RADARBANYUWANGI.ID - Setelah sebelumnya mengungkap kisah masa kecil yang penuh luka, penyanyi muda Farel Prayoga kembali membuat publik tersentuh dengan cerita emosional lainnya.
Dalam podcast bersama Denny Sumargo, Farel mengisahkan bagaimana akhirnya ia berbicara untuk pertama kalinya dengan ibu kandungnya setelah terpisah selama 14 tahun.
Percakapan itu, kata Farel, terjadi atas dorongan sang manajer. “Om manajer bilang, Kamu enggak kepengin ngobrol sama ibu kandungmu? Terus dicariin nomornya, dan akhirnya aku bisa ngobrol via telepon,” ujar Farel.
Namun ada hal yang membuat Farel sangat terkejut. Di ujung telepon, sang ibu tidak memanggilnya Farel, melainkan "Langgeng."
"Karena memang nama asliku dulu Langgeng Prayoga. Tapi di akta kelahiran tertulis Farel. Baru kali ini aku dengar langsung suara ibu kandungku, dan itu terasa asing banget," kenangnya dengan nada lirih.
Farel pun bercerita, selama bertahun-tahun ia menyimpan kebencian terhadap ibu kandungnya.
Pandangan itu terbentuk karena cerita buruk yang terus-menerus disampaikan oleh ibu tirinya sejak kecil.
“Ibu tiri selalu bilang hal buruk soal ibu kandungku. Katanya dia pemalas, enggak kerja, bahkan pernah disebut nyari ribut sama warga sampai lapor ke RT dan dikejar. Katanya bawa parang,” ungkapnya.
Namun kini, setelah mendengar cerita langsung dari sang ibu, perlahan Farel mulai memahami kenyataan yang selama ini ditutup-tutupi.
Ia mengaku ingin mendengar penjelasan lengkap soal apa yang sebenarnya terjadi antara ibu kandung dan ibu tirinya saat mereka tinggal bersama di Makassar.
“Aku pengin tahu versi ibu kandung juga. Apa benar seperti yang ibu tiri bilang? Soalnya dulu mereka tinggal bareng,” katanya.
Meski belum sempat bertemu langsung, Farel berharap pertemuan tatap muka bisa segera terjadi.
Sang ibu kini tinggal di Banyuwangi, kota yang sama tempat Farel dibesarkan, namun ironisnya mereka hidup terpisah tanpa saling bertemu.
“Aku pengin ketemu secepatnya. Tapi sekarang aku sudah pindah ke Jakarta, sekolah dan bangun karier di sini. Ke Banyuwangi hanya kalau benar-benar perlu,” ujarnya.
Ketika ditanya ke mana Farel menumpahkan semua kesedihan dan tekanan batin yang ia alami, ia menjawab, “Ke manajerku. Beliau tempatku cerita sekarang,” katanya.
Farel juga mengungkap bahwa dalam diam, ia menyimpan rasa sayang terhadap keluarganya, meski merasa tidak disayangi balik. Ia berharap, suatu saat mereka bisa berubah.
“Aku sayang mereka, tapi sikap mereka seolah enggak sayang aku. Aku nyesel juga dulu terlalu labil," cetusnya.
Editor : Agung Sedana