Kawah Ijen Masih Tutup, Jalur Utara Macet Horor, Okupansi Hotel Banyuwangi Anjlok

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 23:30 WIB
Okupansi hotel Banyuwangi turun hingga 10 persen akibat penutupan Kawah Ijen dan kemacetan parah di jalur Banyuwangi Utara. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Okupansi hotel Banyuwangi turun hingga 10 persen akibat penutupan Kawah Ijen dan kemacetan parah di jalur Banyuwangi Utara. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Penutupan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen pascakebakaran hutan mulai memukul keras bisnis pariwisata Banyuwangi. Okupansi sejumlah hotel dilaporkan turun 5 hingga 10 persen sepanjang Agustus hingga September, sementara kemacetan parah di jalur Banyuwangi Utara semakin memperberat tekanan terhadap industri wisata.

Dampak tersebut terasa karena Kawah Ijen selama ini menjadi salah satu magnet utama kunjungan wisatawan ke Banyuwangi. Ketika destinasi unggulan itu belum bisa menerima wisatawan, sebagian rencana perjalanan ikut berubah dan berimbas pada tingkat hunian hotel.

Kabid Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Ainur Rofiq membenarkan adanya penurunan okupansi hotel di sejumlah kawasan.

“Beberapa hotel mengalami penurunan okupansi sekitar 5 hingga 10 persen akibat dampak langsung dari kasus kebakaran dan penutupan Ijen ini,” ungkap Rofiq, Selasa (16/9).

Meski demikian, penutupan Ijen belum membuat aktivitas pariwisata Banyuwangi berhenti total. Wisatawan domestik maupun mancanegara yang sebelumnya telah menjadwalkan kunjungan tetap datang, tetapi harus menyesuaikan rute perjalanan.

Sejumlah wisatawan kemudian diarahkan menuju destinasi alternatif yang tersebar di berbagai wilayah Banyuwangi. Perubahan rute itu menjadi salah satu cara pelaku wisata untuk mempertahankan aktivitas kunjungan di tengah belum beroperasinya Ijen.

Belum Ada Kepastian Ijen Dibuka

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai tanggal pembukaan kembali Kawah Ijen untuk wisatawan. Disbudpar masih menunggu hasil kajian berkala dan rekomendasi resmi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

“Kapan akan dibuka, kami masih menunggu hasil kajian berkala dan rekomendasi resmi dari pihak BKSDA,” jelas Rofiq.

Harapan agar Ijen segera dibuka kembali bukan semata berkaitan dengan arus wisatawan. Di balik kawasan tersebut terdapat rantai ekonomi masyarakat yang cukup panjang.

Mulai penambang belerang, pemandu wisata, agen perjalanan, pengemudi, hingga pelaku usaha di sekitar destinasi ikut bergantung pada aktivitas wisata Ijen.

Karena itu, semakin lama penutupan berlangsung, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha wisata untuk menjaga perputaran ekonomi.

Paket Wisata Dirombak, Rute Selatan Jadi Pilihan

Tekanan terhadap sektor pariwisata semakin kompleks karena persoalan lain muncul di jalur Banyuwangi Utara. Kemacetan parah membuat perjalanan wisatawan menuju sejumlah destinasi di kawasan tersebut menjadi lebih sulit diprediksi.

Pelaku usaha perjalanan pun harus bergerak cepat. Desi, salah seorang pemandu wisata (tour guide), mengatakan kombinasi penutupan Ijen dan kemacetan di wilayah utara membuat agensinya melakukan perubahan besar terhadap paket perjalanan.

Wisatawan yang sebelumnya diarahkan ke kawasan utara kini lebih banyak ditawarkan destinasi di Banyuwangi Selatan. Kawasan tersebut dinilai relatif lebih aman dari persoalan kemacetan sekaligus tidak terdampak langsung penutupan Ijen.

“Wisatawan kami arahkan ke destinasi di wilayah Banyuwangi Selatan yang relatif aman dari kemacetan dan tidak terdampak penutupan Ijen,” kata Desi.

Sementara untuk perjalanan menuju kawasan utara yang tetap harus dilakukan, pelaku wisata mencari skema alternatif untuk mengurangi waktu tempuh.

“Untuk rute utara yang tetap dipaksakan berjalan, kami akali dengan sistem loading menggunakan sepeda motor,” pungkasnya.

Situasi tersebut menunjukkan bagaimana pelaku pariwisata Banyuwangi kini harus beradaptasi dengan dua tekanan sekaligus: destinasi utama yang belum kembali beroperasi dan akses menuju sejumlah destinasi yang terganggu kemacetan.

Bagi industri perhotelan, pemulihan okupansi sangat berkaitan dengan kembali normalnya arus wisatawan. Sementara bagi pelaku wisata di lapangan, diversifikasi destinasi dan perubahan rute menjadi strategi sementara sembari menunggu kepastian pembukaan kembali Kawah Ijen. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
okupansi hotel Banyuwangi hotel Banyuwangi kemacetan Banyuwangi Utara kawah ijen ditutup pariwisata banyuwangi