RadarBanyuwangi.id – Nyawa menjadi taruhan bagi anak logam (para penyelam yang mencari uang receh) di kawasan Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.
Sejarah kelam para anak logam itu terjadi pada tahun 2005 silam. Saat itu, seorang anak berusia 16 tahun harus kehilangan nyawa usai berusaha mengambil uang yang dilempar penumpang kapal.
Anak logam itu bernama Nasiyono, warga Kampung Baru, Kelurahan Bulusan, Kalipuro, Banyuwangi. Begini cerita lengkapnya:
Peristiwa memilukan bagi anak logam itu terjadi pada tangga 2 Agustus 2005 lalu.
Hilangnya Nasiyono saat menyelam untuk mengais kepingan uang recehan itu, tentu saja membuat warga yang berada di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi mendadak heboh.
Tidak hanya itu saja, puluhan anak logam yang biasanya terlihat bercengkrama sambil berenang di bawah lalu lalang kapal menjadi sepi.
Rata-rata mereka mengaku takut setelah melihat rekannya mendadak hilang dan ditemukan meninggal dunia.
Hilangnya remaja yang sehari-harinya dikenal sebagai peselam uang recehan itu berawal ketika korban menyelam mencari uang recehan.
Uang itu dilemparkan dari para penumpang KMP Pratita yang akan sandar di dermaga ponton III Pelabuhan Ketapang, pukul 11.00 WIB tanggal 2 Agustus 2005.
Kondisi arus di lintas Ketapang-Gilimanuk saat itu berada dalam kondisi air surut dan ombak besar, korban yang asyik menyelam mendadak tak muncul.
Saat berenang, korban memang tidak sendirian melainkan bersama empat peselam lainnya.
Diduga penyakit epilepsinya kumat, korban mendadak tak muncul dan tenggelam begitu saja.
Melihat korban ditunggu tak kunjung muncul, teman-teman lainnya mulai cemas. Tak hanya itu saja. Mereka langsung melapor ke petugas KPPP Pelabuhan Ketapang.
Mendapat laporan itu, petugas KPPP bersama TNI AL, Satpol Airud dan KPLP Pelabuhan Ketapang bergerak cepat.
Tim SAR gabungan langsung melakukan penyisiran di sekitar tenggelamnya korban. Meski sudah dilakukan pencarian sejak pukul 11.00 hingga sore, korban masih belum ditemukan.
Untuk mengorek informasi lebih dalam, rekan-rekan korban yang juga anak logam dimintai keterangan oleh petugas.
Tidak hanya itu saja, sepeda BMX warna silver, pakaian dan celana milik korban juga diamankan sebagai barang bukti.
Dari keterangan tersebut, diduga korban memiliki menyakit epilepsi. Mungkin pada saat menyelam tiba-tiba penyakitnya itu kambuh.
Orang tua korban, Masliyah dan Matnawi, juga ikut mencari. Bahkan, ibu korban sempat tak sadarkan diri.
Rumah korban yang terletak di tengah tegalan, dipenuhi warga sekitar yang ikut memberikan bela sungkawa.
Pengakuan Matnawi, orang tua korban, sebelum berangkat menyelam di Pelabuhan Ketapang, korban sudah diingatkan agar tidak usah menyelam.
Namun peringatan itu ternyata tidak digubris oleh korban. Firasat tewasnya korban tampaknya memang sudah dirasakan orang tuanya.
Beberapa hari sebelum kejadian, Matnawi mengaku bermimpi menyembelih seekor kucing. “Bapak memang mimpi menyembelih kucing,” ujar Nuraini, kakak korban.
Korban akhirnya ditemukan oleh tim SAR mengambang sudah meninggal dunia tak jauh dari Pelabuhan Ketapang.
Semoga peristiwa kelam anak logam pada tahun 2005 tersebut membuat anak-anak logam lebih berhati-hati dalam menyelam. (*)
Editor : Ali Sodiqin