RADAR BANYUWANGI – Aroma kayu bakar dan racikan bumbu tradisional menjadi daya tarik tersendiri di Warung Sapu Jagad, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Di tengah menjamurnya tempat makan modern, warung ini justru bertahan dengan cara lama: memasak menu khas Oseng menggunakan tungku dan kayu bakar.
Bukan sekadar menawarkan makanan tradisional, Sapu Jagad juga menyimpan cerita menarik. Warung tersebut pernah menjadi tempat ratusan tamu dari Kedutaan Besar Korea Selatan menikmati sajian kuliner khas masyarakat Oseng saat berwisata di Desa Kemiren.
Kini, warung yang sempat tutup akibat pandemi Covid-19 itu kembali hidup. Pemiliknya, M Yazid Sofyan, 45, memilih mempertahankan konsep lama, termasuk mempertahankan para pemasak dan menu yang menjadi identitas Sapu Jagad.
Lokasinya cukup mudah dijangkau. Warung berada di tengah Desa Kemiren, sekitar 7 kilometer sebelah barat Kota Banyuwangi. Bagi wisatawan yang hendak menuju atau baru pulang dari kawasan TWA Ijen, Sapu Jagad bisa menjadi tempat singgah untuk mencicipi kuliner khas Oseng.
Warung buka mulai pukul 09.00 hingga 18.00, kecuali Jumat.
Pecel Pitik, Menu yang Tak Sekadar Makanan
Menu yang ditawarkan Sapu Jagad memang lekat dengan tradisi masyarakat Oseng. Ada pecel pitik, ayam kesrut, tahu walik, semanggi, serabi, hingga kucur.
Di antara deretan menu tersebut, pecel pitik menjadi salah satu sajian yang paling mencuri perhatian.
Bagi masyarakat Oseng, pecel pitik bukan sekadar hidangan sehari-hari. Menu tersebut umumnya hadir dalam momentum tertentu, seperti selamatan desa maupun ritual Barong Ider Bumi.
Namun, di Sapu Jagad, wisatawan bisa menikmati pecel pitik tanpa harus menunggu perayaan adat.
Yang menarik, Sofyan berusaha mempertahankan cita rasa pecel pitik agar tetap mendekati sajian yang digunakan masyarakat dalam ritual.
“Rasanya otentik dengan yang digunakan masyarakat saat ritual. Jadi yang ingin mencicipi bisa dicoba di sini,” tegas Sofyan.
Proses memasaknya pun masih mengandalkan cara tradisional. Tungku dan kayu bakar digunakan untuk mengolah sejumlah menu sehingga aroma serta karakter masakan tetap terjaga.
Berawal dari Ratusan Tamu Korea
Kisah kebangkitan Sapu Jagad tidak bisa dilepaskan dari pertemuan Sofyan dengan ratusan tamu dari Kedubes Korea Selatan.
Saat itu, Sofyan membawa rombongan tersebut mengikuti tur di Desa Kemiren. Setelah menyaksikan pertunjukan barong, para tamu kemudian diajak menikmati kuliner khas Oseng yang dimasak istri Sucipto, pemilik lama warung Sapu Jagad.
Respons para tamu ternyata di luar dugaan.
Mereka menikmati menu yang disajikan dan bahkan menyarankan agar hidangan tersebut bisa diperkenalkan melalui rumah makan.
“Kala itu saya membawa ratusan tamu dari Kedubes Korea Selatan yang sedang menikmati tour di Desa Kemiren. Setelah menyaksikan pertunjukan barong, mereka menikmati kuliner khas Oseng yang dimasak oleh istri dari Sucipto,” kenang Sofyan.
Warung Sapu Jagad sendiri berdiri sejak 2014. Sebelum dikelola Sofyan, warung tersebut merupakan milik seniman barong bernama Sucipto.
Pandemi Covid-19 membuat aktivitas warung terhenti. Sapu Jagad akhirnya tutup pada 2020.
Lima tahun kemudian, tepatnya Agustus 2025, Sofyan mengambil alih warung tersebut. Alih-alih mengubah konsep, dia justru memilih menghidupkan kembali Sapu Jagad dengan wajah lamanya.
“Kebetulan dulu Pak Cip punya warung Sapu Jagad, tapi sempat tutup akibat pandemi Covid-19. Pelan-pelan saya hidupkan kembali warungnya. Saya bersihkan dan belikan kursi baru dan akhirnya bisa hidup kembali,” ujarnya.
Pemasak Lama Tetap Dipertahankan
Sofyan tidak ingin kebangkitan Sapu Jagad menghilangkan karakter awal warung.
Tiga orang pemasak tetap dipertahankan. Salah satunya Holilah, istri Sucipto, yang sejak awal memang terlibat dalam pengolahan makanan di warung tersebut.
Bagi Sofyan, keberadaan pemasak lama menjadi bagian penting untuk menjaga cita rasa.
“Tidak ada yang berubah dengan konsep awal. Tukang masaknya sama, menu dan bahannya juga sama. Saya ingin tetap seperti awal, warung dengan menu khas Oseng,” katanya.
Konsep tersebut sekaligus menjadi pembeda Sapu Jagad dengan tempat makan lain. Pengunjung bukan hanya mendapatkan makanan, tetapi juga pengalaman menikmati sajian yang masih mempertahankan proses dan cita rasa tradisional.
Paket Lengkap Rp70 Ribu
Wisatawan yang ingin mencicipi beberapa menu sekaligus tidak perlu bingung memilih. Sapu Jagad menyediakan paket reguler berisi ayam kesrut, semanggi, pecel pitik, serabi, dan kucur.
Satu paket tersebut dibanderol Rp70 ribu.
“Menunya tidak berubah. Rasa tetap kita dipertahankan,” kata Sofyan.
Dengan lokasi yang berada di Desa Kemiren, warung ini menyasar masyarakat umum sekaligus wisatawan yang tengah menjelajah kawasan Kemiren dan Ijen.
“Sasaran kita untuk masyarakat umum atau wisatawan yang tengah berlibur di Ijen atau sekitar Kemiren. Warung buka pukul 09.00 sampai 18.00, kecuali hari Jumat,” jelasnya.
Di tengah derasnya perkembangan wisata kuliner Banyuwangi, Sapu Jagad memilih jalur berbeda. Bukan mengejar tampilan modern, melainkan menjaga resep, orang-orang di dapur, bahan, hingga cara memasak yang diwariskan.
Sebuah pilihan sederhana yang justru membuat kuliner khas Oseng tetap punya ruang untuk dikenali generasi sekarang dan wisatawan dari berbagai penjuru. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin