
BUKAN yang pertama, memang. Tapi sangat layak masuk dalam sejarah. Terkhusus, tercatat di lembaran buku sejarah perkembangan seni Bumi Blambangan. Dengan redaksi, lebih kurang, begini: Pada 2 Mei 2026, bertempat lapangan Taman Blambangan, Banyuwangi, sebanyak 1.060 anak Banyuwangi tampil dalam pergelaran Kuntulan Ewon. Aksi mereka memukau Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu’ti MEd.
Catatan sejarah semacam itu sangat penting. Selain sebagai penanda perjalanan sebuah peradaban, juga akan berguna bagi generasi mendatang. Terutama anak-anak Kota Gandrung Banyuwangi yang punya DNA seni. Tidak seperti generasi seniman sekarang. Mereka kesulitan melacak catatan sejarah perjalanan dan perkembangan seni musik dan tari tanah kelahirannya. Kalau akhirnya berhasil mendapatkannya, bukan dari sumber tunggal. Melainkan dari beberapa versi. Karena sudah bias oleh tafsir masing-masing penulisnya. Sejarah gandrung, misalnya.
Lalu kenapa Kuntulan Ewon layak dicatat dalam sejarah seni Banyuwangi. Karena itu merupakan pergelaran kolosal seni hadrah kuntulan pertama di kota Welas Asih Banyuwangi, yang dimainkan oleh anak-anak. Sebelumnya memang pernah ada pergelaran hadrah kolosal. Tepatnya pada 9 Januari 2023. Kebetulan, saya dipercaya untuk menyiapkan persembahan khusus dalam Festival Tradisi Islam Nusantara (FTIN) menyambut peringatan Satu Abad NU.
Permintaan panitia dari PB NU, saat itu, sangat jelas dan tegas: harus kolosal! Sebab Presiden Joko Widodo akan menyaksikan secara langsung pergelaran di stadion Diponegoro, Banyuwangi, itu.
Segera saya kumpulkan beberapa seniman musik, tari, dan koreografer terbaik Banyuwangi: Moch Ikwan, Moch Pungki Hartono, Adlin, Gilang Ramadhani, Jajulaidik, dan Yon DD, serta beberapa seniman lainnya. Saya sampaikan ide besarnya. Lalu mereka terjemahkan. Setelah minta pergelarannya menampilkan 1.000 penerbang plus penari. Akhirnya sepakat. Meski tidak mudah mencari dan mengumpulkan setidaknya 500 pemain terbang. Harus senior dan bagus pukulan timpalannya.
Setelah susah payah mencari, akhirnya dapat juga. Giliran penari ada kendala. Mengumpulkan penari kundaran profesional 500 orang ternyata tidak mudah. Secara spontan saya sampaikan solusi: “Kita pakai teman-teman Banser dan pesilat Pagar Nusa”.
Teman-teman koreografer bingung. Bagaimana caranya mengajari menari para sahabat Banser dan Pagar Nusa. Mereka kan bukan penari. Kebingungan juga dialami oleh ratusan anggota Banser dan Pagar Nusa yang datang di lokasi Latihan, aula masjid Chenghoo.
“Maaf, kami tidak bisa menari,” kata mereka.
Saya minta mereka menunjukkan gerakan senam atau baris berbaris Banser yang dikuasainya. Mereka langsung mempraktikkannya.
“Nah, sampean-sampean menarinya seperti itu saja. Gerakan-gerakan dasar baris dan senam Banser,” kata saya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




