AI Agent Makin Canggih, Ini Cara Kerja dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:15 WIB
ILUSTRASI: Aktivitas pemrograman menggunakan laptop dan monitor. Teknologi AI agent memungkinkan sistem kecerdasan buatan membantu menjalankan pekerjaan secara bertahap. (Jakub Zerdzicki/Pexels)
ILUSTRASI: Aktivitas pemrograman menggunakan laptop dan monitor. Teknologi AI agent memungkinkan sistem kecerdasan buatan membantu menjalankan pekerjaan secara bertahap. (Jakub Zerdzicki/Pexels)

RADAR BANYUWANGI - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya mampu menjawab pertanyaan. Teknologi tersebut mulai bisa menjalankan berbagai pekerjaan secara mandiri. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah AI agent.

Perkembangannya makin nyata. Pada 8 Oktober 2026, Google Cloud memperkenalkan Gemini agent untuk membantu pekerjaan, mulai menjawab pertanyaan, membuat konten, hingga menulis kode pemrograman.

Dilansir Reuters, teknologi tersebut dapat merencanakan pekerjaan, menggunakan berbagai perangkat digital, dan terhubung dengan sistem perusahaan.

Kehadiran AI agent menandai perubahan penggunaan kecerdasan buatan. AI tak lagi sebatas alat percakapan, tetapi juga berpotensi menjadi asisten digital yang dapat menyelesaikan tugas.

Lantas, apa sebenarnya AI agent dan bagaimana teknologi ini bekerja?

Baca Juga: Tiket KA Cikuray Cuma Rp45 Ribu, Apa Itu Kereta PSO dan Bagaimana Subsidinya?

Apa Itu AI Agent?

AI agent merupakan sistem kecerdasan buatan yang dirancang untuk memahami tujuan, merencanakan pekerjaan, mengambil keputusan, dan menjalankan tindakan dengan tingkat kemandirian tertentu.

"Kami melihat agen sebagai sistem yang secara mandiri menyelesaikan tugas-tugas dari pengguna-penggunanya," terang OpenAI dalam publikasi resminya pada 11 Maret 2025.

Pernyataan tersebut berarti OpenAI memandang agent sebagai sistem yang dapat menyelesaikan tugas secara mandiri atas nama pengguna.

Sebagai gambaran, seseorang meminta AI membuat laporan penjualan bulanan.

Chatbot konvensional mungkin memberikan panduan penyusunan laporan. Sebaliknya, AI agent yang telah terhubung dengan sistem perusahaan dapat mengambil data transaksi, melakukan perhitungan, dan menyusun laporan.

Meski demikian, kemampuan tersebut bergantung pada integrasi perangkat, izin akses, dan batasan yang ditetapkan pengguna.

Baca Juga: Bisa Rangkai Sendiri, Gelang Manik-Manik Jadi Buruan di CFD Banyuwangi

Bagaimana Cara Kerja AI Agent?

Menurut Google Cloud, AI agent memiliki kemampuan penalaran, perencanaan, dan pengambilan keputusan untuk menyelesaikan tugas.

Secara umum, terdapat lima tahapan dalam cara kerjanya.

1. Memahami instruksi

AI agent menerima perintah pengguna. Misalnya, mencari produk terlaris dalam tiga bulan terakhir.

2. Menyusun rencana

Sistem menentukan langkah yang diperlukan, termasuk mencari data penjualan, membandingkan hasil, dan membuat rangkuman.

3. Mengakses informasi

AI agent menggunakan alat digital yang tersedia, seperti basis data, layanan pencarian, atau aplikasi perusahaan.

4. Menjalankan tindakan

Setelah memperoleh informasi, sistem dapat mengolah data, membuat dokumen, atau memperbarui pekerjaan sesuai izin yang diberikan.

5. Memeriksa hasil

AI agent dapat mengevaluasi hasil pekerjaannya. Jika menemukan informasi yang kurang lengkap, sistem dapat melakukan penyesuaian atau meminta arahan pengguna.

Proses tersebut memungkinkan AI agent mengerjakan tugas bertahap tanpa harus menerima instruksi baru setiap saat.

Baca Juga: Live Streaming RCTI+ Hyundai Hillstate vs Hi-Pass: Panggung Pertama Megawati KOVO Cup 2026

Apa Bedanya AI Agent dan Chatbot?

Perbedaan utama terletak pada kemampuan menjalankan tindakan.

Chatbot umumnya digunakan untuk berkomunikasi, menjawab pertanyaan, atau menghasilkan informasi.

Sementara itu, AI agent dapat menggabungkan kemampuan percakapan dengan perencanaan dan penggunaan perangkat digital.

