RADARBANYUWANGI.ID – Suara lirih namun menggetarkan itu terdengar di tengah riuh Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAIA), Jeddah.
“Alhamdulillah… Mbah tekan kene…” (Mbah sampai di sini), ucap seorang perempuan lanjut usia dengan bibir gemetar, penuh syukur.
Ia adalah Mbah Sumbuk, jemaah haji asal Indonesia yang berusia 109 tahun, tercatat sebagai jemaah tertua pada musim haji 2025.
Lahir pada tahun 1916 di Kebumen, Jawa Tengah, Mbah Sumbuk tiba di Tanah Suci bersama kloter JKS-33 pada Minggu (18/5).
Mengenakan kerudung abu-abu dan baju batik cokelat, tubuhnya dibalut selimut oranye gelap.
Ia duduk di kursi roda, dikelilingi keluarganya, dan disambut hangat oleh petugas haji yang turut terharu menyaksikan momen bersejarah itu.
Perjalanan Iman Seabad Lebih
Mbah Sumbuk tak sendiri dalam ibadah haji ini. Ia didampingi oleh empat anggota keluarga inti, termasuk anak kesepuluhnya, Sukmi (56).
Perjalanan udara selama 10 jam tentu melelahkan bagi perempuan sepuh itu, namun semangatnya tak pernah padam.
Saat tiba, permintaan pertamanya bukan makanan mewah, melainkan sesuatu yang sederhana namun penuh kenangan: lemet — makanan tradisional dari singkong parut dan gula jawa.
“Ngendi lemete, Le? Kowe ngerti ora, ana lemet ora neng kene?” tanyanya pelan dalam Bahasa Jawa, menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Kebetulan, salah satu petugas haji, Warijan, juga berasal dari Kebumen. Percakapan hangat pun tercipta.
“Yo wis, melok nyong wae yo nang Makkah. Bareng-bareng wae, Le,” ajak Mbah Sumbuk yang langsung membuat suasana menjadi haru.
Fasilitas Khusus untuk Lansia
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama telah menyiapkan fasilitas khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas.
Untuk Mbah Sumbuk, disediakan bus dengan lift hidrolik, yang memungkinkan kursi rodanya langsung diangkat ke dalam tanpa perlu berpindah.
Petugas juga sigap memenuhi kebutuhannya, termasuk saat ia meminta air karena tak sempat makan selama penerbangan.
“Perjalanan Mbah Sumbuk ini bukan sekadar haji. Ini adalah ziarah cinta. Di usianya yang lebih dari satu abad, beliau hadir bukan karena kekuatan fisik, tapi karena kekuatan hati,” ujar salah satu petugas.
Jejak Iman dari Kursi Roda
Bagi banyak orang, haji adalah puncak ibadah. Tapi bagi Mbah Sumbuk, ini adalah kulminasi dari perjalanan hidup penuh kesabaran.
Di saat orang seusianya mungkin sudah tak mampu bangkit dari tempat tidur, ia justru menjawab panggilan Allah dengan tekad dan cinta. Ia mungkin tak bisa berjalan mengelilingi Ka’bah.
Namun, setiap putaran roda kursinya adalah jejak iman. Ia mungkin tak memahami teknologi dan aplikasi haji, tetapi hatinya sudah lama terpaut pada Baitullah.
Kisah Mbah Sumbuk bukan sekadar potret seorang jemaah lansia, melainkan pengingat tentang arti sabar, syukur, dan cinta dalam menjalani hidup.
Semoga langkahnya menjadi amal jariyah, dan doanya dikabulkan di Tanah Suci. (*)
Editor : Ali Sodiqin