RadarBanyuwangi.id – Gempa bumi berkekuatan 6 magnitudo di timur laut Kabupaten Tuban, Jawa Timur membuat perjalanan kereta api (KA) berhenti mendadak, Jumat (22/3).
Setidaknya, ada sekitar 17 KA di wilayah KAI Daop 8 Surabaya yang wajib berhenti luar biasa (BLB) di stasiun terdekat karena getaran gempa yang terasa di beberapa wilayah.
Getaran gempa itu dirasakan di sejumlah kabupaten dan kota yang dilalui jalur rel milik Daop 8 Surabaya seperti Lamongan, Bojonegoro, Surabaya, Sidoarjo, hingga Malang.
Saat gempa bumi terjadi, ada standar operasional prosedur (SOP) yang harus dipatuhi masinis yaitu memberhentikan KA di stasiun terdekat sesuai arahan pusat pengendali operasi.
Sekitar pukul 11.37, 17 KA yang sedang ada di wilayah Daop 8 Surabaya langsung berhenti di stasiun-stasiun terdekat sambil menunggu perintah untuk kembali berjalan.
Setelah KA berhenti, petugas langsung melakukan pemeriksaan kondisi prasarana seperti jalan rel, jembatan, dan terowongan.
Pemeriksaan dilakukan di jalur sepanjang 530 kilometer oleh petugas jalan rel dan jembatan untuk memastikan jalur yang akan dilalui aman.
Perjalanan KA kembali dilakukan sekitar pukul 11.59 usai dilakukan pemeriksaan dan jalur dinyatakan aman untuk dilintasi.
Tidak hanya di Indonesia, kewajiban memberhentikan kereta api saat gempa bumi terjadi juga dilakukan di negara Jepang.
Seperti yang terjadi awal 2024 ini, perjalanan kereta peluru Hokuriku (Hokuriku Shinkansen) terhenti akibat gempa bermagnitudo 7,6 yang mengguncang Semenanjung Noto, Prefektur Ishikawa, Senin (1/1).
Empat kereta cepat milik West Japan Railway Company (JR West) yang menuju Stasiun Kanazawa dan Toyama berhenti darurat sekitar 11 jam sejak pukul 16.10 waktu Jepang.
Sekitar pukul 4 pagi, perjalanan kereta peluru itu kembali diizinkan setelah pemeriksaan menyeluruh di jalur yang akan dilintasi.
Berbeda dengan di Indonesia, teknologi perkeretaapian di Jepang sudah memungkinkan kereta cepat untuk berhenti darurat saat mendeteksi adanya gempa bermagnitudo 5,5 ke atas.
Dengan kata lain, saat terjadi gempa bumi, kereta cepat secara otomatis akan mengaktifkan rem darurat dan segera berhenti dari kecepatan 300 km per jam dalam waktu rata-rata 3,9 detik. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi