RADAR BANYUWANGI – Film pendek SATRIA (Santri Patriot Bangsa) punya daya tarik yang tidak biasa. Selain berhasil meraih Juara I Lomba Film Pendek Situbondoan 2026, film karya penulis sekaligus sutradara Andi Ahmad Miskil Khitam itu juga menghadirkan sosok penting dari lingkungan pesantren sebagai salah satu pemeran.
Dia adalah KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D., Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo.
Keterlibatan KHR Ach. Azaim Ibrahimy dalam film tersebut memberikan warna tersendiri bagi SATRIA. Terlebih, film ini memang membawa cerita tentang dunia pesantren, perjuangan seorang santri, serta mimpi mengabdi kepada bangsa melalui dunia militer.
Baca Juga: Siapa Kiai Azaim? Diamnya Ulama Situbondo Ini Bikin Publik Penasaran Pasca Munas NU 2026
Setelah menyabet gelar juara dalam ajang yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Situbondo itu, SATRIA dijadwalkan segera tayang di KCM Roxy Situbondo.
Kehadiran KHR Ach. Azaim Ibrahimy sebagai pemeran menjadi salah satu daya tarik yang membuat film tersebut layak dinantikan.
Bukan semata karena statusnya sebagai pengasuh pesantren.
Namun juga karena film SATRIA berusaha mempertemukan dua dunia yang selama ini kerap dipandang terpisah: nilai-nilai kesantrian dan semangat pengabdian kepada bangsa.
Ketika Pengasuh Pesantren Turun ke Layar
SATRIA mengisahkan perjalanan Bharaka, seorang pemuda yang memiliki cita-cita menjadi prajurit TNI.
Baca Juga: Santri China dan Uzbekistan Pilih Mondok di Sukorejo, Kiai Azaim Beri Pesan Menyentuh
Namun, keinginan tersebut harus ditunda ketika sang ibu meminta Bharaka menempuh pendidikan di pesantren.
Di situlah konflik cerita dimulai.
Bharaka dihadapkan pada pergulatan batin.
Di satu sisi, ada mimpi yang ingin dikejar.
Di sisi lain, ada keinginan orang tua yang harus dihormati.
Dalam perjalanan tersebut, Bharaka justru menemukan makna yang lebih dalam tentang ketaatan, kesabaran, disiplin, dan perjuangan.
Pesan utama yang ingin disampaikan film ini terangkum dalam kalimat:
"Tidak semua jalan menuju cita-cita harus ditempuh dengan melawan. Terkadang, jalan itu justru ditemukan lewat ketaatan."
Kehadiran KHR Ach. Azaim Ibrahimy sebagai salah satu pemeran semakin memperkuat latar pesantren yang menjadi jantung cerita.
Sosoknya tidak hanya hadir sebagai nama besar dari lingkungan pesantren.
Keterlibatannya juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan narasi pendidikan pesantren dengan gagasan pengabdian kepada bangsa.
Santri Tak Hanya Sarungan dan Mengaji
Penulis sekaligus sutradara SATRIA, Andi Ahmad Miskil Khitam, memiliki alasan kuat mengangkat kisah tersebut ke layar.
Sebagai pelatih ekstrakurikuler SATRIA (Santri Patriot Bangsa), Andi bersinggungan langsung dengan sejumlah santri yang memiliki cita-cita menjadi anggota TNI maupun Polri.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi cerita.
Baca Juga: Nyai Djuwairiyah Fawaid Apresiasi Jawa Pos Radar Situbondo
Ia ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap santri.
Menurutnya, santri tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi tradisional sebagai seseorang yang identik dengan sarung, mengaji, dan belajar ilmu agama.
Santri, kata Andi, memiliki kemampuan untuk berkiprah di berbagai bidang.
Termasuk menjadi prajurit TNI maupun anggota Polri.
"Saya ingin mengangkat bahwa sebenarnya santri itu tidak selalu dalam kacamata konvensional yang hanya sarungan, ngaji, belajar ilmu agama dan sebagainya. Santri itu komplet, kapabel dalam banyak hal, dan mampu menjadi jawaban atas berbagai kebutuhan masyarakat," ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi semakin kuat karena SATRIA tidak hanya bercerita tentang seorang santri yang ingin menjadi prajurit.
Baca Juga: Resmi! Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo Miliki Rektor dan Dekan Baru, Ini Nama-Namanya
Film ini juga ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperoleh dari pesantren justru dapat menjadi bekal dalam menjalani pengabdian.
Kisah yang Terinspirasi dari Santri Sukorejo
Cerita SATRIA tidak sepenuhnya lahir dari fiksi.
Film tersebut terinspirasi dari beberapa kisah nyata santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo yang memiliki cita-cita untuk menjadi anggota TNI maupun Polri.
