Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Belerang Dipakai untuk Bahan Pestisida hingga Kosmetik

Ali Sodiqin • Kamis, 16 Desember 2021 | 14:00 WIB
belerang-dipakai-untuk-bahan-pestisida-hingga-kosmetik
belerang-dipakai-untuk-bahan-pestisida-hingga-kosmetik


BERWUJUD bongkahan padat. Berwarna kuning. Baunya menyengat. Masyarakat umum menyebut unsur kimia yang berasal dari gunung berapi ini dengan nama belerang. Ada juga yang menyebutnya sulfur.



Dari aromanya yang menyengat, belerang merupakan salah satu unsur yang punya peran penting dalam kehidupan. Salah satu contoh penggunaan umum belerang adalah di bidang pertanian. Sulfur digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan pupuk sulfat dan fosfat untuk menunjang pertumbuhan tanaman, insektisida alias pestisida untuk membunuh serangga, dan fungisida alias pestisida yang secara spesifik berguna untuk membunuh atau menghambat jamur alias cendawan penyebab penyakit.



Selain di dunia pertanian, belerang juga memiliki manfaat untuk kesehatan tubuh manusia. Bahkan, mineral satu ini sudah sejak lama digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan.



Dalam dunia farmasi, belerang sudah lama digunakan untuk mengatasi beberapa masalah kulit, seperti membunuh bakteri, jamur, dan parasit penyebab penyakit kulit. Selain itu, belerang dipercaya bisa mengatasi jerawat dengan cara mengatasi penyumbatan pada pori-pori kulit. Tak heran, di pasaran kita dapat menjumpai sabun mandi, krim, atau lotion yang salah satu bahan bakunya adalah belerang.



Sementara itu, masyarakat Banyuwangi boleh bangga. Kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini merupakan salah satu produsen belerang terbesar di tanah air. Maklum, sebagaimana dirilis di laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), salah satu gunung berapi ada di Banyuwangi, yakni Gunung Kawah Ijen, menghasilkan belerang dengan jumlah yang tiada tara.



Dalam artikel yang dilansir di situs Kementerian ESDM itu juga disebutkan, sedikitnya 14 ton belerang setiap hari berhasil ditambang. Sedangkan analisis BPPTK, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan, nilai tersebut hanya sekitar 20 persen dari potensi yang sesungguhnya yang disediakan oleh alam.



Kendala utama penyebab minimnya hasil yang diperoleh adalah medan yang sulit dan teknologi. Penambang menggunakan cara yang sangat sederhana untuk ”menangkap” dan mengangkut belerang. Mereka memasang pipa yang terbuat dari besi (pawon) berdiameter 16 sampai 20 centimeter. Setiap pipa panjangnya 1 meter agar mudah memasang dan menggantinya jika rusak. Pipa tersebut dipasang sambung menyambung mulai dari tebing atas di mana titik sulfatara yang suhunya mencapai ratusan derajat Celcius sekaligus sebagai sumber belerang hingga dasar tebing yang jauhnya antara 50 sampai 150 m. Melalui pipa tersebut gas belerang dialirkan kemudian tersublimasi di ujung pipa bagian bawah dan siap ditambang.



Salah satu penambang belerang, Misnan mengatakan, dalam sehari dirinya bisa ”mendulang” dan mengangkut sekitar 150 sampai 200 kilogram belerang. Belerang yang didapat di sekitar kawah itu lantas diangkut ke puncak, lalu disetor ke lokasi penimbangan belerang yang berlokasi tidak jauh dari Pos Paltuding. ”Harga belerang di sini, per kilogram sebesar Rp 1.250,” ujarnya.



Misnan mengaku, selain diangkut sendiri, tidak jarang dia bekerja sama dengan rekannya sesama penambang. Belerang tersebut diangkut secara bersama-sama menggunakan semacam gerobak. ”Agar hasilnya lebih banyak,” pungkasnya. 


Editor : Ali Sodiqin
#gunung raung #pertanian