Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hangatnya Kopi di Puncak Ijen, Warung Sederhana yang Tak Pernah Sepi

M Ksatria Raya • Selasa, 23 Juni 2026 | 02:00 WIB
MELEPAS LELAH: Wisatawan lokal maupun mancanegara melepas lelah di warung kopi puncak Ijen. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
MELEPAS LELAH: Wisatawan lokal maupun mancanegara melepas lelah di warung kopi puncak Ijen. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Di ketinggian 2.386 meter di atas permukaan laut (Mdpl), aroma kopi panas bercampur udara dingin pegunungan menjadi “penyambut” setia para pendaki Taman Wisata Alam (TWA) Ijen. Di jalur menuju puncak yang dikenal dengan fenomena blue fire, warung-warung kopi sederhana justru tumbuh menjadi denyut kehidupan yang tak terpisahkan dari perjalanan para wisatawan.

Di antara Pos 2 hingga Pos 6 atau puncak Ijen, deretan warkop berdiri di tepi jalur pendakian. Bangunannya sederhana, hanya kayu, seng, bangku panjang, serta termos air panas. Namun di tengah suhu belasan derajat Celsius dan jalur menanjak, warung kecil itu menjadi “oase” bagi pendaki yang lelah.

Salah satu sosok yang paling dikenal di jalur ini adalah Pawisti Ningsih, atau akrab disapa Bu Angga. Sejak 2019, perempuan asal Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah ini setia membuka warkop di Pos 6, titik tertinggi jalur pendakian Ijen.

Setiap dini hari, sebelum pendakian resmi dibuka pukul 02.00 WIB, Bu Angga sudah lebih dulu bergerak. Sekitar pukul 01.00 WIB, ia mulai memikul dagangan menuju puncak Ijen. Barang-barang itu dibawa sedikit demi sedikit, menembus gelap dan dinginnya jalur pendakian.

“Saya berangkat pukul 01.00 sebelum pendakian dibuka sambil membawa stok dagangan sedikit-sedikit ke pos puncak, biar warungnya ada barang yang dijual,” ujarnya.

Sesampainya di puncak, rutinitas langsung dimulai: menyalakan kompor, merebus air, lalu menunggu pendaki pertama tiba. Tak lama kemudian, satu per satu wisatawan datang. Ada yang memesan kopi hangat, mi instan, hingga gorengan untuk mengisi tenaga sebelum menikmati blue fire.

Meski berada di lokasi ekstrem, harga yang ditawarkan tetap ramah. Kopi dijual Rp 5.000 per gelas, pop mie Rp 15.000, dan gorengan jumbo Rp 5.000. Warkop itu biasanya buka hingga sekitar pukul 10.00 WIB, sebelum pendaki mulai turun kembali.

“Hampir setiap hari saya buka. Tutup kalau ada halangan atau pendakian sedang ditutup. Kalau tidak jualan, yang naik Ijen bingung mau beli makanan di mana kalau sudah di puncak,” kata Bu Angga sambil tertawa kecil.

Aktivitas harian itu membuatnya seolah menjadi “pendaki tetap” Ijen. Setiap hari ia naik ke Pos 6, lalu turun kembali setelah warung ditutup. Namun lelah itu terbayar oleh hasil penjualan yang cukup menjanjikan.

Pada hari biasa, omzet kotor warkopnya mencapai sekitar Rp 800 ribu per hari. Saat akhir pekan atau musim liburan, pendapatan bisa melonjak hingga Rp 2 juta sampai Rp 3 juta sehari.

“Kalau hari biasa dapat sekitar Rp 800 ribu, tapi kalau liburan bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Tak jauh dari sana, di Pos 5, warung serupa juga ramai dikunjungi pendaki. Misnadi, salah satu penjaga warkop, mengaku tidak pernah sepi pembeli, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Menu yang dijual pun serupa: kopi, pop mie, air mineral, roti, dan makanan ringan. Omzet hariannya berkisar Rp 1 juta, tergantung jumlah pendaki yang datang.

Bagi para pendaki seperti Andi asal Tuban, keberadaan warkop di jalur Ijen menjadi penyelamat perjalanan. Ia tak perlu membawa banyak bekal dari bawah karena bisa membeli kebutuhan di sepanjang jalur.

“Enak kalau mendaki di Ijen, tidak usah bawa makanan banyak dari bawah. Sepanjang jalur banyak warung kopi dan harganya juga tidak mahal,” katanya.

Di balik dinginnya suhu dan terjalnya jalur pendakian, warkop-warkop di Ijen menjadi penghangat perjalanan. Bagi pendaki, ia adalah tempat singgah. Namun bagi para pedagang seperti Bu Angga, setiap cangkir kopi yang tersaji adalah hasil perjuangan harian menaklukkan ketinggian 2.386 Mdpl. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#warkop Ijen #Bu Angga #pendakian Ijen #blue fire #TWA Ijen