
RADAR BANYUWANGI - Sebuah komentar di TikTok pernah berujung pada kematian seorang pemuda di Banyuwangi. Pada Mei 2025, seorang pemuda berusia 20 tahun tewas setelah bertemu dengan pemuda lain yang tersinggung karena komentar yang ditulis korban pada siaran langsung TikTok pacarnya. Komentar yang bermula di ruang digital kemudian dibawa ke ruang nyata dan berakhir dengan kekerasan.
Peristiwa tersebut tentu tidak dapat dibaca sesederhana “gara-gara TikTok”. Ada emosi, hubungan personal, salah tafsir, dan keputusan manusia di dalamnya. Tetapi ada satu hal yang menarik: sebuah interaksi yang berlangsung di layar ternyata dapat membawa konsekuensi sosial yang sangat nyata.
Barangkali kasus tersebut hanyalah satu peristiwa kecil dari perubahan yang jauh lebih besar. Kita semakin sering berinteraksi melalui platform digital. Kita berbicara, belajar, bekerja, berjualan, mencari informasi, berdebat, bahkan mencari jawaban atas persoalan pribadi dan keagamaan melalui layar. Kehidupan sosial perlahan tidak lagi hanya berlangsung di ruang fisik. Sebagian kehidupan kita telah berpindah, bercampur, dan dimediasi oleh teknologi.
Persoalannya, perubahan ruang sosial itu berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan kita membangun norma untuk menghadapinya. Dulu, ketika seseorang berbicara kepada orang lain, kita berhadapan dengan ekspresi wajah, intonasi, dan situasi sosial yang menyertainya. Di media sosial, sebuah kalimat dapat berdiri sendiri. Candaan dapat dibaca sebagai penghinaan. Kritik dapat dianggap sebagai serangan. Komentar yang bagi penulisnya mungkin ringan, bagi orang lain dapat memiliki makna berbeda.
Lalu muncul persoalan: apakah norma yang kita kenal selama ini sudah cukup untuk mengatur hubungan sosial di ruang digital? Sebagian masih relevan, tetapi sebagian lainnya membutuhkan penerjemahan baru.
Kita membutuhkan cara baru untuk memahami kapan sebuah komentar menjadi persoalan, bagaimana merespons sesuatu yang menyinggung, kapan harus berhenti membalas, kapan perlu melakukan klarifikasi, dan bagaimana menyelesaikan konflik yang bermula dari layar sebelum berkembang menjadi persoalan nyata.
Dalam perspektif sosiologi digital, teknologi tidak lagi sekadar alat yang digunakan manusia, tetapi telah menjadi bagian dari lingkungan sosial tempat manusia berhubungan. Platform, algoritma, dan berbagai fitur digital ikut memengaruhi apa yang kita lihat, bagaimana kita berkomunikasi, bahkan bagaimana kita merespons orang lain. Kita bukan hanya menggunakan teknologi, tetapi perlahan menyesuaikan perilaku dengan cara kerja teknologi. Di sinilah ketergantungan digital menjadi persoalan sosial: ketika teknologi semakin memengaruhi cara kita berhubungan, manusia tetap perlu memiliki kemampuan untuk mengambil jarak, mempertimbangkan, dan menentukan batasnya sendiri.
Situasi serupa muncul dalam berbagai bidang kehidupan. Di pendidikan, termasuk pesantren, kehadiran teknologi dan AI bukan hanya menghadirkan kemudahan belajar, tetapi juga pertanyaan tentang bagaimana otoritas, proses belajar, dan pembentukan nilai berlangsung ketika santri atau siswa dapat memperoleh pengetahuan langsung dari layar. Dalam keluarga dan tempat kerja, teknologi juga menghadirkan persoalan tentang privasi, batas komunikasi, dan ruang pribadi. Semua itu menunjukkan bahwa perubahan teknologi menghadirkan situasi sosial yang tidak selalu dapat dijawab hanya dengan norma yang sudah ada.
Ini bukan semata-mata persoalan teknologi. Ini adalah persoalan bagaimana manusia menyusun kembali kehidupan bersama ketika lingkungan sosialnya berubah. Sebagian nilai lama tentu tidak perlu dibuang. Menghormati orang lain, menahan diri, berlaku adil, menjaga kepercayaan, dan mempertimbangkan akibat dari tindakan tetap penting. Nilai-nilai Islam juga dapat menjadi salah satu sumber orientasi ketika ruang interaksi berpindah ke dunia digital. Prinsip menjaga lisan, menghindari prasangka, melakukan klarifikasi sebelum mempercayai informasi, menghormati martabat orang lain, dan mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan tetap memiliki makna. Hanya saja, nilai tersebut perlu diterjemahkan ke dalam situasi baru.
Di ruang digital, “menjaga lisan” misalnya, tidak lagi hanya berkaitan dengan apa yang keluar dari mulut, tetapi juga apa yang kita tulis, komentari, unggah, dan sebarkan. Klarifikasi tidak cukup dilakukan setelah informasi telanjur dipercaya dan disebarkan. Begitu pula penghormatan terhadap orang lain tidak berhenti pada pertemuan tatap muka, tetapi juga berlaku ketika berhadapan dengan seseorang yang hanya hadir melalui layar.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




