RADAR BANYUWANGI - Gejolak harga minyak mentah dan ketegangan geopolitik kembali membuat pasar keuangan Indonesia bergerak hati-hati. Pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, IHSG dan Rupiah diproyeksikan cenderung bergerak sideways, sementara harga emas masih berkonsolidasi di tengah tarik-menarik sentimen global.
Harga minyak mentah Brent disebut telah menembus kisaran USD 100 hingga USD 101 per barel setelah meningkatnya ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi impor dan membuat pelaku pasar kembali mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed.
Perhatian pasar juga tertuju pada data Producer Price Index (PPI) dan klaim tunjangan pengangguran Amerika Serikat. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed sekaligus arah dolar AS dan pasar keuangan global.
Di dalam negeri, kondisi fundamental masih menjadi penyangga. Cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026 berada di kisaran USD 146,5 miliar. Indeks Keyakinan Konsumen juga tercatat 118,5, sementara penjualan ritel domestik menunjukkan tren positif. Bank Indonesia turut melakukan stabilisasi di pasar valuta asing untuk meredam dampak gejolak eksternal.
IHSG Masih Berpeluang Menguat Terbatas
IHSG menutup perdagangan Rabu, 9 September 2026, di level 6.678,20 atau turun 8,24 poin setara 0,12 persen. Sebelum ditutup melemah, indeks sempat menguji level psikologis 6.700 pada awal sesi perdagangan.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah aksi ambil untung, resistensi teknikal, pelemahan mayoritas indeks bursa Asia, serta koreksi Wall Street selama tiga hari berturut-turut. Pergerakan itu masih dinilai sebagai bagian dari konsolidasi pasar di tengah ketidakpastian harga komoditas energi.
Memasuki perdagangan 10 September, IHSG masih memiliki peluang untuk menguat, meski ruangnya diperkirakan terbatas. Secara teknikal, indeks berhasil bertahan di atas MA5. Stochastic RSI juga mengindikasikan peluang pembentukan Golden Cross, meski momentum kenaikan belum sepenuhnya kuat karena histogram positif MACD mulai menyempit.
Sejumlah proyeksi yang dihimpun menunjukkan kisaran pergerakan IHSG yang tidak terlalu jauh. Phintraco Sekuritas memperkirakan indeks bergerak sideways pada area 6.600-6.700. MNC Sekuritas melihat peluang penguatan terbatas dengan support terdekat 6.663 dan resistance 6.683. Sementara BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG berkonsolidasi di kisaran 6.600-6.720.
Sektor energi dan pertambangan menjadi salah satu perhatian karena penguatan harga batu bara dan tembaga berpotensi memberikan dukungan terhadap saham-saham komoditas. Di sisi lain, sektor perbankan dan barang konsumsi masih menghadapi tekanan.
Rupiah Diproyeksi Bergerak di Rp17.600-Rp17.800 per Dolar AS
Rupiah menunjukkan ketahanan di tengah gejolak pasar global. Pada penutupan perdagangan pekan ini, Rupiah berada di kisaran Rp17.511 hingga Rp17.529 per dolar AS di pasar spot.
Untuk perdagangan Kamis, Rupiah diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat terbatas. Finex Bisnis Solusi Futures memproyeksikan kurs berada dalam rentang Rp17.600-Rp17.800 per dolar AS. Support diperkirakan berada pada Rp17.500-Rp17.600, sedangkan resistance berada di Rp17.700-Rp17.800.
Arah Rupiah akan ditentukan oleh tarik-menarik antara faktor global dan domestik. Indeks Dolar AS atau DXY yang cenderung melemah memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang. Namun, kenaikan harga minyak dapat kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat dan mendorong penguatan dolar.
Karena itu, pasar memilih bersikap wait and see menjelang data PPI dan klaim pengangguran AS. Jika PPI meningkat, imbal hasil US Treasury berpotensi naik dan dolar AS kembali mendapatkan dukungan.
Tekanan dari luar negeri masih mendapat penahan dari kondisi domestik. Kenaikan cadangan devisa menjadi USD 146,5 miliar, operasi Bank Indonesia di pasar spot dan DNDF, serta kinerja penjualan riil domestik menjadi faktor yang membantu menjaga ketahanan Rupiah.
Emas Antam Masih Bertahan di Atas Rp2,6 Juta
Sementara saham dan Rupiah menghadapi tekanan sentimen global, pasar emas bergerak dalam pola konsolidasi. Harga emas spot dunia menjelang perdagangan Kamis berada di kisaran USD 4.401,33 hingga USD 4.403 per troy ons.
Harga emas menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Data tenaga kerja AS yang solid meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan hawkish. Namun, ketegangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz kembali mengaktifkan fungsi emas sebagai aset safe haven sehingga koreksinya tidak terlalu dalam.
Dalam proyeksi jangka panjang yang tercantum, emas dunia masih berada dalam tren bullish dengan sasaran pada kisaran USD 4.500 hingga USD 4.862 per troy ons.
Di pasar domestik, harga emas batangan Antam pada Rabu, 9 September 2026, tercatat Rp2.610.000 per gram. Harga tersebut turun Rp17.000 dibandingkan sebelumnya. Harga buyback Antam juga turun Rp20.000 menjadi Rp2.460.000 per gram.
Penurunan harga emas Antam disebut berkaitan dengan penyesuaian harga emas dunia serta penguatan Rupiah yang mengurangi nilai konversi emas ke mata uang lokal.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan emas Antam masih berpotensi melemah pada perdagangan Kamis. Namun, pelemahan diperkirakan terbatas dan harga emas dinilai masih mampu bertahan di atas level psikologis Rp2.600.000 per gram.
Secara historis, harga tersebut masih sekitar 16,6 persen di bawah rekor tertinggi Rp3.168.000 per gram yang dicapai pada 29 Januari 2026. Kendati demikian, secara year-to-date harga emas masih naik sekitar 6,1 persen dibandingkan posisi awal tahun sebesar Rp2.488.000 per gram.
Apa Artinya bagi Masyarakat Banyuwangi?
Pergerakan pasar tersebut menunjukkan bahwa kondisi global tetap memiliki pengaruh besar terhadap aset investasi yang banyak diperhatikan masyarakat. Harga minyak, kebijakan The Fed, nilai dolar AS, serta konflik geopolitik dapat bergerak saling berkaitan dan kemudian memengaruhi saham, Rupiah, maupun emas.
Bagi masyarakat Banyuwangi yang mengikuti investasi saham atau menjadikan emas sebagai salah satu pilihan penyimpanan nilai, kondisi seperti ini membuat keputusan investasi perlu dilakukan secara lebih terukur. Pergerakan harian tidak selalu menunjukkan perubahan tren jangka panjang sehingga risiko dan tujuan investasi tetap perlu menjadi pertimbangan utama.
Dalam proyeksi tersebut, investor disarankan lebih selektif dalam memilih saham ketika IHSG bergerak sideways. Saham sektor pertambangan seperti PTBA dan TINS disebut berpotensi mendapat manfaat dari penguatan komoditas, sedangkan HMSP dan TOWR dipandang memiliki karakteristik yang lebih defensif.
Untuk emas, stabilitas harga di atas Rp2,6 juta per gram dinilai membuka peluang akumulasi secara bertahap. Namun, hal tersebut merupakan bagian dari analisis dalam laporan dan bukan jaminan bahwa harga emas akan terus naik.
Perdagangan 10 September 2026 akan menjadi ujian bagi ketahanan pasar Indonesia menghadapi kombinasi tekanan global dan kekuatan fundamental domestik. IHSG dan Rupiah diperkirakan masih bergerak terbatas, sementara emas berusaha mempertahankan posisinya di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga AS.
DISCLAIMER: Proyeksi IHSG, Rupiah, dan emas dalam artikel ini merupakan hasil analisis. Proyeksi pasar bukan kepastian pergerakan harga dan bukan rekomendasi investasi individual.
Editor : Lugas Rumpakaadi