Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kecelakaan Oliver Bearman di GP Jepang Picu Alarm Keselamatan, F1 Hadapi Masalah Kompleks Sistem Energi

Lugas Rumpakaadi • Selasa, 31 Maret 2026 | 10:04 WIB
Kecelakaan Oliver Bearman di GP Jepang mengungkapkan risiko besar perbedaan kecepatan. (F1)
Kecelakaan Oliver Bearman di GP Jepang mengungkapkan risiko besar perbedaan kecepatan. (F1)

RADARBANYUWANGI.ID - Insiden hebat yang dialami Oliver Bearman pada ajang Grand Prix Jepang menjadi pengingat keras bahwa kompleksitas teknologi modern di Formula 1 kini membawa konsekuensi risiko yang semakin besar. Meski sang pembalap keluar tanpa cedera serius, banyak pihak menilai ini sebagai “keberuntungan” yang tidak boleh terulang.

Mobil Haas yang dikendarai Bearman melaju hingga 307 kilometer per jam saat mendekati mobil Alpine milik Franco Colapinto yang bergerak lebih lambat. Perbedaan kecepatan mencapai 50 km/jam membuat situasi menjadi sangat berbahaya.

Perbedaan ini dipicu oleh strategi energi: Bearman sedang menggunakan mode dorongan listrik (boost), sementara Colapinto justru melakukan pemulihan energi. Ketika mendekat di tikungan cepat menuju Spoon Corner, Bearman terpaksa membelok keluar dari lintasan untuk menghindari tabrakan langsung.

Akibatnya, mobilnya menghantam pembatas dengan gaya benturan mencapai 50G dan hancur parah.

“Ini adalah keberuntungan besar. Jika dia menabrak bagian belakang mobil di depannya, konsekuensinya bisa jauh lebih buruk,” tegas Kepala Tim Haas, Ayao Komatsu, dikutip The Guardian.

Pembalap Williams, Carlos Sainz, menilai lokasi kejadian di Sirkuit Suzuka ikut menyelamatkan situasi. Area run-off yang luas memberi ruang bagi Bearman sebelum menghantam pembatas.

Ia mengingatkan akan risiko di lintasan jalan raya seperti di Baku, Singapura, atau Las Vegas yang memiliki dinding yang sangat dekat dengan trek.

“Beruntung ini terjadi di Suzuka. Di sirkuit lain, hasilnya bisa sangat berbeda,” ujar Sainz.

Masalah utama berasal dari regulasi mesin hybrid modern yang menggabungkan tenaga mesin konvensional dan energi listrik. Perbedaan strategi penggunaan energi antarpembalap menciptakan selisih kecepatan ekstrem di lintasan.

“Saya tidak berpikir ada solusi sederhana untuk masalah ini,” ungkap Kepala Tim McLaren, Andrea Stella.

Beberapa opsi yang dipertimbangkan antara lain:

Namun, setiap perubahan memiliki efek domino terhadap performa, desain mobil, hingga kepentingan pabrikan mesin.

FIA telah menyatakan tengah memantau dan mengevaluasi dampak regulasi baru terhadap keselamatan. Dengan jeda balapan hingga seri berikutnya di Miami, seluruh pemangku kepentingan memiliki waktu sekitar satu bulan untuk mencari solusi.

“Saya belum tahu solusinya sekarang, tetapi kita harus tetap tenang dan membahasnya bersama sebagai komunitas F1,” pungkas Komatsu.

Namun, perubahan besar seperti menggeser distribusi tenaga dari 50:50 menjadi 70:30 tidak mudah dilakukan karena akan memerlukan desain ulang mobil dan perubahan regulasi besar, kemungkinan baru bisa diterapkan musim depan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#formula 1 #jepang #oliver bearman #f1