Kisah-kisah tersebut kemudian diramu menjadi sebuah cerita yang lebih utuh.
Di dalamnya terdapat perjuangan seorang pemuda dalam menghadapi pilihan hidup, hubungan dengan orang tua, proses pendidikan di pesantren, hingga upaya mengejar cita-cita.
Di titik inilah keterlibatan KHR Ach. Azaim Ibrahimy sebagai pemeran menjadi semakin relevan.
Sosok yang dikenal sebagai pengasuh pesantren tersebut hadir dalam film yang juga berbicara tentang bagaimana pesantren membentuk karakter generasi muda.
Pesantren tidak digambarkan sebagai ruang yang membatasi masa depan.
Justru sebaliknya.
Pesantren menjadi tempat seseorang belajar sebelum terjun lebih luas ke tengah masyarakat.
Harapan untuk Santri yang Ingin Jadi Prajurit
Andi berharap SATRIA dapat memberikan inspirasi kepada para santri yang memiliki cita-cita berkarier di dunia militer.
Menurutnya, seorang santri tetap dapat menjadi tentara atau polisi tanpa harus kehilangan identitas dan nilai-nilai yang diperoleh selama belajar di pesantren.
"Melalui film ini saya berharap bisa menginspirasi para santri yang ingin berkiprah di dunia militer, bahwa mereka tetap bisa menjadi tentara atau polisi dengan tetap membawa nilai-nilai jiwa sebagai seorang santri," tuturnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama film.
Sebab, menjadi prajurit bukan hanya perkara kemampuan fisik.
Ada disiplin, tanggung jawab, loyalitas, dan pengabdian.
Nilai-nilai tersebut memiliki irisan kuat dengan pendidikan karakter yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan pesantren.
Juara I, Bukan Akhir Perjalanan
Kerja keras seluruh tim produksi akhirnya membuahkan hasil.
SATRIA berhasil meraih Juara I Lomba Film Pendek Situbondoan 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Situbondo.
Andi menyebut keberhasilan tersebut sebagai buah dari kerja kolektif.
"Saya mengucapkan terima kasih pertama-tama kepada Allah SWT atas anugerah dimenangkannya film ini sebagai Juara I Lomba Film Situbondoan. Semua ini bisa terwujud atas izin Allah," ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para produser, kru, pemain, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses produksi.
"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut terlibat dalam pembuatan film ini. Semua ini tidak akan terwujud tanpa kekompakan dari semua pihak," katanya.
Kini, SATRIA memasuki babak baru.
Film tersebut dijadwalkan segera tayang di KCM Roxy Situbondo.
Masyarakat akan memiliki kesempatan untuk menyaksikan langsung kisah Bharaka sekaligus melihat penampilan KHR Ach. Azaim Ibrahimy sebagai salah satu pemeran.
Film, Pesantren, dan Pengabdian
Dukungan terhadap film yang lahir dari lingkungan pesantren juga disampaikan Zaehol Fatah, Kepala Bagian Kreator Pesantren sekaligus Ketua S3TV.
Menurutnya, film memiliki kekuatan sebagai media pendidikan sekaligus sarana menyampaikan pesan kepada masyarakat.
"Saya mendukung perkembangan film di pesantren, karena sesungguhnya film merupakan edukasi yang sangat baik, dan dalam posisi lain digunakan sebagai soft war dalam bernegara," ujarnya.
Bagi SATRIA, layar film menjadi ruang untuk memperkenalkan wajah lain dunia pesantren.
Wajah yang menunjukkan bahwa santri dapat memiliki mimpi besar.
Mereka dapat menjadi akademisi.
Pengusaha.
Profesional.
Bahkan prajurit TNI maupun anggota Polri.
Dan semua itu tidak harus membuat mereka meninggalkan nilai-nilai kesantrian.
Di tengah cerita itulah kehadiran KHR Ach. Azaim Ibrahimy sebagai pemeran menjadi bagian penting dari film SATRIA.
Sebab, film ini bukan hanya bercerita tentang seorang santri yang mengejar cita-cita.
SATRIA juga mencoba menunjukkan bagaimana pesantren, pendidikan karakter, dan semangat kebangsaan dapat bertemu dalam satu cerita.
Setelah meraih Juara I Film Pendek Situbondoan 2026, kini masyarakat tinggal menunggu SATRIA hadir di layar KCM Roxy.
Sebuah film tentang santri.
Tentang cita-cita.
Tentang ketaatan.
Dan tentang satu pesan penting: jalan menuju pengabdian kepada bangsa tidak harus membuat seseorang kehilangan jati dirinya sebagai santri. (*)
Editor : Ali Sodiqin