IHSG Jatuh ke 6.589, Rupiah Melemah, Harga Emas Antam Naik Rp15.000

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 16:39 WIB
Harga emas Antam menguat menjadi Rp2.625.000 per gram pada Kamis (10/9), ketika IHSG dan rupiah justru mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian pasar global. (ChatGPT)
Harga emas Antam menguat menjadi Rp2.625.000 per gram pada Kamis (10/9), ketika IHSG dan rupiah justru mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian pasar global. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia bergerak berlawanan pada perdagangan Kamis (10/9). IHSG anjlok 1,33 persen ke level 6.589,33 dan rupiah melemah ke Rp17.547 per dolar AS. Di tengah tekanan tersebut, harga emas Antam justru naik Rp15.000 menjadi Rp2.625.000 per gram.

Pergerakan tiga aset tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor menghadapi gejolak pasar global. Kenaikan harga minyak mentah, tingginya imbal hasil US Treasury, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve menjadi sejumlah faktor yang membebani aset berisiko.

Kondisi itu mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio. Dana cenderung bergerak dari instrumen yang lebih berisiko menuju aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas.

IHSG Sempat Menguat, Kemudian Berbalik Turun

IHSG sebenarnya mengawali perdagangan dengan optimisme terbatas. Pada pembukaan pukul 09.00 WIB, indeks sempat naik sekitar 0,15 hingga 0,20 persen ke level 6.691,40. IHSG bahkan menyentuh posisi tertinggi harian di 6.712,50.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan. Tekanan jual kemudian meningkat dan membuat indeks berbalik arah.

Pada akhir Sesi I, IHSG turun 0,14 persen atau 9,68 poin ke level 6.668,52. Tekanan semakin kuat pada sesi kedua hingga indeks sempat merosot 1 persen ke level 6.611,70 sekitar pukul 14.25 WIB.

IHSG akhirnya ditutup di level 6.589,33, turun 88,86 poin atau 1,33 persen dari perdagangan sebelumnya.

Aktivitas transaksi juga sangat besar. Nilai perdagangan saham mencapai Rp21,04 triliun dengan volume 47,12 miliar saham.

Dari 793 saham yang bergerak, sebanyak 516 saham berakhir melemah. Hanya 150 saham yang menguat, sementara 127 saham stagnan.

Investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih. Pada Sesi I saja, net foreign sell mencapai Rp1,31 triliun. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA dan DSSA termasuk yang mengalami pelepasan oleh investor asing.

Sektor energi menjadi salah satu pemberat terbesar IHSG dengan penurunan 2,06 persen. Sektor transportasi dan logistik turun 1,80 persen, sedangkan sektor infrastruktur melemah 1,31 persen.

Di jajaran LQ45, tekanan cukup dalam terlihat pada saham PT Indika Energy Tbk (INDY) yang turun 7,69 persen, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melemah 4,98 persen, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 4,50 persen.

Rupiah Melemah ke Rp17.547 per Dolar AS

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Rupiah juga mengalami pelemahan setelah sempat dibuka menguat tipis.

Di pasar spot, rupiah dibuka pada level Rp17.510 per dolar AS. Namun, mata uang tersebut kemudian berbalik melemah dan ditutup di level Rp17.547 per dolar AS.

Posisi tersebut berarti rupiah terdepresiasi 0,20 persen atau 37 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan pasokan valuta asing domestik.

Tekanan juga berkaitan dengan meningkatnya imbal hasil US Treasury. Ketika imbal hasil aset Amerika Serikat meningkat, selisih imbal hasil dengan aset domestik dapat berubah dan memengaruhi daya tarik investasi di Indonesia.

Arus dana asing yang keluar dari pasar saham juga dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk repatriasi modal. Kombinasi faktor tersebut menambah tantangan bagi stabilitas rupiah.

Harga Emas Justru Menguat

Ketika saham dan rupiah tertekan, emas bergerak ke arah sebaliknya.

Harga emas dunia spot melonjak lebih dari 1,5 persen hingga mencapai USD 4.418,71 per troy ounce. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 juga naik 0,6 persen menjadi USD 4.464,30 per troy ounce.

Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya permintaan lindung nilai atau hedging terhadap risiko inflasi dan ketidakpastian pasar. Investor juga menanti data inflasi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve.

Di pasar domestik, harga emas Antam pecahan 1 gram naik Rp15.000 menjadi Rp2.625.000 per gram. Harga buyback juga naik Rp15.000 menjadi Rp2.475.000 per gram.

Dengan demikian, terdapat selisih Rp150.000 antara harga jual dan harga pembelian kembali tersebut. Bagi masyarakat yang mempertimbangkan emas sebagai investasi, selisih harga ini menjadi salah satu komponen yang perlu diperhitungkan, terutama untuk strategi jangka pendek.

Di jaringan Pegadaian, harga emas juga meningkat pada sejumlah merek. Untuk pecahan 1 gram, harga Antam tercatat Rp2.665.000, Galeri24 Rp2.574.000, dan UBS Rp2.600.000.

Pasar Menunggu Arah Kebijakan Bank Sentral

Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat serta sinyal kebijakan Federal Reserve dan Bank Indonesia.

Dalam laporan analisis, pelemahan IHSG dinilai masih berpotensi berlanjut apabila tekanan dari bursa Amerika Serikat dan pasar minyak belum mereda. Perpindahan dana dari saham dan mata uang menuju emas juga menjadi indikasi meningkatnya sikap risk-off investor.

Bagi masyarakat Banyuwangi yang mengikuti perkembangan investasi, perubahan tersebut menunjukkan bahwa pasar keuangan domestik sangat dipengaruhi perkembangan global. Pergerakan harga minyak, imbal hasil obligasi AS, kebijakan bank sentral, dan arus modal asing pada akhirnya dapat ikut memengaruhi saham, rupiah, maupun harga emas yang menjadi perhatian investor di dalam negeri.

Untuk saat ini, tiga angka menjadi gambaran utama perdagangan Kamis: IHSG 6.589,33, rupiah Rp17.547 per dolar AS, dan emas Antam Rp2.625.000 per gram.

Ketiganya menunjukkan arah yang berbeda ketika investor menghadapi periode ketidakpastian global.

Editor : Lugas Rumpakaadi
pasar keuangan investasi ihsg rupiah harga emas antam