Tapi siapa sangka bila pasar Diagon Alley seperti di film Harry Potter itu ada di dunia nyata. Salah satunya dengan kehadiran toko alat perdukunan di Kawasan Pasar Turi Surabaya.
Tempat ini ini menjadi saksi masih eksisnya hal-hal berbau mistis di Indonesia.
Irwan pemilik toko alat “perdukunan”mengatakan dirinya sudah sejak tahun 1990 jualan alat tradisional mulai dari keris, bawang merah buatan, jimat, jenglot dan lain-lain.
“Sudah mulai tahun 1990-an menjual alat-alat tradisional ini,” kata Iwan
Dia menjelaskan untuk harga keris mulai dari Rp 150 sampai Rp 300 ribu dan tergantung dengan motifnya.
Untuk barang-barang yang lain harganya bermacam-macam, mulai dari ribuan hingga ratusan ribu.
“Ada jimat, minyak-minyak, akar-akar dan tumbuhan kering hingga jenglot. Semua lengkap,” jelasnya.
Pembeli yang dating ke toko tersebut tak hanya dari Surabaya saja, namun juga daerah lain di Jawa Timur.
Sementara itu, pemerhati sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan, masyarakat Indonesia masih keturunan orang-orang Nusantara sehingga beragam cara unik dipilih dalam menghadapi berbagai persoalan.
Mungkin dikarenakan dahulu tradisi dan budaya sangat melekat erat sehingga di beberapa kalangan masyarakat masih melakukan pola tradisional yang bisa dikatakan rasional.
Misalnya, apabila ada orang yang mengalami sakit dan tak kunjung sembuh meski sudah ditangani medis.
Maka sebagian orang akan mengkaitkan hal tersebut dengan peristiwa gaib atau mistik.
“Si sakit akan dibawa ke orang pintar (paranormal) sebagai upaya mencari kesembuhan. Tentunya hal ini adalah tindakan diluar nalar, namun bagi sebagian orang, hal tadi adalah jalan alternatif menuju perubahan meskipun hasilnya belum tentu baik,” kata Wawan
Selanjutnya, paranormal akan mendiagnosa dan mengobati si pasien dengan cara tradisional seperti yang pernah leluhur lakukan. Tentunya diperlukan berbagai sarana dan peralatan.
“Nah paranormal tadi menggunakan alat perantara atau tradisional untuk mengobati pasiennya. Alat itu mulai dari jimat, keris hingga perlengkapan non medis yang bersifat tradisional,” pungkasnya.
Meskipun perkembangan zaman kian modern, namun masih banyak orang yang percaya hal-hal gaib atau mistik. Termasuk praktek “perdukunan”.
Hal ini tak lepas dari budaya dan tradisi di Indonesia. Dimana masyarakat Indonesia yang masih keturunan orang Nusantara mempunyai berbagai cara unik dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. (*)
Editor : Niklaas Andries