Kebakaran Baru Mengintai Gunung Merapi Ungup-Ungup Banyuwangi, Medan Sulit Jadi Tantangan

Bagus Rio Rohman • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 05:00 WIB
MASIH MENYALA: Titik api baru terpantau di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup, TWA Kawah Ijen, Jumat (18/9). (BKSDA for Radar Banyuwangi)
MASIH MENYALA: Titik api baru terpantau di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup, TWA Kawah Ijen, Jumat (18/9). (BKSDA for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Ancaman kebakaran kembali muncul di kawasan konservasi Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup, Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Banyuwangi. Sejak Selasa (15/9), tim lapangan menemukan titik api baru di punggung bukit yang sulit dijangkau, sehingga BBKSDA Jawa Timur memperketat pemantauan menggunakan drone untuk mencegah api meluas.

Titik api tersebut berada di lokasi berbeda dari titik kebakaran yang sebelumnya ditangani petugas. Kondisi medan menjadi tantangan tersendiri karena posisi api berada di punggung bukit sehingga sulit diamati dan dijangkau secara langsung.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengatakan, keberadaan api diketahui setelah tim melakukan pemantauan dari udara.

Drone diterbangkan untuk mendapatkan gambaran kondisi lapangan. Dari rekaman video dan foto udara, petugas memastikan bahwa yang terlihat bukan sekadar indikasi panas, melainkan api yang masih menyala.

“Melihat situasi tersebut, akhirnya kami cek di Sipongi dan Sentinel, yakni peta kebakaran hutan Indonesia. Di situ memang ada beberapa hotspot, tetapi tidak terlihat kalau itu fire spot. Namun, di lapangannya ternyata fire spot, artinya api menyala,” kata Patria.

Titik Api Berada di Medan Sulit

Pemantauan melalui drone menjadi pilihan karena petugas tidak dapat dengan mudah mendatangi titik api secara langsung.

Lokasinya berada di punggung bukit dengan medan yang sulit. Karena itu, pengawasan dari udara dilakukan untuk mengetahui perkembangan api sekaligus memperkirakan kemungkinan rambatan.

BBKSDA Jatim juga meminta petugas di lapangan memperhatikan kondisi bahan bakar di sekitar titik api. Vegetasi dan pepohonan yang mengering menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi cepat atau tidaknya api merambat.

“Pengecekan petugas juga terus dilakukan. Kami melihat bagaimana potensi rambatannya dan apakah ada bahan bakar yang memungkinkan api mengarah ke jalur pendakian. Sampai saat ini masih diawasi,” jelas Patria.

Pemantauan tersebut menjadi bagian dari mitigasi dini untuk memastikan titik api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Antisipasi Api Merembet ke Jalur Pendakian

Kekhawatiran utama petugas bukan hanya keberadaan satu titik api. Munculnya titik baru berpotensi memperluas area yang terdampak apabila kondisi vegetasi di sekitarnya mendukung rambatan api.

Karena itu, pengawasan dilakukan secara intensif. Petugas terus memantau perkembangan titik api dan kondisi bahan bakar di sekitarnya.

Patria berharap tidak ada lagi titik api baru yang muncul di kawasan konservasi tersebut.

Jika titik api bertambah, risiko kebakaran lahan dan hutan dapat meningkat, terlebih ketika vegetasi dalam kondisi kering.

“Semoga tidak ada lagi titik api yang meluas. Kami juga memohon doa semoga permasalahan ini cepat selesai,” harapnya.

Hingga kini, BBKSDA Jawa Timur masih melakukan pemantauan terhadap titik api baru di Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup. Pengawasan melalui drone dan pengecekan kondisi lapangan dilakukan sebagai langkah antisipasi agar api tidak berkembang dan merambat menuju area lain, termasuk jalur pendakian. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
BBKSDA Jatim kebakaran Ijen TWA Kawah Ijen titik api Merapi Ungup-Ungup