Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

”Saya Baik-Baik Saja”... Benarkah?

T
Oleh: Nining Jaidi, MPsi, Kons (Konselor Kesehatan Mental RS Yasmin Banyuwangi)
Oleh: Nining Jaidi, MPsi, Kons (Konselor Kesehatan Mental RS Yasmin Banyuwangi)

Advertisement

"Bagaimana kabarnya?" 

"Baik".  Jawaban itu mungkin menjadi jawaban yang paling sering kita ucapkan. Begitu spontan, begitu singkat, seolah tidak memerlukan waktu untuk memikirkannya. Padahal, di balik satu kata "baik" bisa saja tersembunyi berbagai rasa yang tidak pernah sempat diungkapkan. 

Ada yang sedang cemas memikirkan pekerjaan, tetapi tetap tersenyum. Ada yang hatinya lelah menghadapi persoalan keluarga, tetapi tetap melayani semua orang seperti biasa. Ada pula yang setiap hari tampak ceria, padahal setiap malam sulit memejamkan mata karena pikirannya tidak pernah berhenti bekerja.Dari luar mereka terlihat baik-baik saja. Namun, benarkah demikian? 

Advertisement

Di ruang praktik konseling, saya sering bertemu orang-orang yang datang dengan kalimat yang hampir sama.  "Sebenarnya saya sudah lama ingin bercerita, tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana." Kalimat sederhana itu menyimpan satu kenyataan, masih banyak orang yang memendam masalahnya sendirian.  Mereka khawatir dianggap lemah, tidak dewasa, kurang bersyukur, atau bahkan dicap "bermasalah". Akibatnya, mereka memilih diam, berharap waktu akan menyelesaikan semuanya. Sayangnya, tidak semua luka dapat sembuh hanya dengan dipendam.

Kita hidup pada masa ketika tuntutan datang dari berbagai arah. Tuntutan pekerjaan, kebutuhan ekonomi, persoalan rumah tangga, pendidikan anak, hubungan sosial, hingga derasnya informasi di media sosial sering kali membuat pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat.  Sedikit demi sedikit energi emosional terkuras tanpa kita sadari. Ironisnya, kita lebih mudah mengenali demam daripada mengenali kelelahan batin.

Ketika tubuh terasa panas, kita segera mengukur suhu dan mencari obat. Ketika gigi sakit, kita datang ke dokter gigi. Namun, ketika hati dipenuhi kecemasan, ketika pikiran terasa kalut, ketika tidur tidak lagi nyenyak, atau ketika hidup mulai kehilangan makna, kita justru berkata kepada diri sendiri, "Nanti juga hilang." 

Advertisement

Kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Memiliki kesehatan mental yang baik bukan berarti seseorang selalu bahagia, bukan pula hidupnya tanpa masalah. Mental yang sehat akan mampu menghadapi tekanan hidup, mengelola emosi, berpikir jernih, menjalin hubungan dengan baik, serta tetap mampu menjalankan peran dalam kehidupan sehari-hari. 

Sebaliknya, ketika kesehatan mental mulai terganggu, tanda-tandanya sering kali muncul secara perlahan antara lain kita menjadi lebih mudah marah karena persoalan kecil, sulit berkonsentrasi, merasa lelah sepanjang waktu, kehilangan semangat melakukan hal-hal yang dulu menyenangkan, tidur tidak berkualitas, bahkan ada yang mulai menarik diri dari lingkungan karena merasa tidak ada orang yang mampu memahami dirinya. 

Sayangnya, banyak orang menganggap kondisi tersebut sebagai hal biasa. Mereka terus memaksa diri untuk kuat. Menjadi kuat bukan berarti terus memendam semua permasalahan. Bayangkan sebuah gelas yang terus diisi air tanpa pernah dikosongkan. Pada akhirnya air dalam gelas itu akan meluap. Demikian pula dengan emosi. Kesedihan, kekecewaan, kemarahan, atau kecemasan yang terus dipendam bukan berarti lalu hilang. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk muncul, dan sering kali dalam bentuk yang tidak kita sadari. 

Sebagai konselor, saya percaya bahwa setiap orang membutuhkan ruang yang aman untuk didengar. Bukan ruang yang penuh penilaian, bukan pula tempat untuk dihakimi. Kadang seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dengan sungguh-sungguh, membantu memahami apa yang sedang dirasakan, lalu bersama-sama mencari jalan keluar sebagai solusi yang paling sesuai dengan masalah yang tengah dihadapinya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tingkatkan Kompetensi Nakes, RSI Fatimah Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

Tingkatkan Kompetensi Nakes, RSI Fatimah Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

RSI Fatimah Banyuwangi menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dan menyiapkan regenerasi instruktur.

Happy Mom's Yoga Genap Setahun, RSI Fatimah Hadirkan 3 Program Baru untuk Ibu

Happy Mom's Yoga Genap Setahun, RSI Fatimah Hadirkan 3 Program Baru untuk Ibu

Happy Mom's Yoga RSI Fatimah Banyuwangi genap setahun. Tiga program baru diluncurkan, yakni Couple Prenatal Yoga, Newborn Care dan Induksi Laktasi.

RSI Fatimah Banyuwangi Hadirkan Alat Treadmill Jantung Terbaru, Deteksi Gangguan Kardiovaskular Makin Akurat

RSI Fatimah Banyuwangi Hadirkan Alat Treadmill Jantung Terbaru, Deteksi Gangguan Kardiovaskular Makin Akurat

RSI Fatimah Banyuwangi menghadirkan alat treadmill jantung terbaru untuk pemeriksaan kardiovaskular yang lebih akurat dan deteksi dini penyakit jantung.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer