
RADAR BANYUWANGI - TWA (Taman Wisata Alam) Kawah Ijen menuju ecotourism. Konsepnya sedang dirancang. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sedang menggodok tata kelolanya. Bersama Pemprov Jawa Timur. Ecotourism menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung. Seperti apa konsepnya?
Tidak banyak bocoran yang saya terima. Tapi informasi yang sedikit itu cukup menyentak. Khususnya bagi saya. Atau, bahkan, juga akan dirasakan oleh mereka yang sudah telanjur jatuh cinta pada Ijen. Mendakinya berkali-kali. Berlama-lama di kawahnya.
Konsep baru wisata Ijen bakal menghadirkan suasana berbeda. “Lewat konsep itu, terdapat pemisahan jalur serta titik aktivitas wisatawan dan penambang tradisional,” papar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim Evy Afianasari, dilansir Jawa Pos (14/09/26).
Soal titik aktivitas tidak dibahas dalam tulisan ini. Karena hal itu terlalu teknis. Dan, persoalan teknis itu seyogianya bisa diselesaikan dengan mudah, cepat, dan tepat. Kuncinya adalah peningkatan koordinasi dengan para pihak. Buatkan aturan yang jelas. Siapa saja yang boleh masuk ke area “dapur” belerang tersebut. Dan, ini yang terpenting, ada petugas khusus yang berjaga. Halau siapa pun yang berusaha masuk ke area itu. Kecuali penambang belerang.
Pisah Jalur
Bila terwujud, kelak, suasana wisata ke Ijen akan berubah signifikan. Wisatawan dan penambang belerang akan mendaki Kawah Ijen di jalur berbeda. Pun turunnya, tentu. Tidak seperti sekarang. Wisatawan dan penambang berbaur. Wisatawan dan penambang belerang mendaki dan menuruni jalur yang sama.
Bahkan, di beberapa spot tertentu, wisatawan harus berhenti. Mengalah. Menepi. Memberi jalan bagi para penambang yang sedang memikul 50 kg – 80 kg belerang batangan. Membiarkan mereka lewat duluan. Sebab medan jalannya sempit. Berat pula kondisinya.
Bagi pengunjung harus siap-siap kehilangan spot indah selain pemandangan kawah –lengkap dengan blue fire (api biru ajaib)– dan sunrise yang sedang memandikan kota Banyuwangi. Spot indah itu adalah pemandangan para penambang belerang tradisional berjalan. Bahkan, sebagian sambil lari-lari kecil. Padahal, beban seberat 50 kg – 80 kg belerang batangan sedang bertengger di pundaknya. Tepatnya, di dua keranjang yang bergelantungan diantara pundaknya.
Lewat beberapa cerita kawan dan unggahan video di medsos, memang tampak di sebuah spot pendakian Ijen sejumlah wisatawan terpaksa harus berhenti. Berdesakan dan harus memberi jalan bagi penambang yang sedang memikul puluhan kilogram belerang.
Pemandangan itu, memang, membuat sejumlah wisatawan terenyuh. Merasa iba. Tersentuh. Melihat begitu beratnya derita para penambang belerang. Berjalan berkilo-kilometer dengan memanggul puluhan kilogram belerang di atas medan jalan yang tidak biasa. Naik dan turun. Becek pula di kala hujan.
Tapi, wisatawan yang lain bisa memaklumi. Bahwa berjalan memikul beban berat itu fakta. Dan, itu memang menjadi pekerjaan sehari-hari para penambang belerang. Sudah dilakukan selama puluhan tahun. Bahkan, sebagian malah menjadi pekerjaan turun-temurun. “Mau diapakan lagi kalau tidak ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan,” begitu kira-kira komentar wisatawan apa adanya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





