RADAR SITUBONDO – Seorang bocah di Kecamatan Banyuputih, Situbondo, terpaksa berhenti mengenyam pendidikan di kelas satu tingkat sekolah dasar (SD).
Keputusan putus sekolah itu diambil atas inisiatif sendiri karena tidak ingin keluarganya kesulitan membiayai pendidikannya.
Namanya Doni Kurniawan. Umurnya masih sembilan tahun. Dia sudah berhenti sekolah sejak beberapa tahun lalu. Baru menginjak kelas satu SD, dia sudah tak ingin lagi meneruskan pendidikannya. Penyebabnya Doni minder dengan teman sekelasnya.
Keinginan untuk tidak melanjutkan sekolah pun disetujui keluarga. Apalagi, orang tua Doni memang sudah tidak mampu untuk membiayai kebutuhan sekolah anaknya. Diakui, selama ini Doni memang sering mendapatkan bantuan buku maupun seragam dari para guru.
“Ya kalau cucu saya memilih berhenti sekolah sejak kelas satu SD. Karena kami sendiri sudah tidak mampu membiayai,” ujar Omyani, nenek Doni.
Omyani menjelaskan, Doni selama ini tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai seorang buruh. Sejak kecil dia sudah ditinggal ayahnya lantaran bercerai.
“Sebenarnya, cucu saya ini tinggal satu rumah dengan saya. Termasuk juga ibunya sejak ditinggal suaminya, sekarang kumpul dengan saya juga. Tapi yaitu, pekerjaan kami semuanya buruh,” jelasnya.
Kata dia, dengan penghasilan yang kecil, membuat kondisi ekonomi keluarga tidak mampu memenuhi biaya pendidikan Doni. Sehingga, Omyani pun tidak melarang ketika Doni menyatakan ingin berhenti sekolah.
“Ya kami sudah sudah tidak kuat lagi membiayai sekolah cucu. Kasihan juga di sekolah tidak sama dengan teman-temannya,” ucapnya.
Selain itu, Omyani menjelaskan, keluarganya bekerja sebagai buruh kasar. Dari hasil tersebut hanya bisa untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.
“Kalau ada yang manggil buat bersih-bersih rumah atau dimintai tolong untuk kerja ke sawah, itu kami baru dapat uang. Itu pun tidak besar. Hanya cukup untuk beli beras. Lalu dimakan bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Omyani mengatakan, aktivitas cucunya setiap hari pergi ke sawah mecari rumput untuk pakan ternak. Itu dilakukan untuk membantu keluarganya.
“Alhamdulillah kami pelihara sapi. Tapi bukan milik sendiri, melainkan milik orang lain yang dititipin ke sini. Jadi cucu saya sekarang bantu-bantu cari rumput untuk pakan sapi,” ungkapnya.
Kemudian, Omyani mengatakan, meski sudah tidak melanjutkan pendidikan di sekolah, namun cucunya masih belajar agama di musala. Itu dilakukan rutin setiap hari.
“Paginya itu cucu saya ke sawah, terus menjelang maghrib pergi ke musala. Setiap hari aktivitasnya seperti itu terus,” pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin