Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Atlet Catur Tunanetra Asal Glenmore, Reni Septianingrum Raih Prestasi Gemilang: Mengaku Ingin Jadi ASN

Gareta Yoga Eka Wardani • Selasa, 14 Mei 2024 | 15:39 WIB
MEMBANGGAKAN: Reni Septianingrum menunjukkan berbagai medali yang diraih dalam ajang Peparnas dan Peparprov. Medali tersebut dipajang di ruang tamu rumahnya di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore
MEMBANGGAKAN: Reni Septianingrum menunjukkan berbagai medali yang diraih dalam ajang Peparnas dan Peparprov. Medali tersebut dipajang di ruang tamu rumahnya di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore

RadarBanyuwangi.id - Keterbatasan bukan halangan bagi seseorang untuk mengukir prestasi. Kata ”mustahil” itu didobrak oleh Renita Septianingrum, 28, penyintas tunanetra asal Dusun/Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, yang berhasil menyabet medali perak hingga emas dalam cabor catur. 

Tembok kokoh dan tinggi sebagai penyandang tunanetra, berhasil dirobohkan oleh Renita Septianingrum.

Perempuan berusia 28 tahun itu, membuktikan bahwa di balik keterbatasan seseorang, tersembunyi potensi yang besar.

”Tidak ada halangan bagi mereka yang mau berusaha,” ujar Renita.

Perempuan yang karib disapa Reni ini berhasil menunjukkan prestasi yang membanggakan.

Dalam Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jambi 2023, dia berhasil menyabet medali emas dan perak. Reni berlaga pada cabang olahraga (cabor) catur.

Karena prestasinya itu, kini Reni terdaftar sebagai anggota National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Provinsi Jambi.

”Alhamdulillah, berhasil menyabet emas dan menuju tingkat nasional,” ungkapnya.

Sebelum mengukir prestasi itu, Reni sempat berlaga pada Peparnas 2021 di Papua. Saat itu, dia mewakili Papua dalam kompetisi olahraga bergengsi se-Indonesia bagi penyandang disabilitas.

”Peparnas 2021 di Papua, saya mendapat medali perak,” katanya.

Target yang dipatok oleh Reni selalu diusahakan. Reni akan terus mencoba dan mencoba lagi hingga berhasil meraih medali emas pada Peparnas 2024 mendatang yang akan digelar di Medan, Sumatera Utara.

”Saya ingin jadi ASN melalui cabor catur,” ucapnya.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Reni tidak ingin merepotkan keluarga. Dia selalu berusaha mandiri dan terus mengembangkan diri lebih baik lagi untuk masa depannya.

”Jika saya berhasil meraih emas pada Peparnas, saya berkesempatan menuju ASEAN Para Games 2025 di Thailand untuk menyabet emas dan menjadi ASN,” ungkapnya.

Reni mengakui impian besar itu, tidak dapat terwujud dalam sekejap mata dan mudah. Perlu usaha dan kerja keras dalam meraihnya.

”Saya menyiapkan mental, fisik, dan fokus untuk Peparnas 2024 di Medan, itu demi masa depan saya,” tuturnya dengan nada serius.

Kelihaiannya dalam mengotak-atik pion catur pada bidaknya, telah dilatih sejak Reni masih di bangku SD.

Sejak kelas IV di SDLB Banyuwangi, dia sudah terjun di dunia percaturan.

”Tidak ada kesulitan selama mau berusaha dan mencoba, musuh terbesar adalah diri sendiri, yaitu mengatur konsistensi dan ritme untuk berlatih,” tegasnya.

Meski telah berhasil mengukir namanya dalam dunia percaturan di Indonesia, Reni mengaku masih pendatang baru di cabor tersebut.

Tidak heran, dia terus mengumpulkan berbagai pengalaman saat melawan para seniornya.

”Meski kemampuan saya dan lawan yang lebih lama terjun di cabor catur itu sama, saya tetap kalah dengan pengalaman mereka. Itu yang selalu saya jadikan pelajaran dan berkembang lebih baik lagi,” ungkapnya.

Catur menjadi cabor yang cukup sulit bagi masyarakat umum. Selain menguji strategi masing-masing orang, catur juga menuntut fokus dari para pemain.

”Baik pion atau pun papan catur yang warna hitam itu ada penandanya. Ketika giliran, saya harus meraba masing-masing pion dan memahami gerakan lawan,” katanya.

Tingkat fokus yang dimiliki Reni dalam bermain catu cukup tinggi. Tidak hanya memikirkan strategi untuk menang, dia juga harus mengingat setiap gerakan lawan dan jumlah pion yang tersisa.

”Harus fokus dan jeli terhadap setiap pergerakan lawan,” katanya.

Demi meraih target emas pada Peparnas 2024 di Medan, Reni setiap hari berlatih catur secara online dengan rekannya.

”Batu yang keras saja bisa berlubang karena setetes air. Sama dengan latihan yang rutin dan konsisten, bisa membawa keberhasilan pada saatnya nanti,” tandasnya.

Bagaimana tanggapan sang ibu Srirasmiyati atas prestasi putrinya ini? Ibu empat putra itu mengaku bangga, terharu, hingga tidak bisa berkata-kata.

Dia mengaku terpaksa meninggalkan Reni sejak kecil ke asrama sekolah, demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dia bekerja sebagai tenaga migran di Brunei Darussalam.

”Saya mendapat kabar Reni meraih emas itu langsung sujud syukur dan menangis. Saat itu saya kerja di Brunei. Anak bungsu saya begitu membanggakan,” ucapnya sembari menahan air matanya yang jatuh.

Sebagai single parent, berbagai cara dilakukan Srirasmiyati demi memenuhi kebutuhan keempat anaknya.

Ibarat pepatah ”kepala jadi kaki, kaki jadi kepala” akan dilakoni untuk memberikan kehidupan yang baik bagi anak-anaknya, meski harus meninggalkan buah hatinya.

”Saya hanya bisa mendukung, dan terus mendoakan Reni agar berhasil meraih impiannya. Saya terharu dan sangat bangga dengan semua anak saya,” ungkapnya. (abi/c1)

Editor : Salis Ali Muhyidin
#paragames #medali emas #catur #prestasi #tunanetra #asn #atlet #glenmore #banyuwangi