RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah derasnya arus digitalisasi dan pengaruh globalisasi yang kian kuat, SD Negeri 2 Tukangkayu Banyuwangi (Dutawangi) memilih jalur pendidikan karakter yang berbeda. Bukan sekadar slogan, sekolah ini membiasakan siswa memulai hari dengan lantunan ayat suci melalui program Gerak Jipat Jerniti atau Gerakan Ngaji Pagi untuk Jernihkan Hati.
Program ini menjadi ritual wajib sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai setiap hari. Suasana sekolah pun berubah menjadi lebih tenang dan religius ketika para siswa duduk rapi melantunkan bacaan Al-Qur’an secara bersama-sama.
Kepala SDN 2 Tukangkayu, Tri Wahyuni, mengatakan program tersebut lahir dari keprihatinan sekaligus harapan untuk memperkuat fondasi akhlak peserta didik sejak usia dini.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter yang kuat agar anak mampu menghadapi tantangan zaman.
“Anak-anak tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki akhlakul karimah. Karena itu kami membiasakan mereka mengaji sebelum kegiatan belajar dimulai agar hati mereka lebih tenang dan siap menerima pelajaran,” ujarnya.
Program Gerak Jipat Jerniti ini dirancang sebagai pembiasaan, bukan paksaan. Perlahan namun konsisten, kegiatan tersebut menjadi budaya sekolah yang melekat dalam keseharian siswa.
Bagi pihak sekolah, pembiasaan ngaji pagi bukan hanya aktivitas spiritual, tetapi juga strategi pendidikan karakter yang terukur. Anak-anak diajak untuk membangun ketenangan batin sebelum memasuki materi pelajaran yang lebih kompleks di kelas.
Lingkungan sekolah pun ikut merasakan dampaknya. Guru menilai siswa menjadi lebih fokus, tertib, dan memiliki sikap yang lebih santun dalam interaksi sehari-hari.
Tri Wahyuni menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan moral.
Karena itu, SDN 2 Tukangkayu berupaya menghadirkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai religius sebagai bekal masa depan siswa.
Dengan program ini, sekolah berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berakhlak baik, dan siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Di Banyuwangi, langkah kecil dari ruang-ruang kelas ini menjadi cerminan bahwa pendidikan karakter bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin