Dia ditemukan dalam kondisi terkubur bersama boneka kesayangannya didalam tanah sedalam lebih kurang 50 cm. Yang bikin publik terpukul, pelaku aksi kejam terhadap gadis belia ini tidak lain adalah ibu angkatnya sendiri, Magriet Megawe.
Engeline sendiri sejatinya merupakan anak dari pasangan Hamidah dan Achmad Rosyidi. Korban diadopsi oleh Margriet Megawe, warga Denpasar, Bali, pada 21 Mei 2007. Engeline sendiri lahir pada tanggal 19 Mei 2007 di sebuah klinik di daerah Canggu, Bali.
Saat melahirkan Engeline, kedua orang tuanya tidak sanggup melunasi biaya persalinannya ke klinik. Dalam situasi serba sulit tersebut, akhirnya munculah Margriet Christina Megawe yang menawarkan bantuan.
Dia menawarkan melunasi biaya persalinan sekaligus bermaksud untuk mengadopsi bayinya. Saat itu, Margriet ditemani suaminya Douglas Scarborough.
Untuk keperluan persalinan Hamidah Margriet mengeluarkan dana sekitar Rp 1,8 juta, dengan rincian biaya persalinan Rp 800 ribu dan biaya perawatan Hamidah Rp 1 juta. Setelah tiga hari setelah lahir, Engeline langsung dibawa oleh Margriet dan tidak pernah bertemu lagi dengan kedua orangtuanya.
Saat lahir, bayi ini belum diberi nama oleh Hamidah. Nama Engeline sendiri diberikan oleh Margriet. Nama itu seperti identitas keluarga dimana mengikuti nama depan ibunya atau nenek angkat Engeline.
Dalam aturan adopsi yang disekapati kedua pihak, orang tua kandung baru bisa menemui Engeline saat sudah berusia 18 tahun. Dari sanalah awal kehidupan Engeline bersama keluarga barunya.
Saat balita hingga berusia 8 tahun, Engeline tidur satu kamar dengan ibu angkatnya itu. Dalam pekarangan rumah tempat tinggalnya, Magriet memiliki asisten rumah tangga bernama Agus Tay, Susiana dan Rahmad Handoko.
Petaka yang dialami Engeline terjadi sekira 16 Mei 2015. Saat itu gadis malang ini dikabarkan keluarganya hilang sejak tiga hari. Untuk mencarinya, salah satu kakak angkat korban, Yvonne dan Christina mencoba meminta bantuan polisi dengan melaporkan ke Polresta Denpasar.
Bahkan kehilangan Engline sempat viral di jagat media sosial dengan tajuk 'Find Angeline-Bali's Missing Child' pada 17 Mei 2015. Di akun tersebut, beberapa foto aktivitas Engeline diunggah disana.
Publik pun menuai simpati. Sukarelawan pun mulai mencari keberadaan Engeline. Bahkan tim gabungan dari Polresta Denpasar, Polda Bali, dan Polsek Sanur melacak Engeline ke seantero Kota Denpasar hingga wilayah Banyuwangi, pada 18 hingga19 Mei 2015.
Namun akhirnya jejak hilangnya Engeline akhirnya mulai terendus. Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turun tangan. Tim ini menyambangi rumah korban pada 25 Mei 2015.
Dari sana dia menyimpulkan awal bila Engeline tinggal di rumah yang tak layak huni. Bahkan KPAI sempat hendak mengambil alih sementara hak asuh Engeline. Hal itu sontak membuat Margriet murka.
Dia kemudian melarang siapa pun merebut Engeline yang disayanginya itu. Bahkan, Margriet menolak bertemu dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise kala itu saat ketika mengunjungi rumahnya pada 5 hingga 6 Juni 2015.
Disinilah awal ketidakberesan di rumah Magriet mulai tercium. P2TP2A curiga Engeline tidak hilang diculik atau diambil orang, tapi dibunuh dan telah dikubur.
Melihat sikap Margriet yang janggal dan tidak koopetatif semakin membuat curiga. Bahkan saat petugas meminta untuk memeriksa sebuah ruangan khusus, Margriet selalu tak mengizinkannya.
Disana petugas sempat mencurigai aroma tidak sedap dan kejanggalan lain. Namun aroma itu tersamarkan oleh bau kotoran ayam yang ada di sekitar lokasi.
Pencarian akhirnya dihentikan saat polisi menemukan Engeline sudah menjadi mayat dan terkubur di halaman belakang rumahnya pada 10 Juni 2015.
Jasadnya sudah rusak. Dari hasil autopsi jenazah Engeline diketahui bila bocah malang ini mengalami penganiayaan cukup berat. Luka-luka memar di wajah, leher, serta anggota gerak atas dan bawah.
Di punggungnya ditemukan luka bekas sundutan rokok. Ditemukan juga luka bekas lilitan tali plastik sebanyak empat lilitan. Penyebab kematian dipastikan kekerasan benda tumpul pada wajah dan kepala yang mengakibatkan pendarahan pada otak.
Dari penyelidikan maraton, diketahui bila pelaku utama pembunuhan Engeline adalah ibu angkatnya sendiri. Aksinya dibantu Agus Tay. Margriet ditetapkan sebagai tersangka setelah polisi menemukan tiga alat bukti, yaitu pengakuan Agus Tay, hasil analisis laboratorium forensik, dan petunjuk di tempat kejadian.(*)