RADAR BANYUWANGI - IHSG, rupiah, dan harga emas sama-sama menguat pada perdagangan Kamis (3/9). IHSG naik 1,09 persen, rupiah menguat ke Rp17.679 per dolar AS, sedangkan harga emas batangan Antam bertambah Rp15.000 per gram.
Pergerakan positif tersebut terjadi setelah pasar keuangan Indonesia sebelumnya menghadapi tekanan. Perbaikan sentimen global dan kembali masuknya dana investor asing menjadi sejumlah faktor yang membantu pasar berbalik menguat.
Bagi masyarakat Banyuwangi, pergerakan tiga instrumen tersebut bisa diterjemahkan menjadi berbagai hal. Perubahan nilai tukar dapat berkaitan dengan harga barang yang memiliki komponen impor, sementara kenaikan harga emas menjadi perhatian bagi masyarakat yang menjadikan logam mulia sebagai salah satu pilihan untuk menyimpan aset.
IHSG Rebound, Investor Asing Kembali Membeli
IHSG mengakhiri perdagangan di level 6.667,80, naik 72,10 poin dibandingkan posisi sebelumnya. Sejak pembukaan di level 6.632,83, indeks bertahan di zona positif hingga penutupan.
Aktivitas perdagangan juga meningkat. Nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp17,7 triliun. Pada paruh pertama perdagangan, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih Rp554,5 miliar.
Dana asing tersebut antara lain mengalir ke sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk Bank Mandiri dan Bank Central Asia. Minat juga terlihat pada saham sektor barang konsumen dan manufaktur seperti Charoen Pokphand Indonesia serta Astra International.
Penguatan tersebut muncul setelah tekanan yang berkaitan dengan rebalancing indeks MSCI mulai mereda. Estimasi arus dana keluar pasif sekitar USD 200 juta sebelumnya telah terserap oleh pasar pada pekan sebelumnya.
Artinya, pasar mulai memiliki ruang untuk kembali memperhatikan faktor fundamental dan sentimen global setelah melewati periode penyesuaian portofolio.
Rupiah Berbalik Menguat
Kabar positif juga datang dari pasar valuta asing. Rupiah yang sebelumnya melemah selama tiga hari berturut-turut berbalik menguat pada perdagangan Kamis.
Di pasar spot, rupiah ditutup pada Rp17.679 per dolar AS. Angka tersebut berarti rupiah menguat 84 poin atau 0,47 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.763 per dolar AS.
Posisi tersebut menjadi level terkuat rupiah sejak Mei 2026. Sementara itu, JISDOR Bank Indonesia berada di level Rp17.689 per dolar AS, menguat 81 poin atau 0,46 persen dari posisi sehari sebelumnya.
Salah satu pemicunya berasal dari Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan swasta AS menunjukkan penambahan 38.000 pekerjaan pada Agustus 2026, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 47.000 pekerjaan.
Data tersebut mendorong ekspektasi bahwa pasar tenaga kerja AS mulai mengalami perlambatan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menurun dari posisi tingginya, sementara dolar AS mengalami tekanan.
Dari dalam negeri, kondisi fundamental Indonesia ikut menjadi penyangga. Surplus perdagangan barang Indonesia selama Januari-Juli 2026 tercatat USD 3,70 miliar. Inflasi Agustus berada di 0,21 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan.
Harga Emas Antam Naik Rp15.000 per Gram
Sementara saham dan rupiah menguat, emas juga bergerak naik.
Harga emas spot dunia pulih sekitar 1,1 persen pada Kamis. Pergerakannya berada di kisaran USD 4.376,41 hingga USD 4.438,30 per troy ounce.
Pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat emas kembali menarik bagi sebagian pelaku pasar. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut memperkuat permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Di pasar domestik, harga emas batangan Antam naik dari Rp2.624.000 menjadi Rp2.639.000 per gram.
Harga buyback juga naik dari Rp2.477.000 menjadi Rp2.492.000 per gram. Dengan demikian, selisih antara harga jual dan harga pembelian kembali tetap Rp147.000 per gram.
Bagi pemilik emas, angka tersebut penting untuk diperhatikan. Kenaikan harga jual tidak otomatis berarti keuntungan sebesar kenaikan harga pasar ketika emas langsung dijual kembali. Selisih harga jual dan buyback tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan.
Apa Artinya bagi Masyarakat di Banyuwangi?
Pergerakan pasar keuangan tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi daerah juga berada dalam jaringan ekonomi nasional dan internasional.
Ketika rupiah menguat, tekanan dari barang dan bahan baku yang berkaitan dengan impor berpotensi lebih ringan. Namun, dampak terhadap harga barang sehari-hari tidak selalu terjadi secara langsung karena masih dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.
Bagi masyarakat yang memiliki emas, kenaikan harga menjadi perkembangan positif dari sisi valuasi. Namun, emas tetap lebih tepat dilihat sebagai aset dengan orientasi jangka panjang, terutama karena adanya selisih antara harga jual dan buyback.
Sementara bagi investor saham, kenaikan IHSG menunjukkan membaiknya sentimen pasar. Meski demikian, penguatan satu hari belum cukup untuk memastikan terbentuknya tren kenaikan yang berkelanjutan.
Pasar Masih Menunggu Data Amerika
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah faktor eksternal. IHSG diperkirakan memiliki peluang menguji area 6.705 hingga 6.733, sedangkan area 6.510 hingga 6.551 menjadi batas support yang perlu diperhatikan.
Untuk rupiah, rilis data Nonfarm Payrolls Amerika Serikat menjadi salah satu faktor penting. Pergerakan harga minyak dunia juga perlu dicermati karena ketegangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz dapat memengaruhi pasar energi.
Adapun emas diperkirakan masih bergerak dengan volatilitas tinggi, tetapi memiliki kecenderungan positif. Harga emas spot dunia di atas USD 4.350 per troy ounce menjadi salah satu penopang bagi emas Antam untuk bertahan di atas Rp2,6 juta per gram.
Dengan demikian, penguatan IHSG, rupiah, dan emas pada 3 September belum berarti seluruh risiko pasar telah hilang. Namun, pergerakan tersebut menunjukkan adanya perbaikan sentimen setelah pasar melewati tekanan akibat penyesuaian portofolio global dan gejolak sebelumnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi