Jiwa boleh terpisah dengan raga. Namun, sepak terjang dan jasa Mozes Misdy, masih terus dikenang banyak orang. Betapa tidak, tangan dingin” perupa berjuluk “Mutiara dari Timur” ini telah mengharumkan nama Banyuwangi di dunia seni lukis. Tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di kancah internasional.
SIGIT HARIYADI, Kalipuro
MAESTRO seni lukis asal Banyuwangi, Mozes Misdy, memang telah berpulang. Pelopor seni lukis menggunakan pisau palet tersebut menghadap Sang Khalik pada 31 Januari lalu.
Ungkapan duka pun mengalir deras. Dari berbagai kalangan. Mulai pejabat, pesohor negeri, hingga kalangan seniman dan budayawan. Tidak terkecuali dari Bupati Abdullah Azwar Anas. Di hari kepergian Mozes, orang nomor satu di lingkup Pemkab Banyuwangi itu menyatakan bela sungkawa dengan mengirimkan karangan bunga ke rumah duka di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro.
Rupanya ungkapan bela sungkawa dari Anas belum cukup diwujudkan dengan mengirim karangan bunga. Buktinya, Anas hadir langsung pada selamatan tujuh hari meninggalnya pelukis yang telah berkali-kali menggelar pameran tunggal di berbagai belahan dunia tersebut pada Jumat malam (5/2).
Atas nama pribadi dan sebagai bupati Anas menyampaikan rasa belasungkawa atas wafatnya Mozes Misdy. Menurut Anas, Mozes adalah sosok seniman yang layak diteladani. “Almarhum (Mozes) adalah sosok tangguh, pekerja keras, dan tidak mudah menyerah,” ujarnya.
Selain itu, kata Anas, meskipuun karya-karyanya telah mendunia, Mozes tetap rendah hati dan tidak pelit ilmu. “Bahkan, di usia yang sudah tidak muda lagi, beliau masih aktif membina para pelukis Banyuwangi. Kami berterima kasih atas jasa beliau,” kata Anas.
Sudah bukan rahasia bahwa Mozes adalah salah satu pelukis Banyuwangi yang diperhitungkan di kancah nasional dan internasional. Tak terhitung banyaknya pejabat tinggi negara yang memiliki koleksi lukisan Moses. Mulai Presiden RI yang kelima Megawati Sukarnoputri, para menteri, hingga pejabat tinggi militer tanah air.
Bahkan, beberapa kali dia mengadakan pameran tunggal di luar negeri. Seperti di Kuala Lumpur, Malaysia sekitar tahun 1969; Darwin, Perth, dan Casaurina, Australia; Bangkok, Thailand; dan sejumlah negara lain. Yang menarik, pameran tunggal di Malaysia, itu sukses digelar dengan hanya bermodal 5 dollar AS.
Ya, Mozes adalah maestro seni lukis dengan teknik pisau palet. Berawal dari kegemaran melukis sejak masih kanak-kanak, dia mempelajari seni lukis secara otodidak. Dalam suatu kesempatan, Mozes mengatakan dirinya melukis dengan rasa ikhlas dan tulus. Sebab, dunia lukis itu merupakan kodratnya.
Tak heran, banyak pihak mengagumi Mozes. Salah satunya Jenderal TNI Purnawirawan Djoko Santoso. Dalam sambutannya pada ajang pameran tunggal Mozes Misdy beberapa tahun lalu, Djoko mengatakan bahwa Mozes adalah maestro yang terbentuk dari tempaan alam yang luar biasa. “Tekadnya menjadi seorang pelukis otodidak disempurnakan oleh talenta yang sudah ia miliki,” ujarnya.
Sementara itu, rasa kehilangan juga diungkapkan salah satu seniman senior Banyuwangi S. Yadi K. Dia mengatakan, dirinya dan para pelukis Banyuwangi sangat kehilangan. “Beliau adalah maestro di Banyuwangi dan Indonesia. Pak Moses adalah penyemangat kami, para pelukis, untuk eksis dan berkarya lebih jauh lagi,” ujarnya.
Yadi mengaku dirinya sangat meneladani Moses. Selain merupakan pelukis andal, Moses adalah pelukis yang tidak pelit ilmu. “Banyak pelukis menimba ilmu ke beliau,” tuturnya. Bukan itu saja, kata Yadi, tidak sedikit yang lantaran kagum atas sosok Moses mencontoh lukisan maestro yang dikenal sengan sabetan pisau paletnya tersebut. Baik dari segi teknik maupun gagasan. “Hasil mencontoh teknik dan gagasan beliau itu mampu menghidupi pelukis-peluki lain. Bukan hanya pelukis Banyuwangi, tetapi berbagai daerah, mulai Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Tegal, banyak pelukis yang mengikuti aliran beliau. Dari sana bisa hidup. Untuk menjadi pelukis kan harus ada yang dicontoh dahulu. Setelah itu dikembangkan,” kata dia.
Kepergian Mozes juga dirasakan kalangan seniman Banyuwangi. Mereka memperingati tujuh hari meninggalnya sang maestro di Langgar Art, Perumahan Griya Wiyata, Kelurahan Tukangkayu, Banyuwangi, Sabtu (6/2). Kapolresta Banyuwangi Komberpol Arman Asmara Syarifuddin, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) M. Rowi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dibudpar) M. Yanuarto Bramuda, owner Langgar Art Imam Maskun, putra-putri Mozes, serta sejumlah seniman Bumi Blambangan.
Peringatan tujuh hari wafatnya Mozes di Langgar Art diawali khataman Alquran yang dilanjutkan kegiatan melukis bersama. Satu per satu perupa menggoreskan kuas di atas kanvas. Bukan itu saja, acara juga dirangkai penyerahan santunan anak yatim dan penyerahan secara simbolis lukisan karya pelukis Banyuwangi style Mozesisme kepada Pemkab Banyuwangi.
Kapolresta Arman mengatakan, peringatan tujuh hari wafatnya Mozes Misdy tersebut sekaligus ungkapan syukur atas ilmu dan pelajaran yang telah diberikan kepada seniman dan masyarakat Banyuwangi. “Almarhum Pak Mozes adalah teladan bagi para seniman Banyuwangi. Beliau juga telah member semangat kepada seniman untuk terus berkarya dalam kondisi apa pun,” ujarnya.
Kepala Disbudpar Bramuda menambahkan, lukisan yang diberikan oleh para seniman kepada Pemkab Banyuwangi dalam rangka memperingati tujuh hari wafatnya Mozes Misdy akan diabadikan di Museum Blambangan. “Agar kita semua dapat mengenang Pak Mozes Misdy dan agar para pemuda Banyuwangi mengetahui Banyuwangi pernah memiliki pelukis hebat di kancah Nasional,” kata dia.
Owner Langgar Art Imam Maskun mengatakan peringatan tujuh hari meninggalnya master pisau palet (sebutan Mozes Misdy) diharapkan bisa membangkitkan semangat perupa Banyuwangi. Selain itu, seniman Banyuwangi harus tetap kompak dan guyub sebagaimana pesan Mozes Misdy sebelum meninggal dunia. “Beliau juga berharap para perupa Banyuwangi dapat meneruskan aliran lukisan ekpresionis Mozesisme yang secara langsung dapat membawa seni rupa Banyuwangi ke kancah Nasional,” kata Imam dibenarkan anak didik Mozes, Windu Pamor.
Mozes Misdy berpulang pada usia 84 tahun setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Islam (RSI) Fatimah. Bapak Sembilan anak itu dimakamkan di TPU Dusun Lidah, Desa Gambiran. Sesuai permintaan yang disampaikan jauh hari sebelum meninggal, jasad Mozes dikebumikan tepat di samping makam almarhumah ibundanya. Beristirahatlah dengan tenang, maestro yang tak pelit ilmu. (aif)