Contohnya ketika seseorang ingin merencanakan perjalanan.

Chatbot dapat memberikan rekomendasi hotel dan tempat wisata. AI agent yang memiliki akses sesuai dapat memeriksa jadwal, membandingkan pilihan, hingga membantu proses pemesanan.

Namun, perbedaannya tidak selalu mutlak. Chatbot yang dilengkapi kemampuan menggunakan perangkat dan menjalankan tugas juga bisa berfungsi sebagai AI agent.

Baca Juga: Air Sumur Bor di Srono Mendadak Berbusa dan Bau Menyengat, Warga Gatal-Gatal

Contoh Penggunaan AI Agent

Teknologi ini memiliki beragam potensi penerapan, baik untuk kebutuhan pribadi maupun aktivitas perusahaan.

1. Layanan Pelanggan

AI agent dapat membantu memeriksa status pesanan, menelusuri transaksi, dan menangani permintaan pelanggan berdasarkan sistem yang terhubung.

Kasus yang rumit tetap dapat diteruskan kepada petugas manusia.

2. Pemasaran Digital

Dalam pemasaran, AI agent dapat membantu menganalisis performa kampanye, menyusun ide konten, dan menyiapkan laporan berdasarkan data.

Hasilnya tetap perlu diperiksa sebelum dipublikasikan.

3. Pengelolaan Bisnis

Pelaku usaha dapat memanfaatkan AI agent untuk memantau stok, mengolah laporan penjualan, dan mengidentifikasi produk dengan permintaan tinggi.

4. Pengembangan Perangkat Lunak

Programmer dapat menggunakan AI agent untuk membantu memeriksa kode, mendeteksi kesalahan, dan menjalankan pengujian perangkat lunak.

5. Produktivitas Kerja

AI agent yang terintegrasi dengan aplikasi produktivitas dapat membantu mengatur agenda, menyiapkan dokumen, atau merangkum hasil rapat.

Seluruh contoh tersebut membutuhkan dukungan sistem dan izin akses yang sesuai.

Baca Juga: KAI Diskon Tiket Eksekutif 10 Persen untuk 7 Kereta, Simak Jadwal dan Cara Belinya

AI Agent Menawarkan Manfaat, tetapi Tetap Berisiko

AI agent berpotensi menghemat waktu, mengurangi pekerjaan berulang, dan membantu mempercepat pengolahan informasi.

Namun, penerapannya tidak lepas dari tantangan.

Penelitian IBM Institute for Business Value yang dipublikasikan pada 8 Juni 2026 menunjukkan bahwa hanya 11 persen dari 2.000 eksekutif teknologi yang disurvei merasa sepenuhnya siap menghadapi skala penerapan AI agent yang diperkirakan terjadi dalam setahun berikutnya.

Sebanyak 77 persen organisasi yang disurvei juga melaporkan bahwa adopsi AI telah melampaui kemampuan tata kelola mereka.

Risikonya mencakup kesalahan keputusan, kebocoran informasi, hingga penggunaan akses sistem yang tidak sesuai.

Perusahaan teknologi Anthropic turut mengingatkan adanya konsekuensi dalam penggunaan sistem berbasis agent.

"Sistem agen sering kali mengorbankan latensi dan biaya demi kinerja tugas yang lebih baik," tulis Anthropic dalam panduan teknisnya.

Artinya, peningkatan kemampuan menyelesaikan tugas dapat disertai waktu pemrosesan lebih lama dan biaya lebih tinggi.

Karena itu, penerapan AI agent perlu disertai pengujian, pembatasan akses, serta pengawasan manusia.

Baca Juga: Bagaimana Kereta Tanpa Masinis Bisa Berjalan dan Berhenti Sendiri? Ini Teknologinya

Apakah AI Agent Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia?

AI agent berpeluang mengubah cara sejumlah pekerjaan dilakukan, terutama tugas administratif dan proses berulang.

Namun, kemampuan menjalankan pekerjaan otomatis tidak berarti semua keputusan dapat diserahkan kepada AI.

Manusia tetap diperlukan untuk menetapkan tujuan, memeriksa akurasi, menangani persoalan kompleks, dan bertanggung jawab atas keputusan penting.

Bagi individu maupun pelaku usaha, penggunaan AI agent sebaiknya dimulai dari pekerjaan sederhana dengan tujuan jelas dan risiko terkendali.

Dengan pendekatan tersebut, AI agent dapat menjadi alat pendukung produktivitas, bukan pengganti mutlak peran manusia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
AI Agent Otomatisasi Digital kecerdasan buatan teknologi ai artificial intelligence