Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Efek Global Warming di Brazil, Katrol Harga Kopi Kalibaru Banyuwangi: Petani Sumringah, Biji Kopi Super Dibanderol Rp 74 Ribu per Kg

Gareta Yoga Eka Wardani • Selasa, 16 Juli 2024 | 04:57 WIB
PANAS: Moh Lutfi menjemur biji kopi di pekarangan rumahnya di Dusun Karang Bangkalan, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru Senin (15/7).
PANAS: Moh Lutfi menjemur biji kopi di pekarangan rumahnya di Dusun Karang Bangkalan, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru Senin (15/7).

Radarbanyuwangi.id - Para petani di wilayah Kecamatan Kalibaru yang menanam kopi sumringah. Saat ini, harga kopi arabika naik. Kopi dengan kualitas super harganya Rp 74 ribu per kilogram, sementara yang lebih super mencapai Rp 75 ribu per kilogram.

Padahal harga kopi kualitas super biasanya hanya Rp 60  ribu per kilogram. Sedang harga biji kopi biasa Rp 68 ribu per kilogram. “Harga kopi sekarang naik,” cetus salah satu petani kopi, Moh Lutfi, 23, asal Dusun Karang Bangkalan, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru.

Menurut Lutfi, kopi arabika Kalibaru dipanen setahun sekali, yakni pada Agustus, yang dikenal sebagai panen raya. Dalam sekali petik, petani bisa memperoleh hingga satu ton biji kopi merah per hektare. “Panen kami langsung dikirim ke Pasar Kalibaru, belum pernah mengirim ke luar kota,” ujarnya.

Lutfi menyampaikan, petani merasa senang dengan kenaikan harga kopi ini. Sebab, bisa meraih untung besar. Salah satu faktor yang menyebabkan harga kopi tinggi, jelas dia, kerusakan tanaman di Brazil. “Harga kopi naik, saat ini sudah untung besar. Di luar negeri tanaman kopi rusak akibat kepanasan, seperti di Brazil,” katanya.

Hanya saja, lanjut Lutfi, musim hujan menjadi kendala bagi petani kopi, karena dapat menyebabkan jamur pada biji kopi. Bila cuaca panas, proses pengeringan kopi hanya memakan waktu tiga hari. 

“Musim hujan dan tidak ada panas membuat kopi hitam, bisa dijual tapi harganya lebih murah. Kalau panasnya redup, bisanya kering lima hingga enam hari,” ungkapnya.

Petani kopi lainnya, Muslihin, 49, asal Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru mengatakan, di daerahnya petani kopi bermain di angka Rp 40 juta per hektare untuk kualitas kopi terbaik.

Kenaikan harga kopi ini, memberikan harapan baru bagi petani kopi di Kalibaru. Dan itu mendorong untuk terus meningkatkan kualitas dan produksi kopi arabika lokal. “Kalau kualitas biji kopi di bawahnya sekitar Rp 20 juta,” ucapnya.(rei/abi)

 

Editor : Niklaas Andries
#Petani #brazil #Per #biji kopi #kalibaru #global warming #Sumringah #Harga Kopi #banyuwangi #Super #Efek