RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah rindangnya hutan yang mengelilingi kawasan Sumber Gedor, Gombengsari, Kalipuro, Banyuwangi, puluhan siswa sekolah dasar tampak antusias mendengarkan penjelasan tentang asal-usul air bersih.
Mereka tidak hanya melihat mata air secara langsung, tetapi juga belajar bagaimana hutan, tanah, dan hujan bekerja bersama menghasilkan sumber kehidupan bagi masyarakat Banyuwangi.
Program Wis Esa Sek Adi (Wisata Edukasi Sejak Usia Dini) yang digelar Rabu (24/6) itu diikuti siswa dari belasan SD yang tergabung dalam Gugus Sekolah (Guslah) 2 dan 4 Kecamatan Kabat. Di antaranya SDN 1 Macanputih, SDN 2 Macanputih, SDN 1 Tambong, SDN 1 Kabat, SDN 3 Pakistaji, SDN 1 Gombolirang, serta sejumlah sekolah lainnya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan penjelasan mengenai proses terbentuknya mata air. Air bersih yang selama ini digunakan masyarakat ternyata berasal dari air hujan yang meresap ke dalam tanah di kawasan pegunungan yang masih terjaga kelestarian hutannya. Air kemudian tersimpan di lapisan tanah sebelum muncul kembali sebagai mata air.
Tak hanya memahami siklus air, para peserta juga diajak mengenal pentingnya menjaga hutan sebagai daerah resapan. Keberadaan hutan menjadi faktor utama yang menjaga ketersediaan air sepanjang tahun. Anak-anak juga mendapatkan edukasi mengenai kebiasaan sederhana untuk menghemat penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, siswa dikenalkan pada sejarah Sumber Gedor yang telah dibangun sejak tahun 1927. Kawasan mata air seluas sekitar 15 hektare di tengah hutan tersebut hingga kini menjadi salah satu sumber utama penyedia air bersih bagi puluhan ribu rumah tangga di Banyuwangi.
Guru SDN 1 Tambong, Ainul Yaqin, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh di ruang kelas.
“Banyak hal baru yang dipelajari anak-anak. Terutama tentang sejarah dan peninggalannya di Banyuwangi. Ini sangat bermanfaat karena anak-anak tidak mendapat materi ini di sekolah,” ujarnya.
Tidak berhenti di kawasan mata air, para siswa juga diajak melihat langsung proses pengolahan air oleh petugas PUDAM Banyuwangi. Mereka menyaksikan tahapan pengambilan air dari sumber, proses klorinasi, penyimpanan di reservoir, hingga pendistribusian ke pelanggan.
Pengalaman itu meninggalkan kesan tersendiri bagi para peserta. Nanda, siswi SDN 1 Gombolirang, mengaku baru mengetahui bentuk asli mata air yang selama ini hanya ia bayangkan berasal dari pegunungan.
“Awalnya kita hanya berpikir mata air keluar dari gunung, ternyata bentuk aslinya seperti ini,” katanya.
Direktur PUDAM Banyuwangi, Abd Rahman, mengatakan program Wis Esa Sek Adi menjadi salah satu upaya menanamkan kesadaran menjaga sumber daya air sejak usia dini. Menurutnya, edukasi langsung di lapangan akan lebih mudah dipahami sekaligus membentuk kepedulian lingkungan pada generasi muda.
“Dengan begitu, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus bijak dalam memanfaatkan air bersih,” ujarnya.
Melalui program tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang air dan lingkungan, tetapi juga memahami bahwa setiap tetes air yang mereka gunakan berasal dari proses alam yang panjang dan harus dijaga bersama keberlanjutannya.
Berita ini memiliki nilai edukasi lingkungan yang kuat karena mengangkat peran hutan, sumber air, dan keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di Banyuwangi. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin