RADARBANYUWANGI.ID – Akses pembiayaan yang selama ini menjadi “tembok tinggi” bagi nelayan Banyuwangi mulai ditembus. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember mencatat ribuan nelayan kini tak lagi bergantung pada rentenir setelah mendapatkan akses langsung ke perbankan melalui program inklusi keuangan.
Melalui program Stop Rentenir “Osing” (Ojo Isin Isun Ngamprah Ning Bank), sebanyak 5.635 nelayan di Banyuwangi telah difasilitasi pembiayaan mencapai Rp117 miliar dari berbagai lembaga perbankan. Program ini menjadi salah satu intervensi terbesar OJK di sektor ekonomi pesisir daerah.
Namun di balik capaian tersebut, masih ada tantangan klasik: rendahnya literasi keuangan yang membuat sebagian nelayan rentan terjebak pinjaman informal berbunga tinggi. Kondisi inilah yang menjadi sasaran utama program Osing.
Kepala OJK Jember, Aris, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memutus ketergantungan masyarakat pesisir terhadap rentenir yang selama ini kerap menjadi sumber pembiayaan cepat namun berisiko tinggi.
“Program ini untuk mencegah masyarakat tidak ke rentenir dalam mendapatkan pembiayaan. Dengan Osing, masyarakat pesisir bisa mengakses perbankan bahkan mulai masuk ke hilirisasi ekonomi, tidak hanya melaut,” ujar Aris, dilansir dari laman banyuwangikab.go.id.
Skema pembiayaan ini tidak hanya menyasar kebutuhan operasional melaut, tetapi juga mulai mendorong pengembangan usaha turunan seperti pengolahan hasil tangkapan hingga distribusi. Dengan demikian, nelayan tidak lagi hanya berperan sebagai pencari ikan, tetapi juga pelaku ekonomi yang lebih luas dalam rantai nilai.
Di sisi lain, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut baik perluasan akses keuangan ini. Menurutnya, program seperti Osing menjadi jembatan penting bagi pelaku usaha sektor informal agar naik kelas secara ekonomi.
“Kami berharap program OJK yang membuka akses keuangan bagi para nelayan terus berlanjut. Kalau bisa diperluas juga bagi pelaku usaha nonformal lainnya di Banyuwangi,” kata Ipuk saat menerima jajaran OJK Jember di Kantor Bupati Banyuwangi, Kamis (16/4/2026).
Meski demikian, tantangan inklusi keuangan di lapangan tidak hanya soal akses, tetapi juga perubahan pola pikir. Sebagian masyarakat masih menganggap bank sebagai lembaga yang rumit dan sulit dijangkau, sehingga rentenir tetap menjadi pilihan cepat meski berisiko.
Program Osing mencoba memutus stigma tersebut dengan pendekatan edukasi sekaligus pendampingan langsung ke komunitas nelayan. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding hanya membuka akses pembiayaan tanpa literasi yang memadai.
Selain sektor perikanan, OJK Jember kini mulai melirik potensi lain di Banyuwangi, terutama sektor pariwisata yang dinilai memiliki ekosistem ekonomi lebih luas dan terintegrasi.
Aris menyebut, penguatan sektor wisata tidak hanya membutuhkan infrastruktur, tetapi juga dukungan sistem keuangan yang sehat agar pelaku usaha di dalamnya bisa berkembang berkelanjutan.
“Kami siap mendukung pariwisata Banyuwangi dengan cara mendukung para stakeholder wisata,” pungkasnya.
Dengan perluasan akses keuangan ini, Banyuwangi kini menjadi salah satu daerah yang aktif mendorong inklusi keuangan berbasis sektor riil. Namun keberlanjutan program akan sangat bergantung pada kemampuan mengubah kebiasaan lama masyarakat dalam mengakses pembiayaan—dari rentenir menuju sistem perbankan formal. (*)
Editor : Ali Sodiqin