RADARBANYUWANGI.ID - Prestasi Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia mulai membuka mata dunia. Setelah lolos ke ronde keempat usai mengalahkan Tiongkok, skuad Garuda tidak hanya mendapat pujian dari publik dalam negeri, tapi juga mulai diperhatikan oleh media-media asing.
Namun di balik sorotan positif itu, terselip juga nada keraguan apakah kebangkitan ini akan bertahan, atau hanya sensasi sesaat?
Media olahraga global seperti ESPN dan Fox Sports Asia memberi atensi khusus kepada performa Indonesia di grup neraka bersama Jepang, Irak, Vietnam, dan Tiongkok.
ESPN menulis bahwa Indonesia adalah "tim Asia Tenggara yang tampil di luar ekspektasi", sementara Fox menyebut Garuda sebagai "kuda hitam dengan potensi kejutan besar".
Laga-laga seperti menahan Arab Saudi dan mengalahkan Vietnam jadi bukti bahwa Timnas Indonesia tak lagi bisa dianggap tim pelengkap. Kemenangan atas Tiongkok juga menjadi penentu kelolosan yang menghapus keraguan terhadap kapasitas mental tim.
Sementara Japan Times, dalam salah satu artikelnya, bahkan menyebut bahwa Indonesia kini "benar-benar bermimpi menembus Piala Dunia".
Munculnya pemain-pemain diaspora seperti Thom Haye, Jay Idzes, Rafael Struick, hingga kiper Emil Audero disebut sebagai pondasi baru yang membuat Garuda tampil jauh lebih percaya diri dan terorganisir.
Tak Sedikit yang Masih Meragukan
Di balik pujian itu, banyak media internasional juga menyisipkan catatan: apakah kebangkitan ini berkelanjutan atau hanya efek jangka pendek dari euforia naturalisasi dan pelatih asing?
Kyodo News dan Nikkan Sports menyoroti bahwa meski ada peningkatan besar, Indonesia masih kesulitan ketika melawan tim sekelas Jepang atau Irak.
Hasil 0-4 dari Jepang pada pertemuan pertama November lalu, serta belum stabilnya lini belakang dalam beberapa laga, menjadi alasan mengapa sebagian pengamat masih “wait and see”.
ESPN bahkan menyebut bahwa kelolosan Indonesia tidak serta merta menunjukkan kekuatan absolut. “Garuda bisa meledak saat lawan tim yang selevel, tapi mereka belum teruji secara penuh ketika menghadapi tekanan dari tim besar,” tulis analis Gabriel Tan.
Kluivert Masih Dalam Masa Pembuktian
Penunjukan Patrick Kluivert pun ikut disorot. Japan Times menyebut langkah ini berani tapi berisiko, karena mantan striker Belanda itu belum punya pengalaman panjang sebagai pelatih kepala tim nasional.
Meski begitu, beberapa media mengakui bahwa pendekatan taktik Kluivert sejauh ini memberi warna baru bagi Indonesia.
Jika Kluivert mampu membawa Indonesia tampil konsisten, apalagi mencuri poin dari Jepang di laga terakhir nanti, maka skeptisisme itu bisa berubah menjadi kepercayaan internasional.
Saat ini, Indonesia berada di persimpangan penting. Dunia sudah mulai memperhatikan, tapi juga belum sepenuhnya percaya.
Laga melawan Jepang bisa menjadi momen penting untuk membuktikan bahwa kebangkitan ini bukan sekadar angin lalu.
Entah itu lewat hasil imbang, permainan yang solid, atau bahkan kemenangan mengejutkan Indonesia punya kesempatan emas untuk mengubah pandangan dunia. Mimpi Piala Dunia bukan lagi fantasi. Tapi untuk menjadikannya nyata, konsistensi dan pembuktian di setiap laga adalah harga mutlak.
Editor : Agung Sedana