RadarBanyuwangi.id - Sejarah mencatat, tas kini jadi salah satu benda paling penting selain telepon seluler bagi manusia. Tas sudah muncul sejak zaman pra-sejarah, kini tas juga bisa jadi sarana investasi.
Pada zaman prasejarah, tas terbuat dari kulit hewan dan juga kulit kayu. Tas yang menggunakan kulit diketahui digunakan untuk membawa bahan makanan.
Sedangkan yang berbahan kulit kayu, biasa dipakai manusia prasejarah untuk membawa batu.
Dari beragam sumber, kemudian diketahui jika penggunaan tas berfungsi sebagai sabuk pengencang pinggang. Di zaman Mesir kuno, motif sulaman dan hiasan di setiap tas mencerminkan status sosial orang tersebut.
Nah berbicara status sosial, kini kaum sosialita metropolitan tetap memfungsikan tas sebagai penunjuk status sosial. Tas branded tak hanya berfungsi menunjukkan status sosial pemiliknya. Lebih dari itu, tas yang dibanderol hingga miliaran rupiah tersebut juga bisa dijadikan saran investasi.
Semakin langka tas branded tersebut, semakin menaikkan harganya. Tak heran, tas bermerek terkenal yang dirawat dengan baik, tipe yang semakin langka, tentu akan semakin mahal.
Sehingga ada beberapa orang yang sengaja membeli tas untuk investasi di masa mendatang. Ketika tipe tas itu langka dan dicari orang, harganya pun melonjak dan inilah waktu yang tepat untuk menjualnya.
Kemudian kita kembali ke zaman dulu. Setelah era tas kulit dan tas kayu, tercipta tas jenis hand bag atau tas tangan. Tas ini terkesan lebih simple dan lebih praktis untuk digunakan sehari hari karena ukurannya uang yang minimalis serta fungsinya yang tepat sasaran.
Sejarah juga mencatat, saat peradaban masuk ke abad ke 18, muncul tren busana neoclassical yang sangat populer. Era itu ditandai dengan mulai banyaknya para wanita senang menggunakan pakaian minim dan terbuka.
Tak pelak, penggunaan tas kecil menjadi kurang populer lagi. Karena terlihat kurang pantas. Hal ini kemudian mendompleng penggunaan handbag dari yang mulanya untuk membawa barang, hingga dijadikan aksesori kecantikan untuk kaum perempuan.
Kemudian pada sekitar tahun 1940, banyak sekali peperangan terjadi. Hal itu secara alami membuat popularitas tas berjenis rucksack atau tas militer diciptakan. Bisa dikatakan tas model ini menjadi cikal bakal tas gendong atau biasa dikenal ransel.
Baca Juga: Hasil Rapat Pleno Komisioner KPU Banyuwangi Periode 2024-2029: Cek Selengkapnya Disini
Sebelum dibuat dengan berbagai bahan dan material kelas tinggi, tas dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti kulit sintetis, kain, hingga vinyl. Kulit asli cukup langka dan jika ada pun dijual dalam harga yang mahal, sehingga banyak orang yang menggunakan kulit sintetis sebagai alternatif bahan pembuatan tas.
Di sisi lain, penggunaan kulit sintetis justru mendominasi sebagai bahan tas di pasaran saat ini. Bahkan, jumlah produknya mencapai hingga 60 persen. (sas/bay)
Editor : Salis Ali Muhyidin