RADARBANYUWANGI.ID - Jalan Tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi atau Tol Prosiwangi bukan sekadar proyek penghubung antarkota.
Kehadirannya diproyeksikan mengubah wajah wilayah-wilayah yang selama ini bergantung pada jalur Pantura, khususnya deretan kecamatan strategis di Kabupaten Situbondo yang akan dilewati langsung oleh jalan tol tersebut.
Dengan beroperasinya Tol Prosiwangi, waktu tempuh Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi yang sebelumnya bisa mencapai lima jam akan terpangkas menjadi sekitar dua jam.
Dampak terbesarnya dirasakan langsung oleh kecamatan-kecamatan yang kini berada di koridor utama tol.
Banyuglugur–Besuki, Gerbang Barat Situbondo
Wilayah Banyuglugur dan Besuki menjadi pintu masuk utama Tol Prosiwangi dari arah barat. Dua kecamatan ini diproyeksikan berkembang sebagai kawasan logistik dan simpul distribusi baru.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyebut Banyuglugur memiliki posisi strategis karena menjadi titik pertemuan akses tol dengan jalan kabupaten yang menghubungkan kawasan pegunungan dan pesisir.
“Banyuglugur dan Besuki akan menjadi wajah baru gerbang Situbondo. Ini peluang besar bagi perdagangan dan jasa,” ujarnya saat meninjau proyek tol.
Suboh, Mlandingan, Bungatan: Jalur Tengah Penopang Industri
Bergerak ke tengah, Tol Prosiwangi melintasi Suboh, Mlandingan, dan Bungatan.
Selama ini wilayah tersebut dikenal sebagai kawasan pertanian dan perikanan.
Dengan kehadiran tol, distribusi hasil pertanian dan laut dari wilayah ini menuju Probolinggo, Surabaya, hingga Banyuwangi dipastikan semakin efisien.
Pemerintah daerah menilai kawasan ini berpotensi berkembang menjadi sentra industri pengolahan hasil bumi dan perikanan.
Kendit–Panarukan, Akses Pelabuhan dan Jalur Pantura
Kecamatan Kendit dan Panarukan menjadi titik penting karena berdekatan langsung dengan jalur Pantura serta kawasan pelabuhan.
Tol Prosiwangi diharapkan mampu mengurai kepadatan lalu lintas Pantura yang kerap terjadi di wilayah ini, sekaligus mempercepat pergerakan logistik menuju dan dari kawasan pesisir utara Situbondo.
Kota Situbondo–Panji, Nadi Ekonomi Perkotaan
Masuk wilayah perkotaan, tol melintasi Kota Situbondo dan Panji. Dua kecamatan ini diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, terutama sektor perdagangan, jasa, dan UMKM.
Akses tol akan memangkas waktu distribusi barang dan meningkatkan mobilitas masyarakat, sehingga aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan diperkirakan meningkat signifikan.
Kapongan–Arjasa–Jangkar, Penggerak Kawasan Timur
Di sisi timur Situbondo, Tol Prosiwangi melintasi Kapongan, Arjasa, dan Jangkar.
Kawasan ini dinilai strategis karena menjadi penghubung menuju kawasan wisata dan industri perikanan.
Kecamatan Jangkar, yang selama ini dikenal sebagai jalur penyeberangan ke Madura, diprediksi akan berkembang sebagai simpul transportasi regional.
Asembagus–Banyuputih, Gerbang ke Banyuwangi
Wilayah Asembagus dan Banyuputih menjadi penghubung langsung Situbondo dengan Banyuwangi.
Pemerintah daerah menilai dua kecamatan ini akan menjadi koridor ekonomi baru yang menghubungkan sektor pertanian, pariwisata, dan logistik antarwilayah Tapal Kuda.
Tak hanya itu, kecamatan Mangaran dan Sumbermalang juga ikut terdampak positif melalui peningkatan akses jalan penghubung ke pintu tol.
Sinergi Tol dan Jalan Daerah
Bupati Rio menegaskan pembangunan tol harus disertai peningkatan jalan kabupaten dan akses desa, agar manfaatnya tidak hanya dinikmati kawasan sekitar gerbang tol.
“Kecamatan-kecamatan yang dilalui tol ini harus kita siapkan. Infrastruktur lokal, UMKM, dan tata ruang harus disinergikan,” tegasnya.
Pusat Pertumbuhan Baru Tapal Kuda
Dengan nilai investasi mencapai Rp21 triliun dan total panjang 175,4 kilometer, Tol Prosiwangi diyakini menjadi pemantik lahirnya pusat-pusat pertumbuhan baru di Situbondo dan kawasan Tapal Kuda.
Banyuglugur hingga Banyuputih tak lagi sekadar jalur lintasan, tetapi diproyeksikan menjelma menjadi kawasan strategis baru yang menopang ekonomi Jawa Timur bagian timur.
Tol Prosiwangi pun bukan hanya memangkas jarak, tetapi membuka babak baru pembangunan berbasis wilayah di Situbondo. (*)
Editor : Ali Sodiqin