Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

10 Tahun Kampung Batara: Sekolah Adat di Tengah Hutan Bambu yang Menginspirasi Indonesia!

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Minggu, 12 Oktober 2025 | 12:00 WIB
Puncak perayaan satu dekade Kampung Batara di Lingkungan Papring, Kalipuro Jumat (10/10), diisi pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh literasi.
Puncak perayaan satu dekade Kampung Batara di Lingkungan Papring, Kalipuro Jumat (10/10), diisi pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh literasi.

RADARBANYUWANGI.ID - Genap satu dekade  Kampung Batara yang terletak di Lingkungan Papring, Desa/Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, berdiri.

Kampung Batara telah memberikan warna tersendiri untuk kemajuan sektor pendidikan bagi anak-anak desa.

Letaknya yang jauh dari perkotaan, tidak menyurutkan semangat sang inisiator, Widie Nurmahmudy,  mengelola Kampung Batara.

Di tengah rimbun bambu Lingkungan Papring, berdiri sebuah sekolah belajar yang berbeda.

Bukan sekolah dengan papan tulis dan seragam, melainkan sekolah adat bernama Kampung Batara menandai perjalanan panjangnya.

Pada Jumat (10/10) menjadi momen bersejarah genap 10 tahun usianya yang dikenal sebagai pusat edukasi dan pelestarian budaya berbasis ekologi itu.

Untuk merayakan perjalanan satu dekade tersebut, digelar acara bertema “Wangsul”, yang berarti pulang dalam Bahasa Indonesia.

Bagi warga Papring, Wangsul bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan pulang ke akar pengetahuan, ke kebijaksanaan desa yang menjadi sumber dari segala ilmu.

 

Berbasis Ekologi dan Budaya

Ketua Kampung Batara Widie Nurmahmudy menjelaskan,  tema ”Wangsul” memiliki makna mendalam di tengah perjalanan panjang selama seabad.

“Kami ingin mengembalikan pengetahuan dan teknologi yang selama ini berkembang di kota agar kembali ke akarnya, yaitu desa, sebagai tempat asalnya. Semua itu dikemas dalam pendidikan berbasis ekologi dan budaya,” ujarnya.

Selama dua hari, mulai Jumat (10/10) hingga Sabtu (11/10), suasana Desa Papring dipenuhi semangat perayaan.

Warga, seniman, budayawan, hingga pegiat literasi dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan karya dan perjalanan Kampung Batara.

Anak-anak kampung menampilkan tarian Sekar Jajang, dengan kostum berbahan bambu simbol identitas Papring sebagai desa bambu.

 

Tampilkan Permainan Egrang

Permainan tradisional seperti egrang dan gasing bambu juga dihadirkan, mengingatkan generasi muda pada kearifan masa lalu.

“Semua karya yang ditampilkan adalah hasil belajar anak-anak di sekolah adat. Mereka belajar lewat praktik budaya, bukan hanya teori,” kata Widie.

Sebagai sekolah adat, Kampung Batara memiliki kurikulum khas berisi 11 poin pembelajaran, di antaranya Moco Kahanan atau Membaca Keadaan. 

”Bagi kami, literasi tidak hanya membaca tulisan, tetapi juga membaca situasi, membaca fenomena yang terjadi di sekitar. Itulah cara kami menanamkan pengetahuan berbasis realitas desa,” jelasnya.

 

Panen Apresiasi dari Berbagai Kalangan

Kampung Batara kini juga menjadi wadah pemberdayaan ekonomi warga. Tercatat ada enam unit usaha kecil menengah (UKM) yang dikelola masyarakat setempat, seperti batik, kerajinan bambu, produksi kopi, jajanan tradisional, serta tim media komunitas. Semua hasilnya dimanfaatkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru

Apresiasi datang dari berbagai kalangan. Salah satunya Samsul, pegiat literasi asal Ponorogo. Dia  mengaku kagum dengan semangat warga Papring.

“Pak Widie dan Kampung Batara berhasil menghidupkan kembali kultur Oseng dan menanamkannya melalui pendidikan adat. Ini bentuk pelestarian budaya yang hidup, bukan hanya dipamerkan,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari Danu, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari yang sejak Februari menanam seribu bambu di Papring.

“Kami melihat masyarakat di sini tidak hanya menanam, tetapi juga mengolah bambu menjadi karya bernilai ekonomi,” kata Danu, perwakilan yayasan.

Sementara itu, Kun Azis, dosen UIN KHAS Jember yang mahasiswanya melakukan praktik lapangan di Kampung Batara, menilai sekolah adat ini bisa menjadi model pendidikan berbasis lokal.

“Kampung Batara menunjukkan bahwa pendidikan sejati bisa tumbuh dari desa, berpijak pada alam dan kearifan lokal. Ini bentuk nyata pendidikan yang membumi, serta kedepannya bisa terus bersinergi dunia kampus dengan kampung,” ujarnya. (M. Ksatria Raya/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#tengah hutan #kampung batara #sekolah adat #banyuwangi