Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menerjemahkan Sumpah Pemuda

T
Oleh: Dendy Wahyu Anugrah, Pemuda Banyuwangi
Oleh: Dendy Wahyu Anugrah, Pemuda Banyuwangi

Advertisement

RADAR BANYUWANGI - Setiap bulan Oktober tiba, sebagian besar masyarakat kita barangkali merasa biasa-biasa saja, alias menganggap bulan kesepuluh dalam almanak Masehi itu seperti bulan-bulan lain. Tetapi bagi kawula muda, Oktober selalu mengingatkan mereka kepada sejarah, semangat, dan nilai-nilai idealisme.

Pandangan semacam itu tidaklah berlebihan, kalau kita menelisik sejarah bangsa Indonesia. Sebagaimana telah mafhum bagi kita, di bulan ini pernah terjadi momentum bersejarah kaum muda yang menjadi salah satu cikal-bakal nasionalisme: Kongres Pemuda Indonesia. Setelah bangsa kita berhasil merengkuh kemerdekaan, momentum tersebut selalu diperingati setiap tahun dengan istilah “Hari Sumpah Pemuda”.

Sejauh ini catatan sejarah dan kronik tentang Sumpah Pemuda sudah sangat melimpah. Tidak sukar bagi kita untuk mencari dan membaca literatur tentang sejarah tersebut. Bahkan sekali pencet di layar gawai, kita sudah dapat menikmati seabrek ulasan sejarah dan refleksi

Advertisement

Sumpah Pemuda dalam sekali tarikan napas.

Kemudahan akses membaca literatur-literatur sejarah tersebut ternyata tidak lantas membuat kita memahami esensi (hakikat) dari Sumpah Pemuda. Justru, hal tersebut malah menjadikan generasi kita malas dan cenderung acuh tak acuh terhadap sejarah dan nilai-nilai di dalamnya. Jika toh di Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober) muncul bejibun flayer ucapan selamat, bahkan kegiatan-kegiatan diskusi dan refleksi sekalipun, bisa dikatakan demikian sekadar seremonial belaka untuk “memeriahkan” salah satu hari nasional itu.

Sudah barang tentu fenomena ini merupakan “masalah” di kalangan generasi muda. Sebab di tangan merekalah, konon, semangat perubahan dan pembebasan (liberasi) berada. Semangat dan idealisme mereka seolah bagaikan legacy turun-temurun, dan tidak akan mampus ditelan gelombang modernitas. Namun, sekarang, generasi muda kita kurang begitu tertarik—untuk tidak mengatakan “abai”—memegang teguh “jimat kesatuan” (satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa) yang telah diwariskan oleh generasi muda era pra-kemerdekaan.

Advertisement

Gerakan generasi muda di masa kini, kalau dilihat secara seksama, tampak centang-perenang, sektarian, dan acap kali bersikap bigotry terhadap sesama kawula muda. Fenomena semacam ini dapat kita saksikan, misalnya, di kalangan aktivis dan mahasiswa.

Sederet wacana dan gerakan mereka memang selalu muncul dan menggema di televisi, media massa, dan di jalanan untuk menggugat kebijakan dan aturan negara yang timpang dan tidak memihak kepada rakyat.

Para aktivis-mahasiswa memang selalu “tampil” di depan layar, dan senantiasa memposisikan diri sebagai agent of changes. Tetapi wacana dan gerakan mereka, secara faktual, kurang begitu cespleng atau memberikan sumbangan yang berarti bagi realitas kehidupan masyarakat kita.

Permasalahan tersebut, menurut hemat saya, disebabkan oleh ketidakmampuan kita (sebagai generasi muda) dalam memahami dan menerjemahkan legacy Sumpah Pemuda.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sumpah Pemuda Disebut Rekonstruksi Sejarah, Begini Perdebatan Sejarawan soal Teks Ikrar

Sumpah Pemuda Disebut Rekonstruksi Sejarah, Begini Perdebatan Sejarawan soal Teks Ikrar

Sumpah Pemuda disebut hasil rekonstruksi sejarah. Simak fakta Kongres Pemuda II 1928, asal-usul istilah, dan perdebatan sejarawan soal teks ikrar.

Sumpah Pemuda dan Masa Depan Demokrasi di Banyuwangi

Sumpah Pemuda dan Masa Depan Demokrasi di Banyuwangi

Setiap 28 Oktober, kita mengenang hari Sumpah Pemuda sebagai tonggak persatuan bangsa. Namun, hampir satu abad setelah ikrar 1928, pertanyaan penting perlu diajukan: sudahkah pemuda meneruskan semangat perjuangan.

Bahasa Indonesia Dalam Sejarah Sumpah Pemuda dan Tuntutan Skor Toefl Bagi Sarjana

Bahasa Indonesia Dalam Sejarah Sumpah Pemuda dan Tuntutan Skor Toefl Bagi Sarjana

Tanggal 28 Oktober 1928 menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan bahasa Indonesia. Para pemuda dari daerah berkumpul dengan latar belakang suku, budaya, dan bahasa berbeda.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer