RADARBANYUWANGI.ID – Kalau kamu pernah lihat pernikahan adat Jawa, pasti sadar ada satu sosok penari di barisan paling depan.
Itulah Cucuk Lampah, sang pembuka jalan bagi mempelai yang membawa aura sakral sekaligus proteksi spiritual.
Kata "cucuk" artinya pemimpin, dan "lampah" artinya berjalan. Jadi Cucuk Lampah berarti pemimpin rombongan pernikahan.
la memimpin kirab dengan gerakan tari lumaksana putra halus, penuh wibawa dan kelembutan khas putra bangsawan.
Jika dalam pernikahan adat Jawa terdapat cucuk lampah, maka barisan akan tersusun rapi dan penuh makna simbolik saat berjalan.
Berikut urutan posisi jika menggunakan atau memakai cucuk lampah sebagai pemimpin barisan:
- Cucuk Lampah di barisan depan.
- Diikuti dua gadis kecil (patah sakembaran).
- Lalu remaja pagar ayu dan pagar bagus.
- Barulah pasangan pengantin.
- Diakhiri orang tua dan keluarga besar.
Sebenarnya apa makna simbolik di balik tradisi yang kental dengan adat Jawa ini?
Jawabannya ialah sebagai penolaak bala serta mengusir energy negative yang mungkin ingin menyerang pengantin serta keluarganya.
Lalu, bisa dijadikan pelindung saat perjalanan iringan pengantin yang akan menuju ke pelaminan. Tak hanya itu, ini juga menjadi tanda hormat karena kedua mempelai dianggap Raja dan Ratu.
Cucuk lampah juga dikenal sebagai subamanggala yakni nama lain dari pemimpin yang menjunjung tinggi tata karma.
Dulunya gerakannya serius dan sakral. Sekarang, Cucuk Lampah juga bisa menambahkan unsur guyon (lucu) dan interaktif.
Bahkan bisa diperankan oleh sepasang pria-wanita yang berperan sebagai Panji Asmara Bangun & Dewi Sekartaji.
Cucuk Lampah bukan sekadar adat, tapi juga doa dalam bentuk seni. Tradisi yang terus hidup dan berkembang sesuai zaman.
Itu jadi pengingat bahwa setiap pernikahan adalah perjalanan sakral yang perlu keselamatan, tata krama, dan kebahagiaan. (*)
- Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News