Festival kopi rutin digelar setiap tahun oleh Pemkab Banyuwangi di wilayah sentra kopi. Kali ini, festival kopi digelar di dua desa sentra kopi di wilayah Kecamatan Kalibaru, yakni Desa Kalibaru Manis dan Desa Kebunrejo.
Festival yang digelar sejak Kamis (1/8) sampai Sabtu (3/8) tersebut diisi berbagai kegiatan. Selain pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ada juga sesi public cupping. Sebanyak 13 sampel kopi arabika dan robusta dari petani lokal dinilai oleh para ahli.
Bukan itu saja, ada pula diskusi publik membahas berbagai topik terkait pengembangan kopi di Kalibaru, strategi pemasaran, serta upaya peningkatan kualitas dan daya saing kopi lokal.
Diskusi sebagai upaya penguatan literasi tentang kopi ini diikuti para petani kopi, pelaku UMKM, serta ahli kopi.
Bupati Ipuk Fiestiandani yang hadir langsung pada Festival Kopi Rakyat menuturkan, lewat kegiatan tersebut dirinya berharap identitas dan brand kopi Banyuwangi semakin kuat. ”Sehingga, peluang petani rakyat mendapatkan pasar juga makin terbuka,” ujarnya.
Ipuk mengatakan, total luas perkebunan kopi di Kecamatan Kalibaru saat ini mencapai 3.847 hektare (ha) yang didominasi oleh tanaman kopi jenis robusta. Rata-rata produksinya mencapai 4.256 ton per tahun.
Sedangkan total luas perkebunan kopi rakyat di Banyuwangi mencapai 9.778 ha dengan jumlah produksi kopi rakyat mencapai 10.600 ton per tahun.
”Dengan jumlah produksi kopi rakyat yang cukup besar, apabila pemasarannya dimaksimalkan, maka bisa memberikan kesejahteraan yang maksimal bagi petani. Semoga festival ini memperluas pasar kopi Banyuwangi,” ujar Ipuk.
Pemkab telah mendaftarkan kopi robusta Banyuwangi untuk mendapatkan indeks geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dengan brand Kopi Robusta Java Banyuwangi.
”Tidak lama lagi kopi Banyuwangi akan memiliki legalitas IG yang menjadi dasar legalitas kopi Banyuwangi sebagai perlindungan terhadap keotentikan kopi robusta Banyuwangi,” kata Ipuk.
Pada festival itu Bupati Ipuk berkesempatan mencicipi aneka cita rasa kopi hasil pemrosesan dari para pegiat kopi lokal. Salah satunya adalah kopi dengan merek X-Baroe yang dikelola oleh Muchamad Shodiq, petani sekaligus pegiat kopi muda Kalibaru.
”Kami tergabung di kelompok tani dengan luasan lahan sekitar 15 ha. Kami melakukan penanaman sekaligus pemrosesan kopi hingga melakukan pemasaran sendiri,” kata Shodiq.
Shodiq merupakan salah satu petani muda yang mendapatkan pelatihan menanam kopi dari Pemkab Banyuwangi. Pelatihan digelar oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember.
”Alhamdulillah, kami dapat ilmu menanam dan memproses kopi yang baik dari hulu ke hilir. Melalui festival ini, harapan kami semakin memperluas pemasaran kopi Kalibaru,” pungkasnya. (tar/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries