Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran, Rupiah Diprediksi Bergerak Menguat

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 10:43 WIB
Rupiah diproyeksi menguat terhadap dolar AS setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan ke Iran. (JawaPos.com)
Rupiah diproyeksi menguat terhadap dolar AS setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan ke Iran. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (3/8/2026). Penguatan tersebut didorong membaiknya sentimen pasar setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, keputusan tersebut memunculkan optimisme terhadap terciptanya stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi itu dinilai mampu mengurangi permintaan aset aman seperti dolar AS sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Menurut Lukman, pernyataan Trump yang disampaikan pada Minggu (2/8/2026) menyebutkan bahwa rencana serangan dibatalkan setelah adanya permintaan dari Iran serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah yang menginginkan kesempatan untuk menyelesaikan kerangka kesepakatan damai.

Mengacu pada laporan Anadolu, Trump menyatakan pembatalan serangan dilakukan setelah negara-negara di kawasan tersebut meminta waktu untuk merampungkan proses diplomasi. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump juga mengklaim seluruh pihak telah menyepakati batas-batas awal menuju kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh serta penghentian ancaman nuklir Iran.

Trump menegaskan keputusan membatalkan serangan dilakukan demi menjaga masa depan dunia sekaligus membuka peluang bagi terciptanya Iran yang aman dan makmur. Meski demikian, ia menekankan bahwa keputusan tersebut bergantung pada kemampuan seluruh pihak untuk segera mencapai kesepakatan damai.

Selain dipengaruhi perkembangan geopolitik global, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini juga diperkirakan masih terbatas. Investor memilih menunggu sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pada siang hari.

Lukman memperkirakan neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit sebesar 0,79 miliar dolar AS. Sementara itu, inflasi bulanan diprediksi naik 0,1 persen secara month to month (MoM), sedangkan inflasi tahunan atau year on year (YoY) diperkirakan melandai menjadi 3,2 persen.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
rupiah