Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramadan, Media Sosial, dan Imsak di Era Digital

T

Oleh: Moh Nurun Alan Nurin PK, Dosen Universitas Islam Cordoba Banyuwangi
Oleh: Moh Nurun Alan Nurin PK, Dosen Universitas Islam Cordoba Banyuwangi


Advertisement

RADARBANYUWANGI.ID - Setiap Ramadan, jumlah unggahan bernuansa religius di media sosial meningkat drastis. Namun pada saat yang sama, ujaran kebencian, saling hina, dan penyebaran konten provokatif tetap berlangsung tanpa jeda. Fenomena ini menunjukkan satu hal yang menggelisahkan: puasa dijalankan secara ritual, tetapi gagal hadir sebagai etika sosial, khususnya di ruang digital.

Puasa kerap direduksi sebagai praktik fisik—menahan lapar dan dahaga dalam rentang waktu tertentu. Pemahaman ini menjadikan puasa berhenti sebagai rutinitas individual, terlepas dari dampaknya dalam kehidupan sosial. Padahal, puasa sejatinya adalah latihan pengendalian diri yang menuntut konsistensi perilaku, termasuk dalam cara seseorang berkomunikasi dan bereaksi terhadap realitas di sekitarnya.

Photo
Photo

Advertisement

Dalam konteks masyarakat digital, media sosial telah menjadi ruang publik utama. Ia membentuk opini, memengaruhi emosi kolektif, serta menentukan kualitas relasi sosial. Sayangnya, ruang ini sering kali diisi dengan ekspresi yang jauh dari nilai pengendalian diri: komentar kasar, saling serang, serta penyebaran konten yang minim tanggung jawab moral. Jemari bergerak lebih cepat daripada nalar, emosi lebih dominan daripada kebijaksanaan.

Kegagalan menghadirkan etika puasa di ruang digital pada akhirnya berdampak luas. Polarisasi sosial semakin tajam, kepercayaan publik terkikis, dan ruang diskusi kehilangan kualitas deliberatifnya. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana memperluas pengetahuan justru sering berfungsi sebagai ruang pelampiasan emosi kolektif. Dalam situasi ini, puasa seharusnya tampil sebagai koreksi budaya—sebuah momentum untuk memperlambat ritme digital yang serba cepat, serba reaktif, dan miskin refleksi. Tanpa kesadaran tersebut, Ramadhan berisiko terjebak sebagai perayaan simbolik yang tidak meninggalkan jejak perubahan dalam perilaku bermedia.

Di titik inilah makna puasa perlu dibaca ulang secara kontekstual. Puasa menuntut kemampuan menahan diri, dan dalam ruang digital, pengendalian itu terletak pada aktivitas menulis, membagikan, serta merespons informasi. Setiap unggahan adalah representasi diri. Setiap komentar memiliki dampak sosial. Ketika puasa tidak tercermin dalam perilaku digital, maka yang berlangsung hanyalah disiplin biologis tanpa transformasi etis.

Advertisement

Konsep imsak memberikan landasan reflektif yang penting. Imsak bukan sekadar penanda waktu, melainkan simbol jeda dan kehati-hatian. Dalam bermedia sosial, imsak dapat dimaknai sebagai kesediaan berhenti sejenak sebelum bereaksi. Ada ruang berpikir sebelum membagikan informasi, ada proses menimbang sebelum melontarkan opini. Tanpa imsak digital, media sosial berubah menjadi arena impulsivitas yang merusak kualitas wacana publik.

Puasa juga mengajarkan kesadaran untuk tidak selalu terlibat. Dalam ekosistem media sosial yang sarat provokasi, sikap menahan diri untuk tidak berkomentar justru menjadi bentuk kedewasaan. Diam yang disadari memiliki nilai etis lebih tinggi daripada partisipasi yang destruktif. Tidak semua isu menuntut respons, dan tidak setiap perbedaan harus dihadapi dengan pertikaian.

Jika puasa dimaksudkan untuk membentuk manusia yang bertanggung jawab secara moral, maka keberhasilannya harus tampak dalam cara seseorang hadir di ruang digital. Media sosial semestinya menjadi medium pertukaran gagasan yang sehat, ruang edukasi, dan sarana memperkuat empati sosial. Tanpa itu, puasa kehilangan daya transformasinya dan berhenti sebagai rutinitas tahunan.

Puasa yang bermakna adalah puasa yang menertibkan tubuh, menenangkan pikiran, dan mendewasakan perilaku. Di era digital, ujian puasa tidak berhenti di meja makan, melainkan berlangsung di layar gawai. Dari sanalah integritas puasa diuji: apakah ia sungguh membentuk kesadaran, atau sekadar menggugurkan kewajiban. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Dakwah Masuk TikTok, Cara Baru Menjangkau Milenial dan Gen Z

Dakwah Masuk TikTok, Cara Baru Menjangkau Milenial dan Gen Z

Dakwah digital menjangkau milenial dan Gen Z lewat TikTok, Reels, dan siaran langsung. Simak data APJII 2026 serta strategi dan tantangannya.

Gaya Komunikasi Gen Z: Bahasa Campuran, Emoji, dan Risiko Salah Paham

Gaya Komunikasi Gen Z: Bahasa Campuran, Emoji, dan Risiko Salah Paham

Gaya komunikasi Gen Z berubah lewat bahasa campuran, emoji, dan media sosial. Simak data APJII, pandangan pakar, serta risiko salah paham dan hoaks.

Tetap Terjaga di Tengah Ketergantungan Digital

Tetap Terjaga di Tengah Ketergantungan Digital

ebuah komentar di TikTok pernah berujung pada kematian seorang pemuda di Banyuwangi. Pada Mei 2025, seorang pemuda berusia 20 tahun tewas setelah bertemu dengan pemuda lain yang tersinggung karena komentar yang ditulis

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer