RadarBanyuwangi.id – Masyarakat Suku Osing punya kuliner khas yang nyaris punah dan jarang ditemui. Nasi bekamal namanya. Makanan tersebut berupa daging sapi atau kambing yang sudah dibumbui dengan gula jawa, garam, dan beberapa rempah-rempah lalu difermentasi selama sepuluh hari.
Bagi warga yang tinggal di pedesaan, khususnya masyarakat Osing sangat familiar dengan nasi bekamal. Sayangnya, menu masakan tersebut semakin jarang ditemukan. Untuk memasak nasi bekamal butuh waktu dan proses panjang.
Caranya, daging sapi atau kambing dicuci bersih lalu dipotong sebesar dadu. Selanjutnya ditumis dengan cabai, bawang merah, dan bawang putih, serta tomat. Setelah bumbunya lengkap, baru daging tersebut disimpan di dalam kendil lalu ditutup rapat-ratap hingga berhari-hari minimal sepuluh hari.
Setelah dianggap matang, baru bekamal diambil sedikit-sedikit untuk dimasak tumis dijadikan lauk pauk. Masyarakat Osing biasanya membuat bekamal pada saat momen Hari Raya Idul Adha karena stok daging melimpah. ”Agar daging awet dan tetap bisa dikonsumsi, salah satu caranya disimpan dengan cara dibuat bekamal ini,” ungkap Heni Widayati, 45, warga Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari.
Tidak hanya daging sapi maupun kambing. Yang tak kalah sedap untuk sajian bekamal adalah jeroan seperti hati sapi atau kambing. Bekamal merupakan menu yang cukup mahal dan perlakuannya juga berbeda dengan daging segar pada umumnya. Agar lebih banyak porsinya, terkadang daging juga dicampur dengan tempe.
”Kualitas rasanya setelah disimpan dengan bumbu jadi berbeda, lebih sedap. Karena bumbu meresap hingga ke daging setelah disimpan berhari-hari,” ujar ibu dua anak ini.
Selama ini, masyarakat di Desa Gintangan membuat bekamal hanya untuk konsumsi pribadi dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah tua. Sedangkan generasi muda, jarang ada yang membuat bekamal karena prosesnya yang lama dan cukup memakan waktu. ”Kadang kangen dengan masakan menu-menu kuno, karena cita rasanya memang berbeda,” jelas Heni kepada RadarBanyuwangi.id.
Karena dianggap makanan langka, Heni kembali melestarikan kuliner khas masyarakat Osing tersebut. Bekamal juga dijadikan variasi lauk isian sego jajang atau nasi bambu untuk suguhan jika ada wisatawan datang ke Desa Gintangan yang terkenal sebagai desa penghasil kerajinan bambu tersebut. ”Aromanya memang khas, tapi katanya kalau disimpan lebih lama lebih enak,” katanya sambil tersenyum.
Nasi jajang bakar buatannya terbuat dari nasi gurih, yaitu nasi yang ketika proses memasak dicampur dengan air santan kelapa. Setelah nasi matang, kemudian nasi dibeber di atas daun pisang lalu diisi tumisan bekamal. Setelah terisi variasi lauk bekamal, lalu dibungkus dengan bentuk seperti lontong dan dimasukkan ke dalam bambu. Selanjutnya nasi di dalam bambu tersebut dibakar.
Untuk mengetahui nasi sudah matang dan siap disantap atau belum, hanya tinggal melihat permukaan bambu. ”Bambu jika dibakar akan mengeluarkan air. Jika airnya sudah kering, maka bisa dipastikan nasi sudah matang,” terang Heni.
Setelah matang, permukaan bambu yang sudah kering tinggal disajikan ke atas cobek. Sementara untuk lauk tambahannya bisa dipadu dengan tempe bakar atau tempe goreng.
Nasi jajang isi bekamal ini dipastikan fresh dan segar, karena disajikan kondisi masih panas atau hangat. Menu masakan ini merupakan menu kuno yang sangat jarang ditemukan di Banyuwangi. Namun, bagi masyarakat di Desa Gintangan menu tersebut masih ada dan tersedia. Apalagi, tanaman daun pisang dan bambu juga masih melimpah.
Untuk meminimalkan aroma khas daging bekamal, sebelum dimasak biasanya dicuci dengan air bersih lalu direndam selama semalaman. Selain mengurangi aroma khas agar tidak menyeruak ke indra penciuman, juga untuk mengurangi rasa asin yang dominan. ”Untuk menu pedas bisa menyesuaikan selera, yang pasti menu ini sangat langka dan unik karena prosesnya lumayan menyita waktu,” tandasnya. (ddy/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin