Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Houthi Umumkan Penutupan Total Laut Merah, Ancaman ke Kapal AS-Israel Picu Kekhawatiran Perdagangan Global

Ali Sodiqin • Sabtu, 28 Februari 2026 | 23:50 WIB

Gerakan Houthi Yaman mengumumkan penutupan total Laut Merah bagi lalu lintas kapal pelayaran internasional.
Gerakan Houthi Yaman mengumumkan penutupan total Laut Merah bagi lalu lintas kapal pelayaran internasional.

RADARBANYUWANGI.ID - Gerakan Houthi di Yaman mengumumkan penutupan total Laut Merah bagi lalu lintas kapal pelayaran internasional.

Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik regional pasca-serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pengumuman ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas jalur perdagangan global, khususnya koridor strategis yang menghubungkan Asia dan Eropa.

Menurut unggahan viral di platform X dari akun @IranObserver0, Sabtu (28/2/2026), Houthi menyatakan “total closure of the Red Sea for ships” atau penutupan penuh Laut Merah untuk semua kapal.

Klaim tersebut langsung menyebar luas dan memicu reaksi pasar serta pelaku industri pelayaran.

Solidaritas terhadap Iran

Langkah ini disebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran, sekutu utama Houthi, setelah serangan militer terbaru AS-Israel menghantam sejumlah wilayah di Iran dan memicu balasan rudal.

Sejumlah akun di X juga menyebut Houthi akan menargetkan kapal-kapal milik atau yang terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai respons atas apa yang mereka sebut agresi terhadap Iran.

Nama Yahya Saree, juru bicara militer Houthi, turut disebut dalam berbagai unggahan. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada video pernyataan resmi terbaru yang terverifikasi secara independen pada hari ini.

Bab el-Mandeb Jadi Titik Kritis

Ancaman Houthi disebut mencakup kawasan Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menjadi pintu masuk ke Laut Merah dari Teluk Aden dan akses utama menuju Terusan Suez.

Selat ini merupakan salah satu choke point terpenting dalam perdagangan global. Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan biaya logistik dan energi secara internasional.

Jika ancaman ini benar-benar diwujudkan, perusahaan pelayaran besar kemungkinan akan kembali mengalihkan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan—jalur yang lebih panjang dan mahal.

Dampak Perdagangan Global dan Indonesia

Pengalihan rute dari Laut Merah ke Tanjung Harapan dapat menambah waktu tempuh hingga 10–14 hari. Biaya bahan bakar, asuransi risiko perang, dan tarif pengiriman diperkirakan meningkat signifikan.

Bagi Indonesia, dampaknya tidak kecil. Jalur Asia–Eropa melalui Terusan Suez merupakan nadi perdagangan utama, termasuk untuk impor minyak mentah, gandum, dan barang manufaktur.

Gangguan ini berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas serta memperpanjang waktu pengiriman ke pelabuhan utama seperti Tanjung Priok dan Belawan. Efek domino pada inflasi dan rantai pasok nasional juga menjadi perhatian.

Latar Belakang Ketegangan

Houthi sebelumnya sempat menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah menyusul gencatan senjata Israel-Hamas pada Oktober 2025 dan kesepakatan tidak langsung dengan Amerika Serikat.

Namun laporan Associated Press (AP) pada 28 Februari 2026 menyebut dua pejabat Houthi mengonfirmasi rencana melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal di koridor Laut Merah sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.

Sejumlah unggahan di media sosial mengaitkan keputusan tersebut dengan serangan rudal dan drone Iran ke Israel serta laporan balasan militer AS-Israel terhadap fasilitas strategis di Iran.

Situasi ini memperbesar risiko konflik regional terbuka yang melibatkan lebih banyak aktor di Timur Tengah.

Respons Internasional Masih Ditunggu

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Pentagon maupun Kementerian Pertahanan Israel terkait klaim penutupan total Laut Merah tersebut.

Badan maritim internasional seperti International Maritime Organization (IMO) juga belum mengeluarkan pernyataan resmi.

Namun sejumlah perusahaan pelayaran dilaporkan mulai merutekan ulang kapal mereka untuk menghindari zona risiko.

Langkah antisipatif ini mencerminkan kekhawatiran industri terhadap potensi serangan rudal atau drone di jalur pelayaran yang sangat vital tersebut.

Pemerintah Indonesia Diminta Waspada

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perhubungan diimbau memantau perkembangan situasi secara intensif.

Perlindungan terhadap kapal berbendera Indonesia, kepentingan pelayaran nasional, serta stabilitas harga komoditas menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global.

Dengan Laut Merah sebagai salah satu arteri perdagangan dunia, setiap gangguan di kawasan itu tak hanya berdampak pada negara-negara Timur Tengah, tetapi juga pada ekonomi global—termasuk Indonesia.

Kini dunia menanti apakah ancaman penutupan ini akan benar-benar diterapkan, atau masih menjadi bagian dari tekanan geopolitik dalam konflik yang kian meluas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Iran ancam AS #perdagangan global #israel serang iran #Laut Merah #konflik timur tengah #as serang iran #houthi #perang teluk