Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dari Penonton Menuju Peserta Piala Dunia

T
Oleh: Adam Jamal, Dosen Administrasi Publik, Universitas Negeri Surabaya.
Oleh: Adam Jamal, Dosen Administrasi Publik, Universitas Negeri Surabaya.

Advertisement

RADARBANYUWANGI.ID - Piala Dunia selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Di banyak daerah, termasuk Banyuwangi, masyarakat rela begadang untuk menyaksikan tim-tim terbaik dunia bertanding. Warung kopi, kafe, pos ronda, hingga ruang keluarga dipenuhi diskusi tentang strategi permainan, pemain bintang, dan prediksi juara. Euforia ini menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari budaya populer yang mampu menyatukan banyak orang.

Indonesia mungkin tidak tampil sebagai peserta Piala Dunia, tetapi antusiasme masyarakat terhadap kejuaraan ini tidak pernah surut. Setiap empat tahun sekali, jutaan orang mengikuti perkembangan pertandingan dengan penuh semangat. Fenomena ini menunjukkan satu hal penting, sepak bola memiliki tempat yang sangat istimewa di hati masyarakat Indonesia.

Namun di tengah kemeriahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang patut direnungkan. Sampai kapan Indonesia hanya menjadi penonton setia Piala Dunia?

Advertisement

Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi kegembiraan masyarakat dalam menikmati pertandingan. Sebaliknya, pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan refleksi bersama. Di saat negara-negara lain berlomba menunjukkan kualitas sepak bola mereka di panggung dunia, Indonesia masih berjuang untuk mewujudkan mimpi tampil di putaran final Piala Dunia.

Padahal Indonesia memiliki modal yang besar. Jumlah penduduk yang mencapai ratusan juta jiwa menyediakan sumber talenta yang melimpah. Di berbagai daerah, lapangan sepak bola selalu menjadi ruang bermain yang hidup. Anak-anak dan remaja tumbuh dengan kecintaan terhadap olahraga ini. Turnamen antarkampung, kompetisi sekolah, hingga liga amatir terus berlangsung dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Masalahnya bukan terletak pada minimnya minat terhadap sepak bola. Tantangan utama justru berada pada aspek pembinaan yang berkelanjutan. Negara-negara yang secara rutin tampil di Piala Dunia tidak hanya mengandalkan bakat individu. Mereka membangun sistem yang kuat sejak usia dini melalui kompetisi kelompok umur, pelatih yang kompeten, fasilitas yang memadai, serta proses pencarian bakat yang berjalan secara konsisten.

Advertisement

Tantangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sepak bola modern tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemain di lapangan. Dalam perspektif administrasi publik, prestasi olahraga merupakan hasil dari tata kelola yang baik, perencanaan jangka panjang, dan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, federasi, sekolah, klub, komunitas olahraga, hingga masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan dalam membangun ekosistem pembinaan yang berkelanjutan.

Pengalaman Jepang dapat menjadi contoh yang menarik. Setelah mengalami berbagai keterbatasan pada dekade 1980-an, Jepang menyusun blueprint pengembangan sepak bola secara bertahap melalui penguatan liga profesional, pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih, serta kompetisi yang berjenjang. Program tersebut tidak dirancang untuk menghasilkan prestasi dalam waktu singkat, melainkan membangun fondasi yang kuat dalam jangka panjang. Hasilnya dapat dilihat saat Jepang kini menjadi salah satu kekuatan sepak bola Asia yang hampir selalu tampil di Piala Dunia.

Indonesia sebenarnya mulai menunjukkan perkembangan yang cukup positif dalam beberapa tahun terakhir. Prestasi tim nasional meningkat, kualitas skuad semakin kompetitif, dan dukungan masyarakat semakin besar. Namun perjalanan menuju Piala Dunia tetap membutuhkan komitmen yang panjang. Tidak ada jalan pintas untuk mencapai level tertinggi sepak bola dunia.

Karena itu, pembangunan sepak bola tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab federasi. Pemerintah daerah, sekolah, klub, komunitas olahraga, dan masyarakat perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Pembinaan usia dini harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang. Lapangan yang layak, kompetisi yang rutin, serta akses terhadap pelatihan yang berkualitas merupakan fondasi penting bagi lahirnya pemain-pemain masa depan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Drama di Toronto! Ghana Tundukkan Panama 1-0 Lewat Gol Telat, Piala Dunia 2026 Makin Sengit

Drama di Toronto! Ghana Tundukkan Panama 1-0 Lewat Gol Telat, Piala Dunia 2026 Makin Sengit

Ghana menang dramatis 1-0 atas Panama di Piala Dunia 2026 lewat gol injury time yang mengubah peta persaingan Grup L.

Cristiano Ronaldo Mandul, Portugal Gagal Menang pada Laga Perdana Piala Dunia 2026

Cristiano Ronaldo Mandul, Portugal Gagal Menang pada Laga Perdana Piala Dunia 2026

Portugal gagal menang di laga pertama Piala Dunia 2026 usai ditahan RD Kongo 1-1. Cristiano Ronaldo gagal mencetak gol.

Skotlandia vs Maroko di Piala Dunia 2026: Rekor Pertemuan Berpihak kepada Singa Atlas

Skotlandia vs Maroko di Piala Dunia 2026: Rekor Pertemuan Berpihak kepada Singa Atlas

Rekor Skotlandia vs Maroko jelang Piala Dunia 2026. Singa Atlas unggul 3-0 pada satu-satunya pertemuan sebelumnya di Piala Dunia 1998.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer