RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah menjamurnya warung makan modern dan layanan pesan antar berbasis aplikasi, sebuah lapak nasi bungkus sederhana di Jalan MH Thamrin, Banyuwangi, justru bertahan dengan cara unik. Demi mempercepat pelayanan pelanggan, pasangan penjual nasi bungkus legendaris Rojikin dan Siti Mariyam kini mengandalkan walkie talkie untuk berkomunikasi antara lapak dan dapur.
Cara tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi pasangan yang telah berjualan sejak 1998 itu, perangkat komunikasi tanpa pulsa tersebut menjadi solusi praktis setelah melewati berbagai fase perkembangan teknologi selama hampir tiga dekade menjalankan usaha.
Setiap pagi, aroma masakan rumahan dari dapur Siti Mariyam menjadi penanda dimulainya aktivitas di lapak nasi bungkus milik mereka. Pembeli datang silih berganti, mulai pekerja, pelajar, hingga pengguna jalan yang mencari sarapan atau makan siang dengan harga terjangkau.
Perjalanan usaha itu dimulai 27 tahun lalu. Dengan modal terbatas, Rojikin membuka lapak sederhana di pinggir Jalan MH Thamrin, sekitar 500 meter dari rumahnya yang berada di belakang Kantor Kelurahan Giri. Saat itu, satu bungkus nasi dijual dengan harga hanya Rp 3.000.
Kini harga nasi bungkus tersebut menjadi Rp 7.000 per porsi. Meski demikian, pelanggan tetap berdatangan karena cita rasa masakan rumahan yang konsisten dan pilihan lauk yang beragam, mulai daging sapi, ayam, ati, teri, hingga ikan laut.
Menariknya, menu favorit pelanggan justru tempe goreng yang disajikan bersama sayur terong dan serondeng jagung gratis sebagai pelengkap.
Di balik kesuksesan mempertahankan usaha selama puluhan tahun, tersimpan cerita unik tentang bagaimana pasangan tersebut mengatasi persoalan komunikasi antara tempat berjualan dan dapur produksi.
Pada masa awal berjualan, ketika stok nasi di lapak habis, Rojikin harus berlari pulang atau berteriak dari pinggir jalan untuk memberi tahu istrinya agar segera menyiapkan tambahan makanan.
"Kalau dulu saat nasi habis saya harus lari pulang atau teriak memanggil istri supaya segera menyiapkan tambahan. Capek memang, tapi itu bagian dari perjuangan kami untuk melayani pembeli," kenang Rojikin sambil tersenyum.
Sementara itu, Siti Mariyam selalu bersiaga di dapur sejak dini hari. Ia memahami bahwa teriakan suaminya dari kejauhan merupakan tanda stok makanan mulai menipis dan harus segera ditambah.
"Dulu kalau dengar teriakan, saya langsung tahu stok nasi hampir habis. Jadi harus cepat menyiapkan tambahan supaya pembeli tidak kecewa," ujarnya.
Memasuki era telepon seluler, pola komunikasi keduanya berubah. Rojikin tidak lagi berteriak atau berlari pulang. Cukup menghubungi istrinya melalui telepon saat stok makanan mulai menipis.
Namun solusi itu ternyata tidak sepenuhnya tanpa kendala. Selain harus menyediakan pulsa dan paket data, gangguan sinyal sesekali membuat komunikasi terganggu, terutama saat kondisi sedang ramai pembeli.
"Kendalanya ya harus selalu ada pulsa dan paket data. Kalau pas habis atau sinyal jelek, komunikasi jadi terhambat dan berpengaruh ke pelayanan pelanggan," kata Rojikin.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, pasangan ini akhirnya menemukan solusi yang lebih sederhana. Pada 2024 lalu, mereka memutuskan menggunakan walkie talkie sebagai alat komunikasi utama antara lapak dan rumah.
Keputusan itu terbukti efektif. Tanpa biaya pulsa maupun paket internet, informasi kebutuhan stok dapat langsung diterima dalam hitungan detik.
"Walkie talkie sangat membantu. Begitu ada informasi dari depan, saya bisa langsung menyiapkan tambahan masakan. Komunikasinya cepat dan tidak perlu khawatir pulsa habis," tutur Siti Mariyam.
Meski komunikasi kini lebih modern, proses distribusi makanan tetap dilakukan secara manual. Setelah menerima informasi melalui walkie talkie, Siti Mariyam mengantar tambahan nasi dan lauk menggunakan sepeda listrik menuju lapak di pinggir jalan.
Perjuangan tersebut bahkan sempat memakan risiko. Beberapa waktu lalu, Mariyam mengalami kecelakaan saat mengantarkan nasi ke lapak dan harus menjalani perawatan akibat luka di bagian kaki.
"Saya pernah ditabrak sepeda motor saat mengantar nasi. Kaki kiri sampai harus dijahit," ungkapnya.
Kini, berkat koordinasi yang lebih cepat melalui walkie talkie, ritme kerja pasangan tersebut semakin efisien. Stok makanan dapat segera ditambah saat menipis, sementara pelanggan tidak perlu menunggu terlalu lama ketika antrean mulai memanjang.
Bagi Rojikin dan Siti Mariyam, teknologi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Lebih dari itu, teknologi menjadi alat sederhana yang membantu mereka menjaga pelayanan dan mempertahankan usaha legendaris yang telah menemani warga Banyuwangi selama hampir tiga dekade. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin