RADAR BANYUWANGI - Selat Bali bukan sekadar perairan pemisah Pulau Jawa dan Bali. Di bagian utara, lebarnya hanya sekitar 2,5 kilometer. Namun, dari perairan yang relatif sempit itulah Banyuwangi memperoleh salah satu keunggulan geografisnya.
Di jalur ini, kapal feri mengangkut penumpang dan kendaraan. Sementara itu, nelayan memanfaatkan kekayaan laut untuk mencari penghidupan. Keduanya tidak lepas dari posisi Banyuwangi yang berada di ujung timur Pulau Jawa.
Lantas, apa yang membuat letak Banyuwangi begitu strategis? Jawabannya berkaitan dengan bentuk Selat Bali, jalur pelayaran, hingga karakteristik perairannya.
Baca Juga: Bisa Rangkai Sendiri, Gelang Manik-Manik Jadi Buruan di CFD Banyuwangi
Selat Bali Berbentuk Corong, Bagian Utara Lebih Sempit
Secara geografis, Banyuwangi berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Jember dan Bondowoso di barat.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, luas wilayahnya sekitar 5.782,50 kilometer persegi dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 175,8 kilometer.
Sementara itu, kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggambarkan Selat Bali sebagai perairan berbentuk corong.
Lebar selat di bagian utara sekitar 2,5 kilometer. Semakin ke selatan, perairan tersebut melebar hingga sekitar 55 kilometer.
Perbedaannya bukan hanya soal jarak. Kedalaman rata-rata perairan utara sekitar 50 meter. Adapun bagian tengah hingga selatan memiliki kedalaman yang berkisar antara 400–1.400 meter.
Bentuk selat dan perbedaan kedalaman itu turut memengaruhi dinamika arus laut. Kajian KKP menjelaskan bahwa kondisi perairan yang relatif sempit dan dangkal di sekitar Gilimanuk dapat meningkatkan kecepatan arus permukaan.
Karena itu, jarak antarpulau yang dekat tidak otomatis membuat pelayaran terbebas dari tantangan.
Baca Juga: Mengenal Budaya Osing Banyuwangi, dari Tari Gandrung hingga Bahasa Osing
Pelabuhan Ketapang Jadi Penghubung Penting Jawa–Bali
Posisi Banyuwangi memberikan keuntungan besar bagi transportasi antarpulau.
Pelabuhan Ketapang di Kecamatan Kalipuro menjadi titik penyeberangan menuju Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Bali.
Jalur ini tidak hanya melayani wisatawan. Mobil pribadi, sepeda motor, bus, dan truk pengangkut barang juga menggunakan lintasan tersebut.
Peran strategisnya terlihat dari data PT ASDP Indonesia Ferry.
Sepanjang 30 Agustus hingga 5 September 2026, sebanyak 43.327 kendaraan tercatat melintasi jalur Ketapang–Gilimanuk. Jumlah tersebut meningkat 8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Namun, tingginya mobilitas juga menghadirkan tantangan berupa kapasitas penyeberangan dan kepadatan kendaraan.
"Fokus kami saat ini adalah mempercepat penguraian antrean secara terukur," ujar Direktur Utama ASDP Heru Widodo dalam siaran pers tertanggal 29 September 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika ASDP melakukan pemulihan layanan akibat kepadatan di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Keberadaan pelabuhan ini menunjukkan bahwa keuntungan geografis Banyuwangi tidak hanya berasal dari kedekatannya dengan Bali, tetapi juga dari perannya dalam jaringan distribusi barang dan perjalanan masyarakat.
Baca Juga: Pasar Banyuwangi Kini Jadi Tempat Nongkrong Malam, Ini Spot Foto dan Kulinernya
Selat Bali Menyimpan Potensi Perikanan Lemuru
Selain menjadi jalur transportasi, Selat Bali memiliki potensi sumber daya perikanan.
Salah satu komoditas yang dikenal dari perairan tersebut adalah ikan lemuru (Sardinella lemuru). Ikan ini berkaitan erat dengan aktivitas perikanan di Muncar, Banyuwangi.
Produktivitas perairan Selat Bali dipengaruhi sejumlah proses oseanografi, termasuk fenomena upwelling.
Fenomena tersebut terjadi ketika massa air dari lapisan lebih dalam naik menuju permukaan dan membawa zat hara yang mendukung pertumbuhan fitoplankton.
Penelitian yang tersimpan dalam repositori Institut Pertanian Bogor menjelaskan bahwa fenomena tersebut berlangsung secara musiman, antara lain pada periode April hingga Oktober.
Kondisi itu membantu menjelaskan mengapa Selat Bali menjadi kawasan penting bagi kegiatan penangkapan ikan.
Meski demikian, hasil tangkapan tetap dipengaruhi musim, kondisi lingkungan, dan tekanan penangkapan. Pemanfaatan sumber daya ikan secara berkelanjutan menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat pesisir.
Baca Juga: Cegah Lapak Liar di Pasar Banyuwangi, Satpol PP hingga TNI-Polri Dikerahkan
Buka Peluang Wisata, tetapi Arus Laut Perlu Diwaspadai
Letak Banyuwangi yang berhadapan langsung dengan Bali juga membuka peluang pariwisata lintas pulau.
Wisatawan dapat menjangkau Banyuwangi melalui penyeberangan Gilimanuk–Ketapang. Sejumlah destinasi pesisir, termasuk Bangsring Underwater, menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan laut Banyuwangi.
Namun, aktivitas wisata dan transportasi sama-sama bergantung pada kondisi perairan.
Angin, gelombang, dan arus laut merupakan faktor yang harus diperhitungkan dalam pelayaran. BMKG bahkan menyediakan layanan prakiraan cuaca khusus untuk rute Ketapang–Gilimanuk.
Di sisi lain, peningkatan kapasitas pelabuhan juga diperlukan seiring pertumbuhan kebutuhan transportasi.
"Yang kami lakukan bukan hanya mengurai antrean ketika kepadatan terjadi," kata Corporate Secretary ASDP Windy Andale dalam siaran pers 11 September 2026.
Menurut Windy, ASDP juga menyiapkan pembenahan infrastruktur dan fasilitas pendukung agar layanan penyeberangan lebih siap menghadapi peningkatan mobilitas.
Editor : Lugas Rumpakaadi