Drone Andalan AS Diklaim Dihancurkan Iran, Kerugian MQ-9 Reaper Makin Membengkak

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 21:15 WIB
Ilustrasi Drone MQ-9 Reaper. (GENERAL ATOMICS AERONAUTICAL)
Ilustrasi Drone MQ-9 Reaper. (GENERAL ATOMICS AERONAUTICAL)

RADAR BANYUWANGI – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menembak jatuh satu unit drone tempur MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz. Menurut IRGC, pesawat tanpa awak tersebut dilumpuhkan menggunakan sistem pertahanan udara yang disebut mengandalkan teknologi modern.

Namun hingga kini, klaim tersebut belum mendapat konfirmasi independen maupun pengakuan resmi dari pemerintah Amerika Serikat. Jika terbukti benar, insiden ini akan menjadi tambahan kerugian bagi armada drone MQ-9 Reaper yang selama ini menjadi tulang punggung operasi intelijen dan serangan presisi militer AS.

IRGC Sebut Operasi Dilakukan Pasukan Kedirgantaraan

Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin, IRGC menyebut operasi penembakan dilakukan oleh pasukan kedirgantaraannya.

Media resmi IRGC, Sepah News, juga mengonfirmasi adanya operasi tersebut dan menyatakan rincian lebih lanjut akan diumumkan kemudian.

Klaim terbaru itu menambah daftar panjang insiden yang dikaitkan dengan hilangnya drone MQ-9 Reaper sejak meningkatnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat pada akhir Februari.

Iran Klaim Puluhan Drone MQ-9 Reaper Telah Dihancurkan

Berdasarkan laporan Bloomberg, Iran mengklaim telah menghancurkan lebih dari dua lusin drone MQ-9 Reaper selama konflik berlangsung.

Jumlah tersebut disebut setara dengan hampir 20 persen dari total inventaris drone MQ-9 Reaper yang dimiliki Pentagon sebelum konflik memanas.

Dengan harga sekitar USD 30 juta atau sekitar Rp490 miliar (kurs Rp16.350 per dolar AS) per unit, nilai kerugian yang disebut-sebut mencapai sekitar USD 1 miliar.

Laporan yang sama, mengutip kesaksian di Kongres Amerika Serikat dan data dari The War Zone, menyebut armada operasional MQ-9 Reaper Angkatan Udara AS kini diperkirakan tinggal sekitar 135 unit, lebih rendah dibanding kebutuhan minimum sekitar 189 unit.

Produksi Drone Baru Dinilai Terbatas

Situasi tersebut diperparah dengan keterbatasan produksi drone baru.

General Atomics selaku produsen MQ-9 Reaper dilaporkan hanya memiliki kurang dari 10 unit pesawat yang siap dijual, sementara lini produksi varian MQ-9A disebut telah dihentikan.

Kondisi ini membuat proses penggantian armada yang hilang menjadi semakin sulit.

Klaim Operasi Nasr-2

IRGC juga mengklaim telah mendokumentasikan penghancuran 41 hingga 42 unit MQ-9 Reaper yang ditembak jatuh saat beroperasi di wilayah Iran, Teluk Persia, maupun ketika berada di pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania.

Dalam operasi balasan yang mereka sebut Operation Nasr-2, IRGC mengaku menghancurkan delapan unit MQ-9 Reaper yang masih berada di dalam kontainer di Pangkalan Udara King Faisal, Yordania, beserta sejumlah pesawat lain di landasan.

Klaim-klaim tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen.

Pentagon Akui Perlu Menambah Armada Drone

Di sisi lain, pejabat militer Amerika Serikat mengakui perlunya memperkuat kembali armada drone MQ-9 Reaper.

"Kami sedang menjajaki opsi untuk memperoleh sebanyak mungkin pesawat MQ-9A saat ini," ujar Letnan Jenderal Angkatan Udara AS David Tabor kepada Kongres.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap drone pengintai dan serang masih sangat tinggi di tengah meningkatnya dinamika keamanan di Timur Tengah.

MQ-9 Reaper Hadapi Tantangan Baru

MQ-9 Reaper selama bertahun-tahun menjadi salah satu aset utama militer Amerika Serikat dalam menjalankan misi intelijen, pengawasan, pengintaian, hingga serangan presisi di berbagai kawasan konflik.

Namun sejumlah analis menilai drone tersebut kini menghadapi tantangan baru karena harus beroperasi di wilayah yang memiliki sistem pertahanan udara semakin canggih.

Salah satu sistem yang disebut efektif adalah interceptor 358, teknologi pencegat buatan Iran yang juga dilaporkan digunakan kelompok Ansarullah di Yaman untuk menyerang drone MQ-9 Reaper dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah pejabat pertahanan Amerika Serikat juga mengakui kemampuan bertahan MQ-9 Reaper di wilayah dengan ancaman pertahanan udara tinggi menjadi perhatian serius, meski pesawat nirawak tersebut masih memegang peran penting dalam operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi independen mengenai klaim terbaru IRGC terkait penembakan drone MQ-9 Reaper di Selat Hormuz. Situasi tersebut membuat informasi mengenai insiden ini masih perlu menunggu verifikasi dari sumber-sumber lain sebelum dapat dipastikan kebenarannya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Iran AS MQ-9 Reaper drone tempur selat hormuz irgc