RADARBANYUWANGI.ID - Pembangunan Jalan Tol Lingkar Pekanbaru terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Hingga akhir Januari 2026, progres konstruksi tol sepanjang 30,8 kilometer ini telah mencapai 71,07 persen.
Capaian tersebut menandai keseriusan pemerintah dan pelaksana proyek dalam mempercepat penguatan konektivitas di Provinsi Riau, sekaligus mendukung keberlanjutan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
Proyek strategis nasional ini dikerjakan oleh PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI). Direktur Operasi III HKI, Aditya Novendra Jaya, menjelaskan Tol Lingkar Pekanbaru memiliki peran vital dalam sistem jaringan tol di Sumatra.
Tol ini dirancang untuk menghubungkan dua ruas utama, yakni Tol Pekanbaru–Dumai dan Tol Pekanbaru–Bangkinang.
“Tol Lingkar Pekanbaru akan menjadi penghubung strategis yang memperlancar arus transportasi dan memperkuat konektivitas antarwilayah di Provinsi Riau,” ungkap Aditya, Senin (2/2/2026).
Dengan posisi yang mengelilingi kawasan Pekanbaru, keberadaan tol ini diharapkan mampu mengurai kepadatan lalu lintas di dalam kota.
Selain itu, jalur tersebut akan mempercepat mobilitas logistik, distribusi barang, serta pergerakan masyarakat antarwilayah, baik menuju kawasan industri, pelabuhan, maupun pusat ekonomi lainnya.
Tidak hanya mengejar percepatan pembangunan, HKI menegaskan komitmennya terhadap kualitas pekerjaan dan keselamatan kerja.
Dalam pelaksanaan proyek Tol Lingkar Pekanbaru, HKI menerapkan dua program unggulan QHSSE (Quality, Health, Safety, Security, and Environment), yakni QHSSE Plan dan QHSSE Pass.
QHSSE Plan berfungsi memastikan seluruh material yang digunakan serta metode kerja yang diterapkan telah sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan.
Sementara itu, QHSSE Pass digunakan sebagai tahapan verifikasi untuk memastikan setiap pekerjaan yang telah diselesaikan memenuhi aspek kualitas dan keselamatan sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya.
“Keselamatan pekerja dan mutu pekerjaan adalah komitmen kami dalam setiap proyek yang kami jalankan,” tegas Aditya.
Lebih lanjut, HKI juga mengintegrasikan sistem manajemen mutu serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang mengacu pada standar nasional maupun internasional.
Langkah tersebut diambil guna memastikan proyek berjalan optimal dari sisi mutu, waktu, dan biaya, sekaligus menekan potensi risiko kecelakaan kerja dengan target zero fatality.
Dari sisi keberlanjutan, penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) menjadi perhatian utama dalam pembangunan Tol Lingkar Pekanbaru.
Salah satu bentuk implementasinya terlihat pada pembangunan Jembatan Siak yang menjadi bagian penting dari trase tol.
Jembatan Siak dibangun menggunakan metode balance cantilever tanpa pilar penyangga di bawah jembatan.
Metode ini dipilih untuk menjaga kelestarian ekosistem Sungai Siak, sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan perairan dan aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Selain itu, HKI juga menerapkan teknik pencabutan pohon pada area terdampak pembangunan.
Pohon-pohon tersebut tidak ditebang secara permanen, melainkan ditanam kembali di lokasi lain sebagai upaya menjaga ruang terbuka hijau dan mendukung pelestarian lingkungan.
“Kami berkomitmen tidak hanya menghasilkan konstruksi yang berkualitas, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan. Integrasi prinsip ESG kami harapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi Riau dan menjadi contoh pembangunan infrastruktur yang bertanggung jawab,” tambah Aditya.
Keberadaan Tol Lingkar Pekanbaru diyakini akan membawa dampak besar bagi perekonomian daerah.
Infrastruktur ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing wilayah, mempercepat arus investasi, serta mendorong pertumbuhan sektor industri, perdagangan, dan pariwisata di Riau.
Dengan progres yang telah menembus lebih dari 70 persen, HKI memastikan pembangunan Tol Lingkar Pekanbaru terus berjalan sesuai target.
Seluruh tahapan proyek akan tetap mengedepankan aspek keselamatan, kualitas konstruksi, serta keberlanjutan lingkungan, demi menghadirkan infrastruktur yang bermanfaat jangka panjang bagi masyarakat dan pembangunan Sumatra secara keseluruhan. (*)
Editor : Ali Sodiqin