Iran Balas Serangan AS, Konflik Mulai Menjalar ke Negara-Negara Teluk

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:01 WIB
Ilustrasi rudal Iran. (AP)
Ilustrasi rudal Iran. (AP)

RADAR BANYUWANGI — Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase yang semakin berbahaya. Iran dilaporkan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target AS di Yordania, Kuwait, Irak, dan Bahrain setelah Washington kembali menyerang wilayah Iran. Rentetan serangan lintas negara tersebut menandai meluasnya konflik sekaligus meningkatkan risiko negara-negara Teluk ikut terseret ke dalam perang terbuka.

Aksi balasan Iran terjadi setelah militer AS melancarkan operasi baru terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa. Komando Pusat AS atau Centcom menyebut serangan itu menyasar target yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan setelah IRGC disebut melakukan serangan terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz serta pasukan AS yang berada di kawasan.

Teheran kemudian merespons dengan serangkaian serangan yang tidak hanya diarahkan ke wilayah Iran, tetapi juga ke sejumlah negara yang menjadi lokasi pangkalan atau aset militer AS.

Rudal Iran Dicegat di Yordania

Salah satu serangan paling menonjol terjadi di Aqaba, Yordania. Iran dilaporkan meluncurkan rentetan rudal balistik yang menyasar pangkalan Marinir AS di wilayah tersebut.

Media semi-resmi Iran, Tasnim, menyebut serangan itu sebagai respons terhadap serangan AS di Sirik, Iran selatan.

Angkatan Bersenjata Yordania kemudian menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 13 rudal balistik.

Sebanyak 10 rudal disebut berhasil dihancurkan, sedangkan tiga lainnya jatuh di wilayah terpencil.

Tidak ada laporan mengenai korban tewas maupun luka akibat serangan tersebut.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa di Yordania, serangan ini menunjukkan perubahan signifikan dalam pola konflik. Iran mulai mengarahkan responsnya ke titik-titik yang terkait dengan keberadaan militer AS di luar wilayah Iran.

Kuwait dan Bahrain Siaga

Kuwait juga berada dalam jalur serangan balasan Iran. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara dikerahkan untuk menghadapi serangan rudal Iran pada Rabu dini hari.

Di Bahrain, sejumlah ledakan dilaporkan terjadi. Media pemerintah Iran menyebut Bahrain turut menjadi sasaran.

Posisi Bahrain membuat perkembangan tersebut mendapat perhatian khusus. Negara itu merupakan lokasi penting bagi kepentingan militer AS di kawasan karena menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.

Artinya, serangan terhadap fasilitas yang berkaitan dengan kehadiran militer Washington berpotensi memperluas medan konflik dari Iran menuju negara-negara Teluk.

Situasi tersebut juga menempatkan pemerintah negara-negara kawasan pada posisi sulit. Mereka harus menjaga keamanan wilayah masing-masing sekaligus menghadapi konsekuensi dari keberadaan aset militer AS.

Pangkalan AS di Irak Diserang

Irak juga tidak luput dari eskalasi.

Iran melaporkan serangan terhadap sejumlah pangkalan AS di wilayah Kurdistan Irak. Kantor berita Iran, Irna, menyebut IRGC menyerang sejumlah fasilitas Amerika dan mengklaim menghancurkan pusat pemeliharaan, gudang, serta sejumlah peralatan.

Klaim mengenai kerusakan tersebut belum dirinci lebih lanjut dalam laporan yang tersedia.

Serangan di Irak menambah tekanan terhadap pemerintah Baghdad. Irak selama ini berada di posisi rumit karena harus menjaga hubungan dengan Washington sekaligus menghadapi pengaruh Teheran di kawasan.

Jika serangan lintas wilayah terus berlangsung, negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan AS berpotensi semakin terseret meski tidak terlibat langsung dalam konflik Amerika-Iran.

Serangan AS Picu Balasan

Rentetan serangan Iran tidak muncul tanpa pemicu.

Sebelumnya, militer AS kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Centcom mengatakan operasi tersebut dimulai sekitar pukul 12.00 waktu Amerika Serikat bagian Timur dan berakhir pada Rabu dini hari.

Menurut Centcom, operasi itu merupakan respons terhadap apa yang disebut sebagai upaya serangan terbaru IRGC terhadap kapal komersial di Selat Hormuz serta pasukan AS di kawasan.

Washington sebelumnya juga kembali menyerang Iran setelah jeda sekitar satu bulan. AS menyatakan pasukannya menghantam dua peluncur roket yang digunakan untuk menebarkan ranjau di Selat Hormuz.

Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan udara di Yordania dan sebuah drone ke Uni Emirat Arab.

Korban Sipil di Sirik

Eskalasi terbaru semakin sensitif setelah serangan AS di wilayah selatan Iran dilaporkan menimbulkan korban sipil.

Bulan Sabit Merah Iran menyatakan lima orang, termasuk seorang anak, tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka setelah serpihan rudal AS menghantam sebuah rumah yang digunakan untuk acara pernikahan di Sirik.

Sirik berada di pesisir selatan Iran dan relatif dekat dengan kawasan strategis Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran dan Bulan Sabit Merah Iran juga melaporkan sejumlah fasilitas sipil di pesisir selatan menjadi sasaran pemboman. Ledakan disebut terdengar di Pulau Qeshm dan Bandar Abbas. Proyektil juga dilaporkan menghantam kawasan Chabahar, Konarak, serta sebuah bandara di Jiroft.

Namun, Amerika Serikat membantah menargetkan warga sipil.

Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, yang berbicara mewakili Centcom, mengatakan pihaknya mengetahui laporan mengenai insiden di Sirik.

“Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC,” ujar Hawkins.

Konflik Kini Melampaui Iran

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bagaimana konflik AS-Iran mulai bergerak keluar dari batas wilayah kedua negara.

Yordania, Kuwait, Bahrain, Irak, hingga Uni Emirat Arab kini ikut berada dalam lingkaran risiko karena memiliki kepentingan, fasilitas, atau kehadiran militer AS.

Persoalannya bukan hanya soal rudal dan drone. Setiap serangan yang melibatkan negara ketiga membuka kemungkinan terjadinya salah perhitungan yang dapat memicu respons lebih besar.

Kondisi tersebut semakin sensitif karena konflik berlangsung di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan dan energi dunia.

Jika serangan berlanjut dan mengganggu aktivitas pelayaran, dampaknya tidak lagi terbatas pada keamanan kawasan. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi menekan perdagangan, distribusi energi, dan stabilitas ekonomi global.

Untuk saat ini, serangan AS terhadap Iran telah dibalas dengan serangkaian serangan rudal dan drone ke target terkait kepentingan AS di sejumlah negara kawasan. Yordania, Kuwait, Bahrain, Irak, dan sebelumnya Uni Emirat Arab menjadi bagian dari perkembangan terbaru. Eskalasi ini menunjukkan konflik AS-Iran semakin sulit dipandang sebagai pertarungan dua negara semata. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
pangkalan AS selat hormuz rudal iran konflik AS Iran serangan iran