
RADARBANYUWANGI.ID - Membuat anak pintar. Itu salah satu tujuan sekolah. Lewat bimbingan guru, kecerdasan anak terasah. Di sekolah, sehari-hari, anak kita disibukkan pelajaran. Mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Mulai pelajaran umum seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS. Maupun pelajaran khusus seperti biologi, fisika, kimia, ekonomi, geografi, sejarah, dan sosiologi.
Guru dan orang tua percaya bahwa deretan mata pelajaran itu membuat siswa pintar. Tapi pintar saja, sebenarnya, belum cukup. Cerdas saja tidak cukup menjadi garansi satu-satunya bagi kesuksesan anak. Masih dibutuhkan keberanian. Dan, di antara sekian pelajaran di sekolah tidak ada yang membuat keberanian anak muncul. Apalagi terasah.
Sekolah tidak salah. Sekolah hanya menjalankan kurikulum. Yang notabene ranah kebijakan politik pemerintah. Belakangan, memang dikembangkan pendidikan karakter. Tapi, program itu kurang memadai. Dijalankan setengah hati. Hasilnya setengah hati juga. Maka adanya sama dengan tidak adanya. Wujuduhu ka-adamihi. Tak terlalu tampak perkembangan karakter anak. Apalagi, perubahan karakternya.
Prihatin. Tapi, prihatin tanpa berbuat sesuatu tidak akan menghadirkan perubahan. Biarlah sekolah berjalan seperti adanya. Mengajar siswa sesuai kurikulum nasional. Para pihak yang peduli masa depan generasi penerus mulailah ambil bagian. Sekecil apa pun tak masalah. Yang penting partisipasinya. Tandang Bareng—mengutip slogan penyemangat Pemkab Banyuwangi.
Jawa Pos Radar Banyuwangi memberanikan diri mengambil bagian. Bagian yang belum dilakukan pihak lain. Koran ini membuat versi lain kegiatan yang sudah digelar pihak lain. Memeriahkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang masih sepi, koran ini menggelar beberapa event melibatkan anak-anak (baca: siswa).
Lomba azan dan kaligrafi mengawalinya. Digelar pada 17 Juni 2026. Di masjid megah Al-Ma’ruf, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Menampilkan 25 siswa SD dan MI. Mereka lolos dari penyisihan lewat video yang dikirim ke panitia.
Lomba tersebut cukup bergengsi. Itu dilihat dari tiga juri pilihan panitia. Mereka adalah ustad Ahmad Nabil Bahrain, ustad M Kudus, dan ustad Rozak. Ketiganya jagoan azan. Suaranya merdu. Dengan berbagai irama. Bagi jemaah Masjid Agung Baiturrahman maupun Masjid Al-Ma’ruf pasti tak asing dengan suara mereka.
Mereka sudah ngelontok soal kualitas suara, tajwid, makharijul huruf, penguasaan lagu dan irama. Teori-teori itu sudah tidak di kepalanya, tapi sudah mengakar di hati. Saban hari dipraktikkan. Ketika memanggil dan mengajak orang melupakan urusan dunia. Hanya sejenak. Segera menghadap Allah SWT. Dengan berjamaah di masjid. Salat sendirian di rumah atau di tempat lain. Bahkan di perjalanan.
Tidak salah memilih tiga juri itu. Mereka sangat mumpuni. Penjurian pun berjalan dengan kesatupahaman di antara mereka. Mereka bersepakat. Mengakui bahwa kualitas peserta cukup merata. Selisih nilai antarpeserta sangat tipis. Persaingan nilai itu membuat ketiga juri harus jeli. Harus benar-benar teliti. Sebelum menentukan pemenang. “Nilainya tipis-tipis,” kata ustad Kudus.
Bagi peserta, pemilihan lokasi lomba di Masjid Al-Ma’ruf seperti pulang ke “rumah” sendiri. Mereka berjodoh dengan ustad Bunyamin. Muazin masjid setempat. Kakek 62 tahun itu bersuara merdu. Suara azannya begitu mendayu. Mereka yang pernah berhaji atau umrah pasti langsung terkenang suara muazin di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





