMKM, layanan sosial, dan semangat membangun kemandirian ekonomi berbasis desa.

SAMARA 2026 Bondowoso Catat Transaksi UMKM Rp 900 Juta, Ekonomi Syariah Makin Kuat

SAMARA 2026 Bondowoso Catat Transaksi UMKM Rp 900 Juta, Ekonomi Syariah Makin Kuat

SAMARA 2026 Bondowoso mencatat transaksi UMKM Rp 900 juta dan menarik 22 ribu pengunjung untuk memperkuat ekonomi syariah.

Bukan Sekadar Pasar Minggu, Sunday Market Kaligondo Jadi Ruang UMKM dan Layanan Publik

Bukan Sekadar Pasar Minggu, Sunday Market Kaligondo Jadi Ruang UMKM dan Layanan Publik

Sunday Market Desa Kaligondo Banyuwangi digelar bergilir antardusun untuk menggerakkan UMKM, ekonomi warga, dan layanan publik.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer