IHSG Dibuka Menguat, Sentimen BI hingga Konflik AS-Iran Jadi Sorotan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 13:20 WIB
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. IHSG dibuka menguat 0,73 persen ke level 6.448,83 pada perdagangan Selasa (18/8). (Gemini AI)
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. IHSG dibuka menguat 0,73 persen ke level 6.448,83 pada perdagangan Selasa (18/8). (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengawali perdagangan dengan penguatan pada Selasa (18/8). Pelaku pasar masih mencermati sejumlah katalis domestik sekaligus perkembangan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah bursa.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 46,94 poin atau 0,73 persen ke level 6.448,83. Penguatan juga terlihat pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 bertambah 2,83 poin atau 0,45 persen menjadi 635,11.

Analis melihat ruang penguatan IHSG masih terbuka selama indeks mampu bertahan di atas level teknikal tertentu. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut posisi 6.377 menjadi area penting yang akan menentukan arah indeks berikutnya.

“Apabila IHSG mampu bertahan di atas 6.377, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.454, kemudian 6.500-6.600 sebagai resistance berikutnya,” ujar Liza, Selasa (18/8), dikutip Antara.

Namun, skenario sebaliknya tetap perlu diwaspadai. Apabila IHSG terkoreksi dan gagal mempertahankan level 6.377, indeks disebut berpotensi bergerak menuju 6.324. Area 6.275-6.266 menjadi support berikutnya.

Optimisme di pasar domestik sebelumnya ikut terdorong oleh penguatan IHSG sebesar 1,59 persen pada perdagangan Jumat (14/8). Sentimen tersebut antara lain datang dari pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026.

Pasar turut merespons penyampaian pengantar pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2027 beserta nota keuangannya.

Dalam agenda tersebut, pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027. Target itu berada di atas sasaran pertumbuhan 5,4 persen dalam APBN 2026. Pemerintah juga menargetkan realisasi investasi mencapai Rp2.322 triliun pada 2027, lebih tinggi dibandingkan dengan target Rp2.041,3 triliun pada 2026.

Perhatian pelaku pasar kini beralih ke agenda moneter. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Agustus 2026 menjadi salah satu penentu sentimen perdagangan pekan ini.

Keputusan suku bunga acuan BI dinantikan pasar, terutama karena kebijakan tersebut berkaitan erat dengan kondisi likuiditas serta pertumbuhan kredit nasional. Data utang luar negeri, jumlah uang beredar atau M2, dan neraca pembayaran juga akan dicermati untuk mengukur ketahanan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal.

Dari luar negeri, sentimen cenderung lebih berat. Kenaikan kembali harga minyak mentah menjadi perhatian karena konflik di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan perkembangan yang benar-benar meredakan risiko pasokan energi.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor yang membayangi pasar. Berakhirnya gencatan senjata selama 60 hari tanpa kesepakatan damai maupun rencana konkret pembukaan kembali Selat Hormuz membuat ketidakpastian tetap tinggi.

Perselisihan mengenai persyaratan pembukaan jalur pelayaran tersebut berlangsung bersamaan dengan rencana Amerika Serikat untuk menerapkan langkah ekonomi terhadap Iran. Kondisi itu menjaga potensi gangguan pasokan energi dan dapat memengaruhi sentimen investor global.

Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat memberikan ruang bagi ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar. Inflasi Juli 2026 yang relatif moderat, ditambah data tenaga kerja dan penjualan ritel yang cenderung lemah, membuat pelaku pasar menilai The Federal Reserve masih memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan September 2026.

Probabilitas suku bunga bertahan berada di kisaran 67 persen. Sementara peluang kenaikan 25 basis poin berada sekitar 33 persen.

Karena itu, perhatian pasar berikutnya akan tertuju pada risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Juli 2026. Dokumen tersebut dinilai penting untuk membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

“Risalah FOMC Juli akan menjadi perhatian utama untuk melihat arah kebijakan moneter berikutnya,” kata Liza.

Tekanan eksternal juga tercermin dari pergerakan bursa global pada perdagangan Senin (17/08). Bursa Eropa ditutup kompak melemah. Euro Stoxx 50 turun 0,222 persen, FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,28 persen, DAX Jerman turun 0,40 persen, sedangkan CAC 40 Prancis melemah 0,70 persen.

Wall Street juga berakhir di zona merah. S&P 500 turun 0,50 persen menjadi 7.748,14. Nasdaq Composite melemah 0,30 persen ke level 26.644,91, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,50 persen menjadi 53.460,02.

Perdagangan bursa Asia pada Selasa pagi menunjukkan pergerakan beragam. Nikkei Jepang turun 0,96 persen ke 68.558,00. Shanghai justru naik 0,12 persen menjadi 3.987,4, sementara Kospi Korea Selatan menguat 1,48 persen ke 7.080,41.

Di sisi lain, Hang Seng Hong Kong melemah 0,32 persen ke 25.373,81 dan Straits Times Singapura turun 0,85 persen menjadi 5.719,26.

Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG berada di persimpangan antara dukungan sentimen domestik dan tekanan dari faktor eksternal. Level 6.377 pun menjadi area penting untuk melihat apakah penguatan pasar saham Indonesia mampu berlanjut atau justru berbalik terkoreksi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Pasar Saham ihsg Bank Indonesia bursa efek indonesia the fed